
Wagimun gembrot orangnya gemblung. Mantan anak gaul gagal yang di-DO dari sekolah lantaran otaknya 'tung-tung' akut. 'Terjebak masa lalu' dengan fashion trend 80an. Celana begi dengan baju kedodoran boros kain. Dan masih suka muter lagu "Opo Jare Tikno" (Every Body Dance Now) milik C&C Factory yang ngetop di era itu. Pokoknya musik 80an abisss, dari boy band New Kids On My Cock sampai Nia Daniatun.
Manusia 'suku Jawa terakhir' yang polos, kolot , nggumunan dan logat bicaranya medok. Egaliter tapi juga Jawasentris, masih suka angon wedus, ngobong menyan atau ritual nenek moyang lainnya. Supel, pandai bergaul tapi kikuk kalau didekati cewek, ceplas ceplos, jujur tapi kentir dan suka mlintir. Mulutnya bak kompor gas dengan tabung 3 kilo subsidi pemerintah khusus untuk Raskin.
Bukan seorang jurnalis bukan pula penulis. Wagimun, pemuda sebuah dusun yang tak terlacak GPS. Seorang gaptek tapi ber-HP canggih cuman untuk telpon dan esemes. Dan tentu saja tujuan utamanya adalah urusan prestise. Motto hidupnya : "Gengsi atau mati". Manusia gengsi die hard yang rela jatuh bangun dan merugi. Monyet terlatih yang tangguh rela makan kerupuk asal bisa tetep beli pulsa.
"Hidup adalah perjuangan..!", kata Wagimun serius. Entah maksudnya apa, mungkin semacam perjuangan untuk tetap meneguhkan gengsi di atas segalanya.
Berkali-kali bikin akun Facebook dengan bantuan mbak Warnet. Nama akun terakhir yang dibuat : "Wagimun Olwis Cemungud chayank cmuachnya". Tapi karena selalu lupa password, Wagimun pun bikin akun baru lagi. Do'i tetap cemungud dan rai gedek minta bantuan mbak Warnet yang bernama Ana. Nama panjangnya Ana Dimana Anak Kambing Saya. Seorang cewek 'one man show' yang segala urusan di warnetnya diurus sendiri.
Okol lebih diandalkan daripada akal. Nggak heran kalau Wagimun mantan jawara silat. Sabuk hitam di perguruan silat Tapak Najis. Tapi belakangan Wagimun dipecat dari perguruan tersebut. Diduga keras karena sering bolos latihan. Akibat terjerumus kecanduan internet. Apalagi kalau sudah kesasar di situs tak senonoh memperlihatkan 'pergulatan' 2 jenis manusia bukan muhrim-nya.
"Preketek..ora urus!", umpat Wagimun melampiaskan emosi atas pemecatan dirinya. Do'i tetap enjoy browsing situs dewasa dengan kata kunci sekenanya : "Oh yess". Merujuk pada istilah 'oh yess, oh no, oh my god' yang identik dengan film dewasa.
Dipecat dari dunia persilatan bikin Wagimun melarat. Baginya silat nggak cuman hobi, tapi juga satu-satunya kerjaan yang bisa dia diambil. Akibatnya Wagimun pun nganggur nggur nggurr. Luntang lantung di kampung bikin linglung. Pikiran jadi gelap, kantong kering, uang tabungan lenyap. Darimana dapat duit untuk membiayai kehidupan gengsi yang terus mencubit. Oala Gustialloh paringono sabarr...
Pikiran gelap ditambah uang tak kunjung di dapat, membuat Wagimun jadi nekat. Dan akhirnya mengambil jalan pintas : Ngompas!
Malam itu, seperti juga malam-malam sebelumnya, Wagimun nongkrong di Warnetnya Ana Dimana Anak Kambing Saya. Saat jam sebelas saat Warnet akan tutup, keadaan mulai sepi, Wagimun pun mlipir mendekati Ana. Dengan muka ditekuk dan mata mendelik menirukan penjahat di film India "Rai Mhu Kapoor", Wagimun mendekati Ana.
"Mbak, satusewu keno, rongatusewu yo keno..! (seratus ribu boleh, duaratus ribu juga boleh)"
"Satusewu ndasmu njebluk..! Wedus! Berani-beraninya kamu ngompas aku...!"
"Kalau sampeyan nggak kasih...tak perkosa kowe!"
"Silahkan saja kalau berani..lha wong kamu itu diajak kenalan cewek saja plungkar plungker, kok sekarang mau memperkosa...edan piye!?"
Karena sudah terlanjur basah, Wagimun nekad menerkam dan mendekap Ana. Walaupun sudah meronta-ronta sekuat tenaga, Ana tak berdaya melawan dekapan mantan jawara silat itu. Dengan mulut disumpal kain lap, tangan dan kaki diikat sabuk, Ana diletakan begitu saja dilantai.
Wagimun sama sekali tidak melakukan perbuatan tak senonoh pada tubuh Ana yang semlohai itu. Karena sejak awal memang tak punya niat untuk memperkosa. Do'i malah menuju kasir dan sibuk ngacak-ngacak brankas. Ambil duit sebanyak-banyaknya dan kaburrr..
Setelah itu, pergilah Wagimun ke Pulau Sapudi, melarikan diri. Di sana dia bersenang-senang dengan hengpon terbaru yang canggih. Siangnya diisi dengan molor seharian, malamnya nongkrong di cafe sampai ayam jago berkokok membangunkan.
Polisi yang sudah mengendus jejak Wagimun sejak pelariannya 3 hari yang lalu, akhirnya berhasil menangkap dan menyeretnya ke kantor polisi. Saat ditangkap do'i sedang asyik bersantai ria di sebuah cafe doyong. Menikmati musik dangdut koplo dengan sebatang rokok 'Manugmu Blue' di tangan.
Ana yang tahu Wagimun telah tertangkap, mendatangi kantor polisi. Plak! tamparan sekuat tenaga ala Hulk langsung ditayangkan ke muka Wagimun saat Ana baru saja datang. Wagimun menunduk dan mengelus pipinya yang memerah.
"Dasar pekok..! kenapa saat itu kamu tinggalkan aku begitu saja...!?""
Karena sudah terlanjur basah, Wagimun nekad menerkam dan mendekap Ana. Walaupun sudah meronta-ronta sekuat tenaga, Ana tak berdaya melawan dekapan mantan jawara silat itu. Dengan mulut disumpal kain lap, tangan dan kaki diikat sabuk, Ana diletakan begitu saja dilantai.
Wagimun sama sekali tidak melakukan perbuatan tak senonoh pada tubuh Ana yang semlohai itu. Karena sejak awal memang tak punya niat untuk memperkosa. Do'i malah menuju kasir dan sibuk ngacak-ngacak brankas. Ambil duit sebanyak-banyaknya dan kaburrr..
Setelah itu, pergilah Wagimun ke Pulau Sapudi, melarikan diri. Di sana dia bersenang-senang dengan hengpon terbaru yang canggih. Siangnya diisi dengan molor seharian, malamnya nongkrong di cafe sampai ayam jago berkokok membangunkan.
Polisi yang sudah mengendus jejak Wagimun sejak pelariannya 3 hari yang lalu, akhirnya berhasil menangkap dan menyeretnya ke kantor polisi. Saat ditangkap do'i sedang asyik bersantai ria di sebuah cafe doyong. Menikmati musik dangdut koplo dengan sebatang rokok 'Manugmu Blue' di tangan.
Ana yang tahu Wagimun telah tertangkap, mendatangi kantor polisi. Plak! tamparan sekuat tenaga ala Hulk langsung ditayangkan ke muka Wagimun saat Ana baru saja datang. Wagimun menunduk dan mengelus pipinya yang memerah.
"Dasar pekok..! kenapa saat itu kamu tinggalkan aku begitu saja...!?""
"Sori mbak..saya terburu-buru, harus ngejar setoran..."
"Setoran ndiasmu!...tahu nggak, saat itu salahmu apa..!??"
"Tahu mbak...saya ngompas sampeyan..."
"Katrok..! Bukan itu....!"
"Lhooo...lha terus...? salah apa mbak...???"
"Salahmu adalah kamu nggak pandai membaca situasi ...."
"?? Membaca situasi piye to mbak...aku ora mudeng.."
"Padahal aku sudah menunggu sejak bertahun-tahun yang lalu...."
"Heh?? menunggu..?? aku tambah ora mudeng....!"
"Menunggu untuk bercinta dengan kamu..gembloeng!"
"Piye!!!?????%&*(&^%$@##$$%%!!"
Towengwengwengwengggggg.................
Oala ternyata selama ini Ana memendam rasa yang begitu dahsyat pada Wagimun pendekar dusun gaptek gemblung itu. Ternyata saat Ana meronta-ronta didekap sama Wagimun dulu itu cuma akting. Padahal sih..pengin! Semprul.
Cintah memang tak bisa diduga sodara-sodara setanah air. Fuiihh..mirip cerita sinetron "Babi yang Tertukar".
Begitulah kisah Wagimun menemukan cintah sejatinya, Ana Dimana Anak Kambing Saya. Syukur puji Tuhan ngAlhamdulillah, Wagimun nggak Tuna Asmara (Jomblo) lagi seperti dulu.
Begitulah kisah Wagimun menemukan cintah sejatinya, Ana Dimana Anak Kambing Saya. Syukur puji Tuhan ngAlhamdulillah, Wagimun nggak Tuna Asmara (Jomblo) lagi seperti dulu.
Sekian terima gaji.
(c) Robbi Gandamana, 10 Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar