Jumat, 21 Oktober 2016

Tuhan, Jadikan Aku Raja Tega

istimewa
Anakku, malam ini dan esok hari kau minum teh lagi. Maaf, ayah tak ada duit untuk beli susu instan sapi. Seseorang yang minta digambar wajahnya tempo hari, ternyata hanya bilang, "terima kasih."

Kau yang masih bayi harusnya dapat asupan banyak gizi, terpaksa malam ini harus gigit jari. Sedangkan ibumu menderita preeklamsia, tak sanggup memberimu ASI.

Anakku, kau boleh marah pada ayah tapi jangan pada dia. Ayah yakin, dia tidak mangkir, hanya tak tahu dan juga bukan tak punya hati. Dia hanya polos, kosong, belum terisi ilmu akan arti dan makna sebuah profesi.

Ayah tanggung semua marah, tangis dan cacimu, anakku. Karena ayahmu adalah ayah yang babak belur : terlalu ramah, berprasangka baik pada siapa saja, tak bisa menjawab pertanyaan "berapa?"

Ayah ikhlas nggak akan menagih, di dunia maupun di akhirat nanti. Semoga tidak juga malaikat dengan wajah ngeri : "Hai kau manusia, banyak meminta daripada memberi, tidak menghormati profesi, kerja keras seharian dibayar terima kasih!" Jdaarrr! Cemeti pun membelah dia punya peli.

Walau hanya dapat 'terimakasih', ayah bahagia. Karena membuat bahagia manusia, walau ayah sendiri bokek luar biasa. Tapi ayah akan tutup itu rapat dan tetap menyebar lelucon, kegembiraan, kemesraan di jagat maya, jadi badut medsos, seolah ayah adalah lelaki paling bahagia sedunia.

Tapi memang jangan pernah tunjukan kesusahamu pada publik, anakku. Ingat nasehat klasik : "Tertawalah, seisi dunia akan tertawa bersamamu. Jangan bersedih karena kau hanya akan bersedih sendirian.” Karena jarang ada teman yang mau diajak sedih, kebanyakan cuma basa-basi.

Dulu saat kau sakit, ayah tidak menyetatuskan itu pada publik di tembok ratapan. Biarlah hanya kita yang tahu dan rasakan. Jangan buat mereka repot dengan sumbangan. Ayah tak mau banyak hutang kebaikan.

Kau tahu anakku, ayah sudah berusaha dan selalu berdoa : "Tuhan, mohon jadikan aku raja tega, " tapi ayah malah dijadikan sinterklas. Ayah tak tahu apakah dengan itu maqam ayah akan naik kelas. Ah biarlah, yang ayah tahu semua kebaikan pasti akan Dia balas.

Kadang ayah ingin seperti pengusaha-pengusaha itu, yang bermain sebagai Tuhan. Seolah dia lah penentu hidup matinya karyawan. Begitu tega membayar murah para buruh dengan recehan. Buruh terpuruk, mau resign tak mampu bayar pinalti jutaan.

Oala Le, hidup memang kadang tak adil.

Malam ini, rasakan saja nikmat teh yang sesaat bisa mengenyangkan. Kau sedih karena minum teh membayangkan susu instan. Lupakan sejenak nikmatnya rasa vanilla, madu atau coklat susu, ayah tahu kamu pasti bisa bertahan.

Ayah berjajnji, besok atau lusa kamu akan minum susu nikmat dan bergizi. Semoga lain kali tak ada yang mangkir lagi. Tapi kau harus tahu anakku, tidak dibayar bukan berarti tidak mendapat rejeki. Banyak jalan dan cara rejeki itu datang dan pergi. Asal ikhlas, lusa akan mendapat lebih, itu pasti.

Tidurlah anakku, tutup matamu rapat, bermimpilah yang indah... itu akan melupakan lapar dan dahagamu sejenak. Dan sekali lagi, maafkan ayahmu nak.


Solo, 21 Oktober 2016

zaman Kalatidha



inilah zaman Kalatidha
zaman yang penuh keraguan dan membingungkan
sulit membedakan antara putih dan hitam
semua jadi abu-abu...

banyak pemimpin ambigu..
mengajak prihatin pada rakyat yang sudah prihatin
mengajak hidup ngirit pada orang yang ngirit tiap hari
mengajak rakyatnya sederhana tapi dia sendiri ngoleksi mobil mewah
mengajak hidup yang benar tapi dia sendiri kesasar
mengajak beriman tapi ternyata dia sendiri maling budiman

banyak pejabat yang lupa..
wakil rakyat tapi lebih mewakili partai dan kroninya
di saat mbahas soal rakyat malah tidur nyenyak
mengajak rakyat taat hukum tapi dia sendiri kebal hukum
bilang 'say no to korupsi' tapi ternyata maling berdasi
tugasnya berat tapi masih sempat ngartis
paham etika tapi kok ya jadi bintang iklan sosis

banyak pengajian agama..
tapi pengajian yang kurang pas sasaran
mengajak berbuat baik pada orang yang sudah baik
mengajak shalat orang yang sudah shalat tiap hari
mengajak naik haji orang yang sudah naik haji
pengajian di daerah hitam malah dicela
pengajian di lokalisasi pasti dihina

banyak sekali media berita
tapi malah meracuni pikiran publik
menyuarakan kedengkian pada lawan politik
menyebarkan berita hoax dan ilusi
berita penuh sensasi dan kontroversi tanpa isi
menghasut orang lewat kampanye hitam
menayangkan sinetron yang menyesatkan
yang penting rating tinggi, persetan!

tapi rakyat nusantara nggak bingung
karena terbiasa dibodohkan oleh kepandaian 'mereka'
terbiasa dikhianati karena kejujurannya
terbiasa tertawa dalam tangisnya
terbiasa gembira dalam sedihnya
terbiasa sehat dalam sakitnya
terbiasa tenang dalam kebingungannya
terbiasa menguatkan diri dalam ringkihnya
bisa bergaya dalam kemiskinannya
bergadget canggih walau gaji pas-pasan
berani kawin walau nggak ada kerjaan
berani kredit motor walau buat makan saja kurang


(c) Robbi Gandamana, 30 Januari 2016

Selasa, 18 Oktober 2016

Kapitalis Budiman

Min.. 
kamu memang bos..
tapi sama sekali bukan pemimpin 
kami memang jongos 
tapi cari kerja nggak pakai 'pelicin'..
harusnya kamu tahu.. 
manusia yang berhati nurani dan paham profesi 
seharusnya perintah sesuai dengan job deskripsi..

Min.. 
harus kuakui otakmu encer 
saking encernya sampai keluar lewat telinga (???) 
semoga kamu tahu.. 
kalau kepandaian itu sebenarnya cuma satu sisi 
masih butuh kebaikan, kebenaran dan keindahan 
untuk menjadi manusia yang penuh kemuliaan..

Min..
Jangan ber-ibarat kalau tidak paham subtansinya..
ibarat-mu terlalu distorsi dengan kenyataan 
"..ibarat tentara yang selalu siap diperintah komandan.." 
"..ibarat nelayan yang pantang mundur menerjang topan.." 
ada baiknya kamu tahu :
Ibarat adalah senjata, propaganda saat seseorang kehabisan kata..

Min.. 
berarti ion negatif 
bila bertemu plus (ion positif) pasti akan terjadi reaksi kilat 
perlu kamu tahu.. 
adanya perbedaan potensial antara aku dan kamu
maka hujat akan lahir dari persinggungan itu..

Min.. 
orang-orang di luar sana menjadikanmu dewa 
karena segala sesuatu yang kau sebut sedekah 
tapi mereka tak pernah tahu.. 
kamu menindas untuk menempuh jalan itu 
menganggap kami pecundang profesional tak bermutu

Min.. 
sekarang buka telingamu lebar-lebar 
ada sebuah kata, mungkin kamu belum tahu.. 
kata yang sama derajatnya dengan dengan iblis
sebuah simbol penentangan pada kedzaliman 
yang mereflesikan dirimu saat ini : "JANCOK!!!!" 


(c) Robbi Gandamana, 4 Juni 2014

*Buat Mr. Paimin, sang Kapitalis Budiman


Cinta Kepentok Target

Woiii
Kenapa kau gadis belia
Begitu susahnya menerima cinta

Woiii
Pria keren artis korea
begitu kau puji dan puja

Woiii
Kalau pria biasa nggak selera
'Maaf mas kita berteman saja...sorii yaaa.'

Woiii
Umur mendekati angka dualima
Bunda berkata : 'Segera berumah tangga'

Woiii
Mulailah galau melanda
Idealis buang di tempat sampah

Woiii
Persetan artis korea!
penting se-iman...okelah

Woiiiiiii....!
Tertawa ngakak..kampret!!
Lihat sinetron 'Cinta Kepentok Target'


(c) Robbi Gandamana, 22 Mei 2014

Tenang Saja, Rakyat Selalu Siap!


Tenang saja..
 dollar membumbung tinggi
 bensin naik 100% atau lebih
 rakyat indonesia selalu siap!
 mungkin seminggu dua minggu mereka sedih
 tapi setelah itu..
 kesedihan akan disulap menjadi ilmu
 disulap menjadi hikmah
 disulap menjadi revolusi diri
 disulap menjadi optimisme melangkah ke depan..

Tenang saja..
 orang Jepang mungkin sudah bunuh diri
 tapi rakyat indonesia itu radikal revolusioner
 mahir mengubah ampas menjadi jajanan gaul
 jadi kambing pun bisa hidup dan punya harga diri
 biar miskin asal gagah

Tenang saja..
 rakyat indonesia itu ahli ngirit
 walaupun gagah perkasa dan elegan
 nggak canggung bawa kotak bekal makan siang bergambar 'Dora'
 mereka hanya malu kalau gadget ketinggalan jaman
 kata paimo : "gengsi harus dijunjung tinggi..!!"

Tenang saja..
 walau gaji pas-pasan
 masih berani ngredit kendaraan baru
 walau nggak punya uang
 berani kawin dan punya anak lima
 walau untuk makan saja susah
 tapi masih bisa beli gadget yang paling canggih

Tenang saja..
 pasti harga-harga bakalan naik semuanya
 tapi rakyat indonesia nggak bisa dibuat sedih cuma karena hal yang remeh itu
 konon indonesia adalah negara yang warganya banyak tertawa
 berbanding terbalik dengan kondisi ekonominya

Tenang saja..
 siapapun pemimpin yang terpilih
 mau Jokowi atau Prabowo sama saja
 nggak masalah sama sekali..
 jangan dikira rakyat akan taat sama mereka
 jangankan taat sama pemimpinnya
 sama Tuhan saja nggak taat..!

Tenang saja...
 indonesia nggak bisa di-Arab-kan
 indonesia nggak bisa di-Barat-kan
 indonesia akan tetap menjadi indonesia..
 mungkin sekali waktu 'ketutupan'
 ketutupan Jonru
 ketutupan K-Pop
 ketutupan Metallica
 ketutupan Raimu

Tenang saja..
 rakyat indonesia itu bodoh
 biar saja..
 bodoh saja pinter ngakali
 apalagi kalau pinter..
 semua bisa diakali
 apa sih yang nggak diakali di negeri ini..??

Tenang saja..
 silahkan Amerika ambil Freeport
 ambil tambang yang lain untuk makan rakyatnya..
 Tuhan maha kaya..
 indonesia itu disetting kaya olehTuhan
 masih banyak kekayaan alam yg belum digali
 indonesia is the promised land

Tenang saja.........


Solo, 2 september 2014

(c) Robbi Gandamana



Negeri Nggak Jelas

1422440172494886890

Tersebutlah kisah nggak jelas
tentang negeri nggak jelas
rakyat nggak jelas
pemerintahan nggak jelas
presiden nggak jelas
anggota dewan nggak jelas
aparat nggak jelas
undang-undang nggak jelas
kebijakan nggak jelas
peraturan nggak jelas
hukum nggak jelas

politik nggak jelas
partai nggak jelas
capres nggak jelas
jokowi nggak jelas
prabowo nggak jelas
dana kampanye nggak jelas
pendukung nggak jelas
siapa yang menang, nggak jelas
quick count nggak jelas
pemilu nggak jelas
demokrasi nggak jelas

hasil tambang melimpah lari kemana nggak jelas
BBM naik turun karena apa nggak jelas
harga sembako terlanjur naik kapan turun, nggak jelas
departemen nggak jelas
pejabat nggak jelas
rekening gendut nggak jelas
wetenge mblendung, bentuknya nggak jelas
harta melimpah, istri berapa, nggak jelas
maling apa birokrat, nggak jelas
birokrasi nggak jelas
administrasi nggak jelas
biaya ngurus ini itu, nggak jelas
pungli sana pungli sini nggak jelas
tak ada uang, dipersulit dgn alasan nggak jelas

pendidikan nggak jelas
ilmu nggak jelas
kurikulum nggak jelas
guru sibuk mikir gaji ke-13 yang nggak jelas
murid ngelu ndase : "nggak jelas..!"
lulus jadi apa nantinya, nggak jelas
kerja apa pun nggak jelas
terjerumus di lembah MLM nggak jelas
terobsesi jadi PNS, no problem nyogok berapapun, nggak jelas
kerja di perusahaan nggak jelas
aturan kerja yang nggak jelas
kesejahteraan nggak jelas
asuransi kesehatan nggak jelas
pensiun nggak jelas
nasib nggak jelas

agama nggak jelas
aliran nggak jelas
tuhannya nggak jelas
pemuka agama nggak jelas
ustad nggak jelas
tafsir nggak jelas
jamaah nggak jelas
agamis atau sekuler, nggak jelas
ibadahnya nggak jelas
me-nabi-kan motivator nggak jelas
dengan quotes nggak jelas
pengikutnya labil, cengeng dan nggak jelas

media massa nggak jelas
milik kapitalis dengan kepentingan nggak jelas
berita penuh hasut nggak jelas
ditulis oleh pengecut nggak jelas
di-share oleh para taqlid nggak jelas
jadi status dgn bumbu kata-kata nggak jelas
dibaca oleh manusia penuh dendam nggak jelas
di-like oleh sejuta awam nggak jelas
pengamat politik dadakan ikutan ber-opini nggak jelas
sejuta kata 'jancok!' bertebaran dari haters yang nggak jelas
unfriend, remove, blokir karena hal yang nggak jelas
waktu terbuang dgn debat tak berujung nggak jelas
sama-sama gemblung bersatu, debat nggak jelas
ingin jadi pemenang demi sebuah kompetisi nggak jelas
...................................................................

Tulisan nggak jelas
ditulis oleh orang yang nggak jelas


(c) Robbi Gandamana, 29 Januari 2015



Pada Sebuah Hujan Malam Ini

gegas langkah yang tersendat
pada sebuah hujan malam ini
lidah kilat menggema cakrawala

teringat tawa tangis sang bocah
di huma kecil beratap cinta
berlantai kasih bertembok damai

..mutiara hidupku...

malam mengejar pagi
hidup diburu waktu
sementara senja semakin dekat
raga masih terus saja berlari

aku tidak sedang meratap
karena hidup cuma sebuah tawa yang tersesat di sela-sela tangis
pada seorang bocah bermata bening..

..anakku..

di luar masih basah..

Solo, 22 April 2015

(Robbi Gandamana)

Ingat Ya Sri..


Ingat ya Sri..
hidup tidak selalu hitam putih
'a' bisa jadi 'u' atau malah jadi 'i'
penjara bisa menghasilkan ulama
penjahat malah lahir dari tempat ibadah..

Maka..
isolasi-lah hati dari debu hasut dan dengki
laminating pikiran dari residu provokasi
hanya ikutilah petunjuk pada kitab suci
selain itu, tak ada harga mati..

Miris ..
Maling ayam tertangkap dan dihakimi
hanya karena lapar ingin makan mie
sampai babak bundas di sana sini
mirip percobaan pada seekor kelinci..

Ada juga..
pria aktifis demo memperjuangkan negeri
ditangkap, dikencingi ramai-ramai di kantor polisi
eh..si demonstran malah tertawa ngakak sampai pingsan
yang mengencingi ternyata seorang Polwan...*__*

Lain lagi..
pejabat Nganu ketahuan Korupsi
ndilalah uangnya dipakai umroh sepuluh kali
diajak pula para tetangga kanan kiri
malaikat pun jadi bingung setengah mati :
"Terus aku kudu piye Sriii....!!??"

Yang ini juga..
rakyat pada garuk-garuk kepala kebingungan
ketahuan koruptor kok malah cengengesan
Difoto para wartawan malah : "piss man!"
oala buajingannn tenann....!

Ironis..
pejabat agamis hafidz Qur'an terbukti korupsi
Kyai bingung ketika ditanya para santri :
"Paham kitab suci kok masih korupsi..?"
Kyai : "Asem!...njawabe piye iki Sriii...??"

Jadi....
hidup tidak selalu hitam putih...
fakta tak selalu cocok dengan teori...
seperti poni-nya Andika Kangen Band
'dah tahu nggak cocok, kok ya dicocok-cocokan sih man

Yo wis..
sekian terimakasihhh....
merdeka nggak sih..!?
baiklah..merdeka Sriii...!!!


(c) Robbi Gandamana, 20 Agustus 2015

Kere Hore yang Budiman


Ini kisah tentang temanku yang punya teman...:
Alkisah perusahaan produksi kertas bungkus gorengan
buruhnya kere hore yang budiman
baik hati dan sangat dermawan
walaupun gajinya mengkhawatirkan
yang hanya cukup buat beli susu instan

di sana, hampir tiap hari beredar kotak sumbangan
dari yang korengan, dompu sampai sariawan
semua pastilah dapat dana bantuan
pada pesuruh yang lebih bergaji pas-pasan
mereka juga dapat sumbangan..lumayan

tiap hari kantong Doraemon harus disiapkan
siap-siap menyambut si kotak diedarkan
sepuluh ribu atau lima puluh ribu..silakan
boleh juga akik atau smartphone sekalian
tapi yang ada kebanyakan uang recehan

walau punya rasa sosial yang tinggi pada kepedulian
tapi bukan berarti hidup sudah nyaman
jangankan gaji ketiga belas atau tunjangan
 uang lembur cuma beberapa lembar duaribuan
 sampai dipertahankan kayak orang kesurupan

kelak saat semua sudah tiada, di dalam kuburan
di sana diadakan acara pul kumpul reunian
saat ngobrol mengenang masa lalu di pojokan
mereka dibuat bingung campur heran
eh, ternyata kotak sumbangan masih diedarkan!

ini cerita bukan kritikan apalagi sindiran
tapi sebuah bentuk apresiasi atau kekaguman
pada buruh di sana yang joss tenan
dompet jebol untuk sedekah, bukan untuk jajan
smoga seiring waktu berjalan, tetap akan bertahan

"Papi bangga sama kamu nak...yess, lanjutkan!"

**

si boss tentu saja ora ono urusan
do'i sibuk sendiri dengan itung-itungan
tahunya kerjaan beres, sesuai target yang ditetapkan
buruh ngelu ndase, terus saja ditambahi beban
mau resign, lha kok harus bayar penalti sepuluhjutaan

satu hari si boss mau bikin hajatan
sekedar plesir, sejenak melupakan kerjaan
buruh senang membayangkan yang bukan-bukan
dipikirnya ke Pulau Seribu atau Nusakambangan
ealahh ternyata cuma ke kolam pemancingan

buruh kecewa, banyak yang nggak ikutan
kecewa!, sebel!, wis tau!, asem tenan!
eh..tapi setelah diusut ala detektif Conan
mereka nggak ikut bukan karena uring-uringan
tapi cuman karena mabuk darat, malu kalau ketahuan

Ini kisahku teman...sekian


(c) Robbi Gandamana, 2 September 2015

*berdasar kisah nyata di sebuah pabrik kertas bungkus gorengan di kota Bengawan

Cinta Platonik


ingatlah pada suatu masa
dia datang kepadamu tanpa retorika
tanpa bualan layaknya pujangga :
"menyeberangi benua dan samudra,
melewati jurang curam menganga
menerjang hujan badai yang dahsyat,
melawan rasa sakit yang hebat."
tanpa perhitungan yang akurat
tanpa sebentuk imbalan
tanpa sebuah beban
tanpa secuilpun batu berlian
tidak pula bersyarat
tidak juga dengan ibarat

ibarat adalah senjata
ketika pengkhotbah kehabisan kata
ketika si bebal berceramah
ketika meyakinkan calon mertua
ketika pejantan memikat betina
ketika iblis merasuki hati
ketika si punguk terobsesi
ketika pengkhianat beralibi
ketika pendusta bersaksi
ketika hasrat mulai bereaksi
ketika nafsu mulai meninggi
ketika engkau sadar telah bersuami
ketika akhirnya terjebak pada memori

memori dari kata-kata semu
yang menendang bagian terdalam hatimu
meninggalkan jejak luka menganga biru
setelah itu hilang ditelan masa lalu
tak kan kau temukan di renda celana dalammu
di bawah bantalmu
di setiap helai rambutmu
di ketiakmu yang bau
di catatan buku gadai
di sepinya ngarai
di tengah pasar yang ramai
di quote yang paling bijaksana
di inti pusat sebuah tanya

tanyakan pada waktu yang terus melaju
bukan pada rumput kering yang rapuh
bukan pada para pengecut
bukan pada para penghasut­
bukan pada para cecurut
bukan pada hati yang labil
bukan pada tangan yang jahil
bukan pada manusia yang bakhil
bukan pada pendengki ­yang sinis
bukan pada pendosa bermulut manis
bukan pada ­­iblis penghuni neraka
bukan pada sesuatu yang tak nyata

nyatanya kamu harus hadapi kenyataan
impian indah terbentur batu bacan
marahlah pada hati yang tak bersih
pada nafsu yang menggerogoti
pada jiwa yang kosong sepi
pada mata yang tak bisa dikendali
pada keinginan yang tak bertepi
pada mereka yang tak mau mengerti
pada iman yang rusak
pada otak kotor penuh sesak
pada nasib yang tak berpihak
pada diri yang tak tahu adab
pada tanya yang tak terjawab

terjawab dengan jawaban tanpa jawaban....


Solo, 14 September 2015

(Robbi Gandamana)

Karena Ngompas Si Ana, Wagimun Tak Lagi Tuna Asmara


Wagimun gembrot orangnya gemblung. Mantan anak gaul gagal yang di-DO dari sekolah lantaran otaknya 'tung-tung' akut. 'Terjebak masa lalu' dengan fashion trend 80an. Celana begi dengan baju kedodoran boros kain. Dan masih suka muter lagu "Opo Jare Tikno" (Every Body Dance Now) milik C&C Factory yang ngetop di era itu. Pokoknya musik 80an abisss, dari boy band New Kids On My Cock sampai Nia Daniatun.

Manusia 'suku Jawa terakhir' yang polos, kolot , nggumunan dan logat bicaranya medok. Egaliter tapi juga Jawasentris, masih suka angon wedus,  ngobong menyan atau ritual nenek moyang lainnya. Supel, pandai bergaul tapi kikuk kalau didekati cewek, ceplas ceplos, jujur tapi kentir dan suka mlintir. Mulutnya bak kompor gas dengan tabung 3 kilo subsidi pemerintah khusus untuk Raskin.

Bukan seorang jurnalis bukan pula penulis. Wagimun, pemuda sebuah dusun yang tak terlacak GPS. Seorang gaptek tapi ber-HP canggih cuman untuk telpon dan esemes. Dan tentu saja tujuan utamanya adalah urusan prestise. Motto hidupnya : "Gengsi atau mati". Manusia gengsi die hard yang rela jatuh bangun dan merugi. Monyet terlatih yang tangguh rela makan kerupuk asal bisa tetep beli pulsa.

"Hidup adalah perjuangan..!", kata Wagimun serius. Entah maksudnya apa, mungkin semacam perjuangan untuk tetap meneguhkan gengsi di atas segalanya.

Berkali-kali bikin akun Facebook dengan bantuan mbak Warnet. Nama akun terakhir yang dibuat : "Wagimun Olwis Cemungud chayank cmuachnya". Tapi karena selalu lupa password, Wagimun pun bikin akun baru lagi. Do'i tetap cemungud dan rai gedek minta bantuan mbak Warnet yang bernama Ana. Nama panjangnya Ana Dimana Anak Kambing Saya. Seorang cewek 'one man show' yang segala urusan di warnetnya diurus sendiri.

Okol lebih diandalkan daripada akal. Nggak heran kalau Wagimun mantan jawara silat. Sabuk hitam di perguruan silat Tapak Najis. Tapi belakangan Wagimun dipecat dari perguruan tersebut. Diduga keras karena sering bolos latihan. Akibat terjerumus kecanduan internet. Apalagi kalau sudah kesasar di situs tak senonoh memperlihatkan 'pergulatan' 2 jenis manusia bukan muhrim-nya.

"Preketek..ora urus!", umpat Wagimun melampiaskan emosi atas pemecatan dirinya. Do'i  tetap enjoy browsing situs dewasa dengan kata kunci sekenanya : "Oh yess". Merujuk pada istilah 'oh yess, oh no, oh my god' yang identik dengan film dewasa.

Dipecat dari dunia persilatan bikin Wagimun melarat. Baginya silat nggak cuman hobi, tapi juga satu-satunya kerjaan yang bisa dia diambil. Akibatnya Wagimun pun nganggur nggur nggurr. Luntang lantung di kampung bikin linglung. Pikiran jadi gelap, kantong kering, uang tabungan lenyap. Darimana dapat duit untuk membiayai kehidupan gengsi yang terus mencubit. Oala Gustialloh paringono sabarr...

Pikiran gelap ditambah uang tak kunjung di dapat, membuat Wagimun jadi nekat. Dan akhirnya mengambil jalan pintas : Ngompas!

Malam itu, seperti juga malam-malam sebelumnya, Wagimun nongkrong di Warnetnya Ana Dimana Anak Kambing Saya. Saat jam sebelas saat Warnet akan tutup, keadaan mulai sepi, Wagimun pun mlipir mendekati Ana. Dengan muka ditekuk dan mata mendelik menirukan penjahat di film India "Rai Mhu Kapoor", Wagimun mendekati Ana.

"Mbak, satusewu keno, rongatusewu yo keno..! (seratus ribu boleh, duaratus ribu juga boleh)"
"Satusewu ndasmu njebluk..! Wedus! Berani-beraninya kamu ngompas aku...!"
"Kalau sampeyan nggak kasih...tak perkosa kowe!"
"Silahkan saja kalau berani..lha wong kamu itu diajak kenalan cewek saja plungkar plungker, kok sekarang mau memperkosa...edan piye!?"

Karena sudah terlanjur basah, Wagimun nekad menerkam dan mendekap Ana. Walaupun sudah meronta-ronta sekuat tenaga, Ana tak berdaya melawan dekapan mantan jawara silat itu. Dengan mulut disumpal kain lap, tangan dan kaki diikat sabuk, Ana diletakan begitu saja dilantai.

Wagimun sama sekali tidak melakukan perbuatan tak senonoh pada tubuh Ana yang semlohai itu. Karena sejak awal memang tak punya niat untuk memperkosa. Do'i malah menuju kasir dan sibuk ngacak-ngacak brankas. Ambil duit sebanyak-banyaknya dan kaburrr..

Setelah itu, pergilah Wagimun ke Pulau Sapudi, melarikan diri. Di sana dia bersenang-senang dengan hengpon terbaru yang canggih. Siangnya diisi dengan molor seharian, malamnya nongkrong di cafe sampai ayam jago berkokok membangunkan.

Polisi yang sudah mengendus jejak Wagimun sejak pelariannya 3 hari yang lalu, akhirnya  berhasil menangkap dan menyeretnya ke kantor polisi.  Saat ditangkap do'i sedang asyik bersantai ria di sebuah cafe doyong. Menikmati musik dangdut koplo dengan sebatang rokok 'Manugmu Blue' di tangan.

Ana yang tahu Wagimun telah tertangkap, mendatangi kantor polisi. Plak! tamparan sekuat tenaga ala Hulk langsung ditayangkan ke muka Wagimun saat Ana baru saja datang. Wagimun menunduk dan mengelus pipinya yang memerah.

"Dasar pekok..! kenapa saat itu kamu tinggalkan aku begitu saja...!?""

"Sori mbak..saya terburu-buru, harus ngejar setoran..."

"Setoran ndiasmu!...tahu nggak, saat itu salahmu apa..!??"

"Tahu mbak...saya ngompas sampeyan..."

"Katrok..! Bukan itu....!"

"Lhooo...lha terus...? salah apa mbak...???"

"Salahmu adalah kamu nggak pandai membaca situasi  ...."

"?? Membaca situasi piye to mbak...aku ora mudeng.."

"Padahal aku sudah menunggu sejak bertahun-tahun yang lalu...."

"Heh?? menunggu..?? aku tambah ora mudeng....!"

"Menunggu untuk bercinta dengan kamu..gembloeng!"

"Piye!!!?????%&*(&^%$@##$$%%!!"

Towengwengwengwengggggg.................

Oala ternyata selama ini Ana memendam rasa yang begitu dahsyat pada Wagimun pendekar dusun gaptek gemblung itu. Ternyata saat Ana meronta-ronta didekap sama Wagimun dulu itu cuma akting. Padahal sih..pengin! Semprul.
Cintah memang tak bisa diduga sodara-sodara setanah air. Fuiihh..mirip cerita sinetron "Babi yang Tertukar".

Begitulah kisah Wagimun menemukan cintah sejatinya, Ana Dimana Anak Kambing Saya. Syukur puji Tuhan ngAlhamdulillah, Wagimun nggak Tuna Asmara (Jomblo) lagi seperti dulu.
Sekian terima gaji.


(c) Robbi Gandamana, 10 Oktober 2015

Ini Bukan Puisi


aku bukan penulis puisi
tak pandai memainkan rima dan berdiksi
tak suka kalimat direnggangkan dengan spasi
serenggang kolor sempaknya mbak Siti

aku bukan penulis puisi
lebih suka baca berita kriminal terkini
lurah kepergok kuda-kudaan sama mbak Sri
ngakunya sedang latihan drama buat pentas seni

aku bukan penulis puisi
apalagi yang seperti sinetron anak negeri
kisah sedih ratapan anak Bombay banci
yang membuat aku ingin bunuh diri

aku bukan penulis puisi
yang sering pusing baca syairnya Jalalludin Rumi
menafsirkannya sangat sulit setengah mati
kayak mencari ujungnya ban sepeda mini

aku bukan penulis puisi
tak pandai merenda kata pakai bahasa dewa dewi
bahasa yang tidak mudah dimengerti
bikin rambut rontok kayak mas Jumadi

aku bukan penulis puisi
tak berani ikutan kontes menulis fiksi
hadiahnya menginap semalam di pulau Sapudi
baru mendaftar langsung di-eliminasi

aku bukan penulis puisi
untuk urusan kata aku masih kelas teri
sama sekali tak paham soal teori
disebut penulis pun tak masuk kategori

aku bukan penulis puisi
tulisanku kutulis dengan bahasa koboi
kata-katanya gampang sekali dipahami
bahkan oleh orang gemblung stadium tinggi

aku bukan penulis puisi
tapi selalu salut pada sastrawan sastrawati
baju dekil, rambut gimbal, kaos kaki bau terasi
untuk sebait puisi, seminggu lupa sikat gigi

aku bukan penulis puisi
tiap pentas puisi selalu takjub lihat situasi
penonton riuh tepuk tangan sambil berdiri
padahal yang paham cuma penyairnya sendiri

aku bukan penulis puisi
cuma anak ingusan yang haus eksistensi
menulis sebuah tulisan picisan tanpa isi
padahal cuman dibayar 'like' atau cap jari

aku bukan penulis puisi
hanya pembual yang sedang unjuk gigi
jajakan bualan kayak tukang kredit panci
barang terjual habis tapi tak ada yang dilunasi

aku bukan penulis puisi
yang sedang mencari kesenangan penghibur diri
sekali-kali kenthir boleh asal tetap ingat mati
main petasan jangan menggunakan gas elpiji

pokoknya aku bukan penulis puisi
sekian terimakasih saudara saudari
selamat hari Sumpah Pemuda bukan pemudi
teruslah perkasa jangan sampai ejakulasi dini
dan ingat..ini bukan puisi

(c) Robbi Gandamana, 28 Oktober 2015

Drama Kosmis

Orang Alim Baru namanya Gimun Paulus Abdul Aziz
mantan jawara perguruan silat Tapak Najis
asli suku Jawa tapi tongkrongan Arab abis
nggak suka baju batik, pokoknya harus gamis

ikutan jamaah aliran keras yang fanatis
diluar alirannya dikafir-kafirkan dengan sinis
cita-citanya ingin bergabung dengan ISIS
yang katanya sesuai dengan Qur'an dan Hadits

awam bertanya, "itu jihad kok kayak ekstrimis?
yang nggak sepaham dibantai dengan sadis,
memenggal kepala dengan wajah bengis..!"
bingung, akhirnya mutung jadi Atheis

Agama datang kok malah bikin kisruh, ironis
tidak mendamaikan malah bikin sakit kronis
oala Mblo..cukup, jangan bergaya sok agamis
disuruh ngimami Shalat nggak berani, malah nangis

lain lagi dengan Sumiyati anake om Tamzis
cewek jilboob yang suka Narsis
dengan lima ribu orang ada di friendlist
hobinya nyetatus aib keluarganya yang tragis

ngakunya masih keturunan dari Ratu Bilqis
wajah memang cantik kayak selebritis
tapi kalau bicara bikin ketawa histeris
geli lihat Sumiyati mbois tapi giginya gigis

ada pemuda gunung berkulit hitam namanya Darwis
nama simpel kepanjangan dari Modar yo Wis
minumnya air sumur dan makan sayur Buncis
tapi otaknya encer kayak Einstein tokoh Scientist

ada lagi Nia Daniatun, anak gaul yang hedonis
sukanya foya-foya nggak perduli lagi krisis
suka pakai baju minim biar sexy nan eksotis
sempaknya dari ekstrak kulit buah Manggis

tersebutlah Sanusi gembrot rambut selalu klimis
manuknya belum sunat, bentuknya mirip Sosis
sukanya ke Lokalisasi mbooking Mbak Sis
padahal duit pas-pasan hasil jualan Tongsis

Mbak Sis total dalam memberikan service
do'i memang ahli dalam soal hubungan biologis
Sanusi 'oh yes..oh no' seraya mendesis
enak cuman 5 menit tapi kena Sipilis

mulut Sanusi memang terkenal ceriwis
menghina tentara bilangnya muka kayak iblis
akibatnya kepala bocor dikepruk kunci inggris
gegar otak, terpaksa dilarikan ke IGD Yarsis

Hari minggu plesir ke pantai Parangtritis
pakai kaos oblong dan celana Lepis
hati-hati jangan sembarangan kalau pipis
Ratu Kidul marah manukmu dikutuk jadi tipis

sebut saja Gendon, seorang pemuda junkies
jarang mandi tubuhnya bau amis
tubuh kerempeng melengkung kayak keris
sekarat hampir mati akibat overdosis

lain lagi Dalimin, pengusaha yang kapitalis
buruh ditindas dengan upah minimalis
tulang disamakan dengan besi teralis
tanpa jaminan hari tua, pensiun jadi pengemis

Tikno, si buruh pabrik yang ingin plesir ke Paris
tapi lihat keadaan kayaknya kok nggak realitis
orang bilang itu mimpi yang sangat fantatis
ibarat membuat jarum dari linggis

Ada juga Paimo, kolektor burung Belibis
dipukuli pemuda kolot yang ngakunya Pancasilais
hanya karena berkaos Che Guevara yang Marxis
padahal itu kaos untuk gaul sekedar ngeksis

ini juga yang sekarang jadi berita terlaris
nama presiden dicatut untuk kepentingan bisnis
oleh politikus yang mukanya kayak teletubbies
ketahuan maling masih saja pringas pringis

oala rek..embuh wis.....­­­­­­­

(c) Robbi Gandamana, 28 November 2015

*dipublikasikan pertama kali di Facebook

Jangan Bilang Siapa-siapa, Ssstt.. Aku Punya Cara

teriakan seorang buruh membelah langit
depan gerbang sebuah pabrik yang bonafit
lima belas tahun karier jalan di tempat
melawan malah dicap penjahat
yang bisa kau lakukan hanya menghujat
kemarahan sudah sampai di jidat
pilihannya : tunduk atau dipecat
tapi jangan bilang siapa-siapa
ssstt...aku punya cara

unjuk rasa harusnya pada yang mau berubah
kalau tidak, apa gunanya
percuma melawan secara frontal
nyatanya kau selalu terpental
lebih baik matangkan strategi
karena semua bisa disiasati
kita bla bla bla bla dari dalam
bla bla bla bla bla sampai lebam
tapi jangan bilang siapa-siapa
ssstt..aku punya cara

jangan sepenuhnya salahkan penguasa
mbok ya sekali-kali berkaca
kenapa kau jadi manusia gengsi
gaji pas-pasan kok bergaya selebriti
memaksakan diri bergadget canggih
pemasukan dan gaya hidup sangat distorsi
akhirnya pusing dengan pulsa, tagihan dan upeti
begitu masih sempat berpikir mau kawin lagi
tapi jangan bilang siapa-siapa
ssstt..aku punya cara

jajan kuliner Barat biar dibilang gaul
padahal di rumah biasa makan tiwul
makan siang di restoran ayam goreng cepat saji
malamnya dinner di warung mewah masakan Itali
tak lupa jepret makanan dari sudut sana sini
setelah itu buka medsos untuk dibagi
kau lakukan itu hampir tiap hari
tak ingat nunggak kredit motor, TV LCD sampai panci
tapi jangan bilang siapa-siapa
ssstt..aku punya cara

tiap malam dihantui masa depan
mendekati usia senja belum juga mapan
tubuh sakit sakitan menguras biaya
barang berharga terjual habis semua
baju dan celana beserta lemari
yang tertinggal cuma harga diri
mau bunuh diri kok takut mati
kenapa dulu terlalu sibuk urusan duniawi
sampai tak ada waktu untuk mengaji
waktu terbuang buat ngeksis ketawa ketiwi
tapi jangan bilang siapa-siapa
ssstt..aku punya cara


Solo. 23 Desember 2015

(c) Robbi Gandamana

Puisiku Bukan Puisi


Puisiku bukan puisi..

puisiku adalah cerita
ditulis dengan kata paling baku
mudah dicerna oleh manusia paling dungu

puisiku adalah berita
ditulis berdasar kisah paling jasad
menjadi saksi para durjana bejat

puisiku adalah pemberontakan
tentang manusia yang tertindas
oleh hukum penguasa di atas kertas

puisiku bukan nyanyian sendu
rintihan nasib atau kisah biru
itu adalah cengeng bagiku

puisiku adalah kejujuran
atas nama hati nurani
kepada siapapun yang perduli

jadi..

buat apa pelintir kata
direnda sedemikian rupa
dipaksa berwujud indah
sampai sulit untuk dicerna

buat apa perkosa rasa
menjadikan otak sengsara
tidur tak nyenyak makan terlupa
demi seonggok kata tak bernyawa

buat apa berteori
tentang kebenaran yang disepakati
yang ramai didengungkan di akademi
akhirnya puisi jadi lahan industri

maka..

jadilah otentik
tuliskan bahasa yang paling antik
dengan gaya dan caramu sendiri
setelah itu jangan pernah perduli
bila tidak dianggap puisi

...mengalirlah dengan indah

(c) Robbi Gandamana, 5 Pebruari 2016

Boneka Tak Terbeli

siang itu di jantung kota bengawan
gadis kecil anak gelandangan
baju tambal sulam kusam dimakan zaman
berjalan tanpa alas kaki
rambut gimbal jarang dicuci
di depan toko mainan berdinding kaca
di dalam dipajang bermacam boneka
gadis kecil hanya memandang dari luar saja..

naluri dalam hati bergejolak
tapi langkah kaki terus menolak
gadis kecil masih punya kesadaran
gembel seperti dia bisa merusak pemandangan
maka diredamlah hasrat untuk menjamah
boneka beruang di balik kaca
yang sering singgah dalam lamunan
tak pernah nyata dalam pelukan..

seribu pikiran mengusik benak
segunung keinginan menyeruak
segudang kemauan berkehendak
ingin merabanya barang sejenak
merasakan lembut bulu lunak
memeluknya sampai tertidur nyenyak
tapi apa daya nasib tak berpihak
cuma si miskin berbaju kumal tak layak..

lihat di balik dinding kaca ada anak sebaya
memeluk erat sebuah boneka
gadis kecil pun semakin tergoda
membuatnya berlama-lama di depan kaca
membayangkan anak sebaya adalah dirinya
yang bebas memeluk boneka sepuasnya
kemudian dibeli bunda untuk hadiah
sebagai teman tidur mimpi indah..

"Huss..huss ..pergi kau..bau amis!"
hardik penjaga bertampang antagonis
usir gadis kecil dengan wajah sinis
seolah menatap sebuah barang najis
tapi tak jua membuat gadis kecil menangis
hidup berpuluh tahun dalam getir kritis
kadang terpaksa harus mengemis
air mata sudah terkuras habis..

...buyar sudah lamunan
beranjak gadis kecil ke bunda di ujung jalan
berkeluh kesah dalam pelukan
tentang boneka beruang di toko mainan
tentang penjaga toko mantan preman..
tapi dengan cinta kasih bunda berpesan :
"sudahlah nduk, yang penting hari ini bisa makan,
Tuhan mengirim seorang dermawan."

gadis kecil bermain sendiri
dengan pecahan genting bergerigi
menggambar di tanah sebentuk peri
dengan banyak bintang di kanan kiri
gadis kecil berharap sang peri sudi
mengirim satu boneka beruang teddy
agar tidurnya ada yang menemani
agar mimpinya seindah pelangi..

(c) Robbi Gandamana, Solo 18 Februari 2016

Bunuh Diri Itu Suci


ketika diri menghamba pada materi
bernapas dalam kubang maksiat
takut pada kematian jasad
acuh pada kematian hati

maka..

aku harus bunuh diri
membunuh nafsu liar yang membabi buta
menikam ­­­jiwa yang memuja dunia
mencekik ego yang membuat selalu sok jago
membabat habis tabiat yang penuh hasut
membuang jauh mental pengecut

dan..

kalian mestinya bunuh diri
membunuh kesempitan dalam berpikir
kenapa beda pandangan mesti tersingkir
hingga di tanahnya sendiri harus terusir
mana yang katanya musyawarah mufakat
sampai pedang tinggi-tinggi kalian angkat

juga..

negeri ini wajib bunuh diri
membunuh keadilan yang dikebiri
bantai aturan yang menghina martabat
hancurkan hukum yang tak memihak rakyat
lenyapkan degradasi moral pejabat
mereinkarnasi nasionalisme yang sekarat

jadi..

kita semua harus bunuh diri
membunuh diri kita yang lalu
untuk jadi manusia yang benar-benar baru
ibarat bayi yang baru lahir dari rahim ibu
seumpama kertas putih yang masih bersih
seperti hening malam menjelang pagi
bunuh diri itu suci...


(c) Robbi Gandamana, Solo 22 Pebruari 2016

*bunuh diri = ruwatan

Aku Orang Bebas


Pagi ini aku harus hengkang dari tempat ini. Tempat yang menempaku, membuka wawasan dan pori-pori kecerdasanku tentang hidup. Yang merubah haluan hidupku jadi pejuang kaum Proletar. Yang membuatku jadi tokoh kartun milik umum.

Kumulai membuat sketsa, rencana menaklukan dunia. Kau tahu aku sudah bosan jadi pecundang profesional. Berlama-lama di sanggar reyot ini bisa membunuhku. Aku harus mengepakan sayapku ke dunia luas. sampai aku menemukan duniaku yang sejati.

Kuharap kau tidak mengharapkan aku untuk tetap tinggal. Percuma. Tangisan tidak akan menyurutkan niatku. Jadi tolong restui kepergianku.

Aku bosan terlalu baik hati. Seni kerakyatan katamu? Kita mati-matian membela rakyat kecil dengan kesenian. Tapi kita sendiri mati-matian menahan lapar. Ada saatnya kita harus perhitungan. Bukannya mau matre, tapi hidup harus dihidupi. Tak penting jadi kaya atau miskin. Some born to win, some born to lose.

Kenyataannya kita butuh uang sekarang. Walau aku tahu derajat manusia lebih tinggi dari uang. Yang penting bagaimana caranya uang harus menjadi anak buahku. Bukan  jadi budaknya.

Tolong jangan isi otakku dengan isapan jempol kata motivasi, kata-kata yang kau curi dari si pelacur kata-kata. Aku tak butuh motivasi! Aku orang bebas! Lagian berbuat baik nggak perlu dimotivasi dulu. Ketika aku mau sembahyang, aku sembahyang saja, nggak menunggu motivasi. Berbuat is berbuat.

Mungkin aku dilahirkan di masa yang salah. Ini bukan zaman Paleolitikum yang hidupnya masih foodgathering, mengambil langsung dari alam. Sekarang mana bisa seperti itu. Ingin makan dan hidup layak harus kerja keras.
Jadi sekarang aku putuskan untuk terbang mengejar mimpi. Walau harus perih melintas hutan rimba kehidupan penuh hasut dan dengki. Tolong jangan halangi langkahku lagi. Keputusanku sudah bulat : Aku harus pergi.

***
Sumber inspirasi :

Aku
Oleh : Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

(c) Robbi Gandamana, 1 Maret 2016