Selasa, 05 Februari 2019

Matinya Sebuah Senyuman (Mencari April - 5)



Aku sedang duduk-duduk rileks di latar Mushola kantor menunggu bel jam istirahat ketika Bongkeng datang memanggil namaku, "Imron, aku ada perlu sama kamu.."

Bongkeng memohon padaku agar mau menghutangi uang untuk makan siang. Ngakunya uangnya habis untuk biaya rumah sakit bapaknya yang menderita mengguk akut. "Tapi ojok ngomong sopo-sopo yo nek aku utang duwik...." kata dia memohon padaku.

Aku sendiri lagi bokek saat itu. Tanggal tua. Gajiku habis buat ngurusi motor tua jago mogok sialan. Yang sepulnya mati lah, yang CDI mampus lah. Ada saja masalah dengan motorku. Aku kayak hidup dalam film kartun. Dan sekarang uang di dompet hanya tersisa 15 ribu saja. Jadi kutawarkan untuk kutraktir saja. Karena nggak ada pilihan, dia pun menganggukan kepala, "Yo wis lah.." .

Setelah bel berbunyi, kuajak dia ke warung sederhana dekat kantor. Aku memilih menu yang paling ngirit jaya. Uang 15 ribu harus cukup buat makan berdua. Sementara kulihat Bongkeng sedang asyik pedekate dengan seorang gadis bohay karyawan sebuah toko baju sekitar situ.

Setelah makanan tersedia, tanpa babibu langsung kusikat. Walau cuman sayur lodeh lauk kerupuk kalau pas lapar rasanya joss, kenikmatan paripurna. Harus disyukuri. Banyak orang yang tidak pandai bersyukur, sudah bisa makan enak masih saja mengeluh. Lha wong makan kerupuk tapi yang dibayangkan empal. Gembloeng.

Saat asyik-asyiknya memamahbiak, aku terkaget dengan apa yang dipesan Bongkeng. Swemproel, ternyata dia pesan nasi sayur lauknya ayam goreng. Kere berijazah! Gondes sialan. Pesanannya jauh lebih mahal dari yang mentraktir. Dengan dongkol kusindir dia dengan setengah berbisik, "Ayam ni yeeeeee.."

Bongkeng adalah teman curhatku sejak lama. Curhat tentang apa saja, termasuk soal April. Walaupun dalam soal cinta dia hampir sama  sepertiku : awam. Tapi dia lelaki yang pede mendekati perempuan. Tidak sebanding lurus dengan wajahnya yang nggak marketable. Dalam urusan perempuan, dia nggak perduli dengan prinsip 3 B --> berusaha, berdoa, dan berkaca. Terutama yang berkaca.

Wajahnya Jawa banget, sejenis "Suku Jawa Terakhir". Bodinya kurus, kulitnya hitam, cocok dengan kriteria seorang penderita gizi buruk. Logat Jawa-nya medok banget. Aku bersahabat karib denganya karena mempunyai kesamaan nasib, sama-sama kere. Jadi kami itu semacam "Kere Bersatu".

Bongkeng sebenarnya nggak suka aku pedekate dengan April yang Salafi tulen itu. Menurut dia, Salafi itu aliran Islam yang mencabut akar budaya penganutnya. Sadar atau tidak sadar penganut Salafi kehilangan jati dirinya, kehilangan Jawa-nya.  Semua jadi ke-Arab-Arab-an. Lebih bangga berpakaian dan bertutur kata menggunakan istilah Arab daripada Indonesia.

Padahal salah satu sunnah Rasul adalah mencintai dan menghargai budaya negeri sendiri. Rasul bergamis itu karena mencintai budaya budaya negerinya. Itu bukan pakaian karangan beliau. Yang jelas sunnah Rasul yang utama itu akhlaknya, bukan pakaiannya. Tidak dengki, tidak mendendam, jujur, santun, ramah, senantiasa tersenyum, dan seterusnya.

Menurut Bongkeng, banyak ajaran Salafi yang menyempitkan makna. Salah satunya adalah bersalaman setelah shalat. Itu masalah bagi mereka. Padahal itu adalah kearifan lokal. Itu bukan akidah, hanya budaya. Nggak ada tuntunannya tapi juga nggak ada larangannya. Itu nggak masalah, karena dilakukan setelah shalat. Setelah shalat nggak masalah mau salaman, push up, atau koprol kalau nggak malu.

Salaman adalah sarana perekat tali batin. Itu nggak wajib. Mau salaman monggo,  tidak salaman juga monggo. Bebas. Ada seribu makna yang tersirat dalam salaman : "Selamat hari ini kita masih diberi iman, sehingga bisa shalat jamaah di masjid", "Selamat kita masih dikasih hidup..", "Selamat kita shalat tepat waktu..." dan seterusnya.

Bla bla bla..biarlah, kita nggak berhak mempermasalahkan pemahaman orang selama itu tidak merugikan yang lain.

****
Bicara soal April, lumayan lah, aku sudah bisa membiasakan diri tanpa kehadiran April. Oke, rasa memang masih ada tapi tidak dengan harapan. Lupakan saja.

Terakhir kali aku berpapasan dengannya di sebuah lorong kantor. Tapi di luar dugaan, dia pura-pura tidak tahu. Sungguh pertemuan yang canggung.  Tanpa sapa, tanpa senyuman, bahkan mukanya terlihat sinis. Padahal aku sudah menyiapkan senyuman terbaikku. Damn.

Aku baru tahu, ternyata perempuan Salafi benar-benar sangat menjaga diri dalam pergaulan antar lawan jenis. Bahkan ngobrol lewat inbox pun mereka nggak mau kalau dengan orang yang bukan mahramnya. Sialan, pantesan tidak membalas inbox-ku.

Dengan tidak menyapa saat berpapasan terakhir kali itu, April seakan-akan memberi isyarat : "Get outta my way sucker! kamu bukan mahramku".

Sejak itu aku menghindar berpapasan dengannya. Bukan karena marah, dendam, atau apa. Aku menghormati keputusannya. Dan juga nggak mau terjebak dalam kecanggungan. Bayangkan saja kalau kamu berjumpa dengan seseorang yang kamu kenal, kamu tersenyum tapi dia tidak membalas senyummu. Swemproel khan?

Semangatku untuk mengenal April sudah kendor, sekarang jadi semakin down. Padahal salah satu yang membuatku kagum pada April adalah kesantunannya yang mengejawantah di senyumnya yang indah. Sekarang keindahan itu luntur disapu gelombang kolotnya ideologi.

Aku tidak menyalahkan dia, tapi menurutku fals kalau kita beragama tapi mengesampingkan aspek sosial, dan atau aspek budaya. Berdalih menundukan pandangan tapi malah mengesampingkan sopan santun, mengesampingkan budaya tegur sapa, mengesampingkan unggah-ungguh pada orang yang lebih berumur atau senior.

Aku nggak paham, hubungan dengan Allah baik, tapi hubungan dengan manusia kacau. Bagi April itu adalah prestasi karena dia sedang mengamalkan pemahamannya. Tapi bagiku itu adalah kegagalan sosial. Aku sangat tahu zina itu dosa besar, tapi menghindari zina dengan cara menghindar total dari pergaulan dengan orang yang bukan mahram, itu salah kaprah.

Agama Islam bukan agama yang membuat penganutnya jadi kuper. Menurutku nggak masalah bergaul dengan segala macam dan jenis manusia, asal jangan pernah berhenti belajar. Kalau keyakinanmu sudah kuat, harusnya nggak gampang masuk angin dengan pengaruh ideologi-ideologi kacau.

Orang yang bergaul dengan segala macam manusia tapi terhindar dari zina, itu hebat. Hebat apa kalau kamu terhindar dari zina tapi hanya bergaul hanya dengan jenismu saja. Itu kayak orang yang berhasil menahan puasa tapi seharian hanya di dalam rumah. Yang hebat itu orang bisa terus berpuasa walau berada di antara orang sedang makan, tidak puasa. Kualitas pahalanya lebih dahsyat.

Itu salah satu bahayanya orang yang sudah terlanjur belajar agama tapi belum lulus jadi manusia. Aku nggak ngomong aku sudah lulus, tapi menurutku aneh kalau ada orang yang berbuat atas nama agama dangan santainya mengesampingkan tegur sapa pada orang yang menawarkan pertemanan dengan baik-baik, yang belum jelas terindikasi tukang zina.

Hukum itu turun di zaman jahiliyah, negeri barbar dengan darurat akhlak yang akut. Saat itu perempuan jadi objek pemuas nafsu. Keluar rumah sendirian bisa diperkosa, walaupun sudah pakai cadar tertutup rapat. Kaum laki-lakinya gampang 'greng', kesenggol sedikit langsung bereaksi. Dan sekarang manhaj Salafi memberlakukan hukum Islam persis seperti keadaan di zaman itu.

Aku tidak sedang menyalahkan atau mengejek manhaj Salafi. Aku tidak bilang ideologiku paling benar. Malah bisa saja aku yang salah. Jangan merasa paling benar. Atas dasar fakta apa aku paling benar, lha wong aku cuman yakin  saja kok. Aku belum pernah ke akhirat. Aku hanya meyakini ilmu yang kudapat dari ulama yang nazab dan sanadnya kupercaya.

Yang penting aku tidak berlaku 100% pada kebenaran yang aku anut. Cukup 99 % saja. Dengan begitu aku akan mendapat ilmu yang lebih tinggi. Aku nggak mau jadi "kerdil". Karena ilmu agama yang kita yakini itu nggak ada yang betul-betul benar. Kebenaran kita relatif. Hanya Allah dan Rasulullah yang benar. Dan kita sama-sama mencari Islamnya Rasulullah.

****
Matinya senyuman adalah matinya cahaya rupa
paras elok akan sia-sia tanpanya
walau dipoles segunung emas permata
pun dioplas bak artis Korea

matinya senyuman adalah matinya aura
seperti bunga mawar yang tercerabut dari akarnya
petalnya layu pucat tak bercahaya
akhirnya dibuang jadi sampah

matinya senyuman adalah matinya empati
gersang kasih sayang dan buram hati
seperti pembunuh yang siap dengan belati
tatapan mata nyalang dan berapi

matinya senyuman adalah matinya kerendahan hati
tanpanya tidak akan menemui kecantikan sejati
yang ada hanya dendam, licik dan iri
muka buram bak anak alay habis di-bully


Ingatlah selalu kalimat sakti, "Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu".

****
Mbuh Pril, lakukanlah yang kamu yakini, aku nothing to lose saja. Mau tersenyum atau sinis padaku, aku nggak mau ambil pusing. Sakarepmu kono, sak bahagiamu.

Well, aku masih jatuh cinta padanya. Tapi sama sekali tidak berharap memilikinya. Pada hakikatnya jatuh cinta tidak ada hubungannya dengan ditolak atau diterima. "Karena cinta telah cukup untuk cinta, " kata Kahlil Gibran.

(Bersambung)

Senin, 21 Januari 2019

Cinta Radikal (Mencari April - 4)



Hari-hari ini aku benar-benar larut dalam duniaku. Detlain demi detlain kerjaan kantor maupun freelance yang menyebalkan banyak kulalui. Aku sudah bisa hidup tanpa bayang-bayang April. Dia seperti hantu yang terus membayangi. Tapi setidaknya dia hantu yang biutipul.

Ada kalanya aku nggak bisa menjaga 'iman', diam-diam nyuri-nyuri waktu membaca status fesbuknya yang kebanyakan postingan soal agama. Yang menurutku sedikit membosankan. Sori. Karena memang cuman soal syariat anak yang baru tobat, tanpa kedalaman ilmu yang cerdas.

Aku juga masih sering berpapasan dengannya di tangga, di depan mesin finger spot, di toilet. Walau nggak ada percakapan, tapi senyumnya cukup membuatku lupa hutang. Membuat otakku fresh (duh dik).  Sialan, ternyata rasa 'itu' masih ada.

Aku berusaha keras melupakannya. Sejak kecewa,  menunggu balasan pesanku di inbox yang tak kunjung dibalas. Aku jadi kapok ng-inbox dia. Aku merasa terabaikan dan nggak penting. Padahal aku tahu dia online, ada postingan baru di wall-nya. Satu-satunya cara yang membuat aku dan dia bisa berinteraksi ternyata gagal juga.

Tapi April nggak salah mengabaikan inbox-ku. Itu hak dia. Aku memang jauh lebih tua dari dia, tapi nggak pantas dituakan. Karena tongkrongan seorang rocker itu jauh dari wibawa. Tongkrongan seorang bajingan. Aku juga tidak punya saham sedikit pun untuk menuntut dia abai padaku. Jadi aku harus legowo menerima kenyataan.

Aku terlalu lama dibuai mimpi indah kisah roman cinta-cintaan yang membuatku lupa memijak bumi. "Woeee!! Turun!!" teriak suara-suara di dalam hati. Aku terbangun dan tersadar.  Aku cuman Imron, pemuda angin-anginan pemuja cinta. Nggak punya kepantasan untuk memiliki gadis semurni dan seindah April.

Maka aku putuskan untuk tidak inbox lagi. Lebih baik concern pada kerjaanku. Ndilalah aku sedang banyak job gambar yang membutuhkan banyak waktu dan konsentrasi tinggi. Jadi aku pasti bisa melupakannya. "Ayo, kamu bisa!!!"

Seandainya mencintai April adalah kesalahan, maka itu adalah kesalahan yang terindah dalam hidupku. Karena aku belum merasakan cinta sesejati ini.

******
Well, aku mencintai orang yang benar, tapi salah kalau berharap banyak. Kenyataannya kami beda haluan. Aku maunya ke sana dan dia maunya ke sono. Jadinya mens sana in corpore sono. Eh, itu istilah olah raga ya.

Akhirnya, setelah kurenungkan, kutimbang,  maka kuputuskan : aku harus berhenti berharap memilikinya. Tidak di kehidupan ini. Mungkin di kehidupan yang lain. Cukup Mbul!

Mentok sudah. Rokenrol nggak akan pernah bisa disandingkan dengan Salafi. Seperti matahari  yang tidak akan terbit dari barat. Kecuali saat akan kiamat,  atau matahari buatan China ---matahari sintetis yang membuat pemeluk agama Shinto (pemuja Dewi Matahari) bingung. Karena tidak boleh menduakan matahari. Itu syirik. Guyon rek---.

Oke, matinya harapan adalah kematian terbesar. Tapi dalam konteks percintaan, itu oke saja. Karena (cuman) mengharapkan seorang manusia. Jangan berlebihan berharap pada manusia. Jangan berharap pada kecantikan dan kegagahan. Itu semua 'tipuan' belaka. Karena sesungguhnya manusia tidak bisa diharapkan. Berharaplah hanya pada Tuhan yang Maha Abadi.

Terlalu berharap hanya pada seorang perempuan di antara semilyar perempuan itu konyol. Cinta memang radikal. Ada pilihan semilyar perempuan di luar sana, tapi aku malah mati-matian mengharapkan perempuan yang tidak mengharapkan aku.

Tapi suara-suara dalam pikiranku terus saja bersuara, "Woeeeii dungu! Memang ada semilyar perempuan di luar sana. Tapi tahukah kau bahwa tiap manusia diciptakan berbeda, walau kembar identik sekalipun. Begitu juga kamu atau juga April. Kamu itu the one and only, tidak akan ada yang menyamai."

Sialan, diam kau!

****
April seumpama hujan. Indah sekaligus misterius. Dari mana dia datang dan akan kemana perginya, selalu jadi pertanyaan abadi di kepalaku. Ah, aku jadi ingat puisi lamaku, tentang hujan. Saat sebelum pikiran dan jiwa ragaku 'terpolusi' April.

Misteri Hujan

mungkin kau belum mengerti
ketika datang kesempitan hati
datanglah pada hujan
berjalanlah di sela-sela rintiknya

di sana ada ruang
yang akan meluaskan hatimu
menyadarkanmu
bahwa hidup ini luas dimensinya

di sana akan kau temukan
kedamaian sejati
yang tak 'kan kau temui di istana yang paling bagus
atau juga di lagu yang paling religius

di sana kau akan jadi ringan
tak ada beda kenikmatan dan penderitaan
karena penderitaan itu diperlukan manusia
penderitaan adalah syarat dari keindahan
penderitaan itu kenikmatan yang menyamar
tak ada bayi lahir tanpa penderitaan ibunya

bagaimana kau tahu nikmatnya sehat kalau tak pernah sakit?

maka
kita harus bisa berjalan di sela-sela rintik hujan
agar memahami betapa luas kemungkinan-kemungkinan dalam kehidupan

***
hujan itu misteri
nikmati saja misterinya
jangan bertanya bagaimana uap air mencapai langit
padahal saat memasak air
uapnya tak pernah sampai ke langit-langit

ah, aku hanyalah awam
tak paham ilmu alam
tak percaya dengan teori hujan
kupikir itu batasan kemampuan pikir manusia
pasti ada ilmu yang lebih tinggi
menjelaskan kronologi hujan
tapi biarlah itu jadi rahasia alam dan Tuhan
karena hidup bukan kesimpulan
hidup itu pencarian

***
ingatlah satu hal
jangan sekali-kali kau maki hujan
hanya karena airnya menyusahkan
kau terusir dari rumahmu sendiri
dagangan sepi pembeli
sekolah-sekolah diliburkan
pegawai kantor tak bisa kerja
tanaman padi rusak binasa
banjir dimana-mana..

sadarlah
hujan hanya taat pada perintah Tuhan
mengalir ke tempat yang lebih rendah
bekerja sama dengan gravitasi
rela tidak menjadi diri sendiri

harusnya kau marah pada dirimu
yang enggan berkolaborasi dengan alam
kau eksploitasi mereka habis-habisan
demi nafsu yang tak pernah terpuaskan
banjir datang, sibuk mencari kambing hitam

Solo, 18 November 2016

****
Memang aku belum benar-benar belum bisa melupakannya. Semakin aku menjauh semakin pula aku ingin mendekat. Semakin aku menghindar, semakin pula aku ingin segera menemuinya walau hanya sekilas melihatnya dari jauh.  Tapi aku harus melawannya tanpa harus lari dari kenyataan ke minuman keras atau drug. Aku tidak sepengecut itu. Hadapi atau mati.

Selama ini aku kayak anjing Herder yang mengejar-ngejar ekorku sendiri. Muter-muter terus nggak henti-henti. "Make up your mind! Ojok plintat plintut! Teruskan atau selesaikan!" ledek suara-suara dalam hati.

Tapi kali ini harus final. Aku membayangkan jauh ke masa depan. Seandainya aku jadi 'imam'nya April (duh 'imam' Mbul, istilah para muslim kagetan). Aku nggak mau nantinya dipaksa bercelana cingkrang dan atau berjenggot seperti kebanyakan anak Salafi.

Bagi kami celana di atas mata kaki itu bukan akidah. Hadits "Celana menutup mata kaki dibakar di neraka" itu bicara soal kesombongan, bukan soal celana. "Celana menutup mata kaki" itu idiom  yang merujuk pada orang yang sombong.

Sebelum jadi Nabi pun, dalam budaya Arab celana menutupi mata kaki itu sebuah kesombongan (lambang kemewahan). Kain mahal di zaman itu. Nabi memakai idiom 'celana menutup mata kaki' untuk menggantikan kata sombong. Jadi sebenarnya bunyi hadits tersebut  : "Orang sombong dibakar di neraka".

Untung Rasulullah bukan orang Indonesia. Jika ada hadits "Unjuk gigi dibakar di neraka". Mereka akan mengharamkan gigi yang terlihat saat bicara. Jadi kalau bicara harus tetep mingkem kalau nggak ingin dibakar di neraka. Padahal 'unjuk gigi' itu idiom, kata yang bermakna konotatif yang  artinya menunjukan kekuatan.

Soal jenggot juga hampir sama dengan celana cingkrang. Nggak ada hubungannya dengan akidah. Tapi bagus kalau kamu berjenggot karena cintamu pada Rasul (ingin persis seperti beliau). Itu yang membuat berjenggot jadi berpahala. Kalau punya jenggot otomatis dapat pahala, wedus bakalan punya pahala yang banyak sekali. Karena wedus berjenggot.

Rasul berjenggot tujuannya untuk menyelisih. Agar beda dengan penganut agama lain. Di zaman itu di Arab, para penganut agama yang berbeda saling mengintai.

Jenggot adalah lambang kedewasaan, kebijaksanaan. Nggak ada anak kecil berjenggot. Anjuran memelihara  jenggot itu lebih pada untuk memelihara kedewasaan, memelihara  kebijaksanaan. Cukurlah kumis, karena kumis dekat dengan mulut. Dekat dengan fitnah, ghibah dan banyak lagi. Maka jagalah mulutmu.

Andai aku menikah dengan April, aku nggak bakalan tega melarang anakku bernyanyi, menggambar makhluk hidup, menari dan banyak yang diharamkan oleh sekte Salafi. Itu membunuh daya imaji dan kreatifitas anak. Karena pada dasarnya anak-anak suka menyanyi, menggambar, dan bermain.  Mereka bisa tahan main game seharian tanpa makan.

Aku penasaran, bagaimana sikap orang tua Salafi ketika tahu anaknya nyanyi, "satu satu aku sayang ibu..dua dua juga sayang ayah..."

Kebanyakan alasan pengharaman musik berasal dari hadits ""Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras dan musik." (HR. Bukhari dan Abu Daud). Memang, musik banyak digandengkan dengan zina dan minuman keras. Tapi bukan berarti musik itu haram. Selama nggak melalaikan ibadah, silakan saja bermusik.

Musik itu ekspresi sejati manusia. Kita bicara tiap hari itu musik. Logat atau cengkok itu musik. Tiap daerah beda logatnya. Sudah aku tulis di episode sebelumnya, tak tulis maneh gak popo yo.

Membaca puisi, ngaji, adzan maupun qomat pun sebenarnya itu bermusik. Ada nada, irama, tempo dan bunyi.  Dengan unsur-unsur itu lah Al Qur'an jadi lebih merdu dilagukan. Jadi, bagaimana mungkin musik diharamkan?

Musik itu cuman kendaraan. Bisa dijadikan alat pendidikan, alat dakwah, alat propaganda, alat maksyiat, bahkan bisa jadi alat penyembuh (healing). Makanya penikmat musik lebih awet muda dari yang tidak suka musik.

Hadits itu dihimpun 300 tahun sesudah wafatnya Rasul. Berdasar katanya ulama itu, perawi itu. Jumlahnya dua juta dua ratus hadits. Yang lulus dibawah seratus ribu. Itu pun belum tentu lulus. Kalau kira-kira nggak masuk akal, buang saja, hanya Al Qur'an yang dipakai. Nggak ada ayat di Al Qur'an yang secara tegas mengharamkan musik. Lha wong Nabi Daud saja main seruling.

Maka hadits pun harus diverifikasi. Apalagi jaman dulu tak ada alat perekam. Jadi redaksionalnya tidak sama persis dengan yang tercantum di kitab hadits. Hanya Al Qur'an yang redaksionalnya sama persis dengan apa yang difirmankan oleh Allah dan tak bakalan bisa dirubah sampai kapan pun.

Jadi, hadits itu sangat boleh dikritisi. Jangan jadi manusia taqlid. Bukhari Muslim (atau ulama lain) boleh dikritisi. Asal bukan Rasulullah dan Allah.

Tentu saja kami tidak menolak hadits. Kami hanya lebih pada menggunaan akal. Agama Islam adalah agama yang aqliyah (sangat dianjurkan menggunakan akal). Maka gunakan otakmu. Itu yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.

Satu hal yang kutakuti jika aku memutuskan menikah dengan perempuan Salafi adalah mereka menolak aktivitas budaya yang sifatnya ceremonial. Itu bid'ah bagi mereka. Padahal itu semua nggak ada urusan dengan akidah. Itu cuman ibadah muamallah. Hasil budidaya manusia. Nggak ada tuntunannya, tapi juga nggak ada larangannya.

Upacara-upacara adat itu sama subtansinya dengan anak yang ulang tahun yang diacarakan : makan-makan, bergembira, dan saling mendoakan. Sama subtansinya dengan kamu fesbukan, bertemu banyak temanmu dan saling mendoakan satu sama lain. Sekali lagi, itu nggak ada tuntunanya, tapi juga nggak ada larangannya. Hanya ibadah muamallah.

Di luar ibadah wajib (mahdhah), kita boleh melakukan apa pun asal sesuai dengan syariat, menghasilkan kebaikan, menjadikanmu manusia yang lebih baik. Islam itu agama yang sempurna. Tapi bukan berarti terus berhenti, begitu-begitu saja. Kita hidup di zaman yang berbeda dengan Rasul. Rasul hanya mencontohkan substansinya dan kita meneladani beliau sesuai di zaman kita.

Jangan salah paham, upacara-upacara adat itu bukan nambahi yang sifatnya merusak ibadah wajib, tapi membuat Islam jadi lebih indah. Seumpama kursi yang nggak cuman kayu dijadikan tempat duduk, tapi juga diukir dengan ukiran indah. Seumpama bantal yang nggak cuman kain yang disarungkan ke bantal, tapi pinggirannya dikasih renda atau ruffle.

Islam di sini jauh lebih indah dari Islam di Arab. Dan itu sama sekali tidak merusak esensi Islam. Halal bi halal, nyadran, kenduren, tahlilan dan banyak lagi. Itu indah banget. Di Arab tidak ada. Salafi itu memurnikan Islam seperti Islam di zamannya Rasul. Itu baik dan oke. Tapi kenyataanya kita hidup di zaman yang sama sekali berbeda dengan beliau. Hukum itu berlaku kondisional.  Menyikapi ayat itu harusnya kontekstual bukan tekstual.

Sekian khotbah Jum'at kali ini.

****
Jadi daripada aku terus-terusan hidup dalam fantasi, mending aku sudahi saja 'petualanganku' kali ini. Maaf  April kalau aku menggangumu dengan inbox-inbox nggak bermutuku selama ini. Aku berjanji, nggak akan inbox lagi. Aku akan sudahi babak imajinasiku tentangmu. Ya, aku menyerah. Satu kata terakhir  untuk menutup cerita ini ---> S.E.L.E.S.A.I.

Si yu tumoro. Sampai bertemu di ruang rindu.

-Robbi Gandamana-

*Cerita sebelumnya.



Kamis, 03 Januari 2019

Rocker Salafi (Mencari April-3)



"Ali Imron, dipanggil bos!" teriak Admin kantor padaku pagi itu yang cukup membuatku ndlahom. Tumben bos pagi-pagi begini sudah manggil-manggil. Edan ya'e.

---Nama lengkapku memang Ali Imron, tapi aku lebih suka dipanggil Imron. Kalau pakai nama Ali takut dikira penganut Syiah dan diteriaki "sesat!". Repot. Muslim sekarang itu sensitif banget dan sukanya mensesat-sesatkan orang---

Ternyata si bos cuman ngasih briefing soal orderan buku baru untuk anak PAUD. Dia meminta aku sebagai ilustrator agar gambarnya nanti dibedakan karakter wajah dan tubuh antara anak PAUD, TK dan SD. Aku mengiyakan saja omongannya, sakarepmu bos. Kalau berani nginterupsi, urusan jadi panjang dan berlarut-larut sampai larut malam.

Kalau soal kerjaan, si bos ini tahan ngomong dua hari dua malam nonstop. Apalagi kalau sebelumnya makan ulat Hongkong. Kayak burung Murai aja.

Eh, aku khan mau meneruskan kisah kasihku dengan April. Lha kok malah cerita soal kantor.

Jujur saja, aku malas meneruskan kisah ini karena aku nggak pandai mengkisahkan roman picisan cinta-cintaan. Aku lebih bisa bicara soal seni atau rokenrol. Aku nggak paham cinta. What!? Cintahhh!?? Ada yang bilang  cinta itu kayak poninya Andika Kangen Band. Sudah tahu nggak cocok, tetap dicocok-cocokan.

Tapi sayang kalau romancinta bertiga eh, romantika bercinta ini tidak dikisahkan. Anggap saja ini sebagai biografi singkat  tentang kisah cintaku yang konyol. Karena mengharapkan seseorang yang sangat jauh dari jangkauanku. Yo wis lah, nggak papa konyol. Karena konyol itu indah. Asal tidak hina.

Kamu tahu, April itu bukan jenis  perempuan yang asyik untuk dikejar-kejar, diajak pacaran. Perempuan jenis ini inginnya langsung dilamar. Itu tantangan luar biasa bagiku.

Dan itu membuat aku merasa nggak akan bisa meneruskannya. Aku nggak cocok dengan dengan cara ini. Menjalin hubungan serius tapi tanpa penjajakan itu gambling. Seperti kembali ke zaman sepur kluthuk saja. Aku nggak pernah akur dengan isapan jempol soal perjodohan. Sori.

Sebulan lebih aku menunggu. Basa-basi di inbox kemarin dan tawaran pertemanan belum mendapat tanggapan. Dan itu menguatkanku, bahwa aku benar-benar nggak bisa meneruskan ini. Pada perempuan yang moderat saja aku kesulitan dalam melakukan pendekatan, apalagi yang Salafi.

Payah, belum apa-apa sudah menyerah.

Bulan Desember telah tiba
Hujan yang dinanti datanglah sudah
Kubuka lebar pintu jendela
Menikmati aroma tanah basah

Tapi ini gundah masih saja meraja
Karena harapku padamu terasa sia-sia
terlalu lama terbuai ekspektasi
mantra sakti jadi basa-basi

Tiap malam aku bunuh diri
Tiap pagi aku lahir kembali
Tiap hari aku membunuh masa lalu
Tapi tak cukup bisa melupakanmu


****
Pagi itu  aku berpapasan lagi dengan April di depan mesin absen fingerspot. Setelah cap jempol dan mesin berbunyi "tengkiyu", aku langsung berusaha membarengi langkah April menuju ruang kerja di lantai 3. Yang hanya berjarak 30 detik dari lantai 1 dengan jalan kaki naik tangga. Dan itu seolah-olah menjadi 30 detik yang menentukan hidup matiku.

Setelah say hello dan memuji penampilannya, aku pun berbasa-basi mencoba mengakrabkan diri. Sok akrab banget, babah wis. Pokoknya kali ini harus lebih baik dari kemarin. Aku memberanikan diri menyinggung soal pesanku di inbox-nya kemarin yang belum juga dibalas olehnya.

"Kamu punya akun fesbuk khan?"
"Iya, kenapa mas?"
"Kamu jarang online ya?"
"Nggak juga sih.."
"Aku kemarin inbox kamu. Sampai sekarang kok nggak di bales sih? Sengaja yaaa?"
Dengan wajah polos plus senyum nyengir, April bilang, "Ooh itu panjenengan to mas. Maaf mas, saya hanya mau bales message pada orang yang sudah kenal."
"Uasemm. Ya sudah, sekarang sudah kenal khan? awas kalau besok nggak dibales lagi," ancamku bercanda sebelum akhirnya kami pisah ke meja kerja masing-masing.

Siangnya aku cek inbox fesbuk. Dan pesanku sudah dibalas dengan singkat, padat dan..salah : "oke mas Imron, boleh." (Masih ingat pesan inbox-ku dulu khan? Kalau belum, baca "Mencari April bagian 2").

Baiklah.

Itulah awal aku dan dia inbox-inbox-an ngobrol ngalur ngidul di fesbuk. Hampir tiap hari aku kirim pesan ke dia. Ada kalanya langsung dijawab, ada kalanya sampai berhari-hari baru dijawab. Menunggu jawaban membuatku lesu jaya. Seperti seorang korban Tsunami yang menunggu bantuan dari pemerintah.

Sampai 2 bulan lamanya sejak pertama kali aku inbox dia, aku belum berani ngasih sinyal kalau aku punya rasa sama dia. Aku takut dia semaput, shock, nggak siap menerima. Perempuan kalau sudah begitu biasanya langsung menghilang dari peredaran. Kalau itu terjadi, aku akan memulainya dari nol lagi, atau tidak sama sekali alias tamat.

Jadi lebih baik aku tunggu sampai saat yang benar-benar tepat sambil menikmati prosesnya. Tapi kalau dia  peka, harusnya tahu apa yang sedang terjadi. Cukup dengan merasakan aura, gelagat dari kata-kataku yang tercipta saat  ngobrol dengannya di inbok fesbuk. Coba saja rasakan aura obrolannya :

"Kamu aslinya dari mana sih?"
"Boyolali mas. Memangnya kenapa?"
"Oh enggak, saya kira dari kayangan."
"Kok bisa???"
"Kukira kamu itu titisan Ainul Mardhiah, bidadari surga."
"Pretttt...guomballl."

*****
Hari-hari berganti, bulan demi bulan kulalui  terasa lebih berwarna. Walau hubunganku dengan April tidak pernah meningkat ke level igra 4 (memangnya belajar ngaji). Dan memang hubungan via inbox ini cukup membuatku mati gaya. Pedekate ke perempuan Salafi kadang menyebalkan. Tapi No Pain No Gain, nggak ada pengorbanan, nggak mungkin ada hasil.

Ingin rasanya melanjutkan ke level yang sangat serius---> melamar dia (What!? Ciyus? Enelan?? (diam loe!)). Hanya itu senjata pamungkas menaklukan perempuan Salafi. Tapi nggak mungkin aku jadi salafi. Karena juga nggak akan pernah ada yang namanya Rocker Salafi.

Salafi itu madzhab  Islam tingkat tinggi. Mereka memurnikan Islam seperti Islam di zaman Rasulullah. Aku nggak bisa seperti itu. Menurut pemahamanku, zaman Rasulullah beda banget dengan zaman kita sekarang. Di zaman Rasul, kehidupan sosial budaya masyarakatnya jahiliyah. Hukum Islam lahir karena keadaan itu. Jauh beda dengan budaya dan karakter bangsa kita sekarang.

Agama diturunan di masyarakat yang akhlaknya tidak tertolong. Bukan karena bangsa Arab lebih baik dan unggul. Ingat, Tuhan tidak rasis.

Harusnya hukum itu berlaku kontekstual dan kondisional. Artinya hukum itu harus menyesuaikan keadaan. Nggak tekstual, cuman dibaca doang. Pelajari ada apa di balik ayat.  Tapi maaf, aku tidak bermaksud mendiskreditkan Salafi. Silakan saja anut madzhab yang paling masuk nalar dan logikamu. Aku gak ngurus. Aku menghormati perbedaan.

Ngomong agama nggak akan pernah ada habisnya.

Akhirnya kebuntuan menghantuiku lagi. Kemampuanku hanya sampai di level inbox fesbuk. Mungkin dia hanya cocok jadi kekasih virtualku, atau aku memang lelaki pengecut. Beraninya via inbox. "Datangi rumahnya, lamar dia, " kata hatiku mencemooh. Ah sudahlah, aku sudah cukup bahagia dengan pencapaian ini. Seandainya ini cuman mimpi pun aku sudah bahagia. So what!?


-Robbi Gandamana-

Rabu, 19 Desember 2018

Memperkosa Fakta (Mencari April - 2)



Ketertarikanku pada April adalah sesuatu yang sejati. Karena datang dari hati yang tulus. Tidak datang dari nafsu atau sekedar kagum pada bentuk fisik semata. Mana bisa nafsu lihat perempuan Salafi. Jilbabnya menutup seluruh badan, yang tersisa cuma wajah. Dan aku berharap semoga yang tersisa itu tidak tertutup cadar.
---Aku punya pikiran mbeling kalau perempuan bercadar itu curang. Aku nggak bisa melihat wajahnya dengan jelas, sedangkan dia bisa dengan leluasa melihat wajahku. Guyon rek---
Aku tahu, impianku memiliki April adalah suatu hal yang mustahil. Tapi sejak awal aku sudah siap kecewa, jadi ketika itu benar-benar terjadi, mungkin aku lebih siap menghadapinya. Dan aku bahagia dan tidak pernah sebahagia ini. Ini bukan pesimis, tapi tahu diri. Raimu, eh raiku iku sopo.
****
"Hai Imron, Imron shampo!" sapa Bongkeng suatu pagi saat berpapasan denganku di kantor. Sahabatku satu ini memang suka memplesetkan namaku. Imron diplesetkan jadi Emeron. Maksudnya Emeron Shampoo, salah satu nama produk shampo itu. Iso ae.
"Masih belum menyerah dengan April?" tanya Bongkeng yang sering aku curhati soal April. "Sudahlah skip saja dia bro. Kau menginginan sesuatu yang tidak bisa kau jangkau. Koyok ganok arek wedok liyo ae. Arek koyok ngono iku angel ingon-ingonane. Salah pakane iso mati. "
"Ndasmu. Menengo Mblo. Ini bukan soal aku nanti jadian atau tidak, " jawabku. "Ini soal dahaga jiwa. Kebutuhan mendasar manusia. Mungkin lapar bisa aku tahan, tapi tidak dengan cinta. Tidak perduli apa jadinya nanti. Yang penting aku sudah berusaha semampu yang aku bisa."
Aku bukan pakar cinta. Pemuda rokenrol tahu apa soal cinta. Yang kutahu cinta itu anugerah. Mencintai saja indahnya luar biasa, apalagi kalau dicintai. Cinta bukan melulu soal bersama atau berpisah. Cinta tidak pernah salah. Salah ketika ditempatkan di tempat yang salah. Jangan tempatkan cinta di bawah nafsu syahwatmu. Salah satu akibatnya adalah LKMD--> Lamaran Keri Meteng Disik.
Cinta memang buta. Aku tahu kalau rokenrol nggak bisa disatukan dengan Salafi. Tapi aku nekad menyatukannya. Itu yang dinamakan memperkosa fakta. Jangankan jadian, ngajak ngobrol berdua saja sulit terjadi. Bisanya hanya via medsos. Untungnya ini zamannya medsos. Bukan zaman Neolithikum.
Dia terlalu murni buatku. Perempuan Salafi adalah perempuan pertapa. Mereka menghindari (menjadi bagian) bincang-bincang di suatu tempat yang lebih banyak pria daripada wanitanya. Karena itulah saat jam istirahat dia tidak pernah makan di warung dekat kantor. Dia memilih pergi jauh dari kantor, cari warung yang menurutnya syar'i. Kalau tidak, dia memilih asyik sendiri di depan kompi.  
Perempuan Salafi bukan jenis perempuan gaul zaman sekarang yang suka film drama Korea. Nggak lah. Bahkan mereka tidak nonton film---Aku sendiri sering tersinggung kalau lihat film drama Korea. Bukannya apa, aku sama sekali nggak ngerti dialognya.  Ngomong opo se arek iku--- 
Bagi mereka film itu gudangnya maksiyat, banyak pamer aurat, bisa melalaikan badah. Iya sih, tapi aku melihat film sebagai film. Seperti seorang dokter kandungan pria yang memeriksa alat kelamin wanita yang mengandung. 
Satu hal yang kuinginkan adalah menyanyikan sebuah lagu cinta untuknya. Tapi Orang Salafi mengharamkan musik. Musik di henponnya diganti murottal Al Qur'an. Padahal semua unsur musik ada dalam murottal. Murottal adalah salah satu cara membaca Al Qur'an dengan menfokuskan pada kebenaran bacaan dan lagu al Qur'an. Ada bunyi, nada, irama dan tempo di sana.
Jadi, bagaimana mungkin musik itu haram? Lha wong kita bicara saja itu pakai bunyi, nada, irama dan tempo. Nada bicara orang Jawa beda dengan orang Ambon. Apalagi dengan orang utan. Ya iyalah.
Musik itu cuma kendaraan. Nggak masalah kalau dijadikan kendaraan menuju Allah. No problem kalau jadi sarana untuk mengingat Allah. Boleh saja jika bermusik membuat kita semakin tertanam rasa cinta dan kekagumammu padaNya. Karena semua keindahan itu asalnya dari Allah.
Jadi bukan soal musiknya yang haram, tapi bagaimana dan untuk apa musik digunakan. Yang penting punya etika, tidak menyimpang dari tuntunan agama.
Aku tidak sedang menyombongkan madzhadku. Bukan itu poinnya. Aku menghormati semua madzhab. Madzhab itu lahir karena tafsir. Dan tafsir itu nggak ada yang betul-betul benar. Kebenaran semua madzhab itu relatif. Yang pasti benar itu Allah.  Dan semua madzhab itu mencari Islamnya Rasulullah.
---Sori April, tetaplah jadi Salafi. Kalau kamu bukan Salafi, bisa jadi aku tidak akan mengagumimu seperti saat ini. Karena kamu Salafi maka kamu keren!---
Parameter keberhasilan muslim dalam mendalami Islam itu bukan soal benar atau salah dalam menafsirkan ayat, juga bukan karena lebih hafal ayat, atau lebih fasih bacaannya. Tapi parameter keberhasilan seorang muslim itu bila setelah mendalami Islam---> dia jadi lebih mencintai Allah dan Rasulullah, jadi lebih kuat imannya, lebih peka rasa sosialnya, lebih baik dari sebelumnya.
Lha kok malah ngustadz. Ya'opo se Mblo.
****
Sebenarnya aku belum lama mengenal April. Makanya Bongkeng meledekku sebagai orang yang gampang menyimpulkan perasaan. Baru kenal kemarin sore, sudah berani ngomong cinta. "Cinta dari Hongkong!?" ledek Bongkeng.
So what!? Bagiku, cinta bisa datang begitu saja lewat pandangan pertama. Mungkin Bongkeng tipe orang yang rasa cintanya tumbuh setelah melalui tahapan-tahapan berliku. Aku nggak suka berliku-liku, bikin perut mules. Harus sedia antimo.
Aku hanya beberapa kali bicara denganya, itu pun kebanyakan basa-basi. Karena dia selalu berdua dengan teman perempuannya. Aku nggak pernah sekalipun punya kesempatan ngobrol hanya berdua dengannya.
Akhirnya aku beranikan diri inbox fesbuknya. Bismillah, nekad. Sebelumnya aku baca Al Fatihah, Ayat Kursi, Sholawat Nariyah, atau apa pun yang kuingat untuk menenangkan diriku yang grogi jaya. Dadaku dak duk dak duk nggak karu-karuanSwemproel.
Aku memulai dengan basa-basi standar, "Ini betul April yang kerja di penerbitan buku CV. Mapan Mandiri itu ya? Kalau iya, saya Imron mbak. Masih satu kantor sama sampeyan. Saya tadi sudah add. Mau khan berteman dengan saya?" ---karena belum akrab mengenalnya, aku harus pakai sebutan 'mbak', biar sopan. Aku wong jowo Mblo---.
Sudah hampir seminggu belum juga ada tanggapan darinya. Aku mulai pesimis kalau dia  tidak mau menjawab inbox-ku dan menolak confirm ajakan pertemanan. Mungkin dia ngeri lihat foto profilku yang medeni bocah : gondrong, dekil, nggak Islami blas. Tipe wajah pemerkosa di serial sinetron Indonesia.
Di kantor aku masih sering melihat April dari kejauhan. Malah sempat berpapasan dengannya sesaat setelah absen di mesin finger spot. Dia hanya tersenyum. Aku terbingung harus ngomong apa.  Mulutku terkunci, dan kuncinya hilang entah dimana. Aku misuh-misuh dalam hati. Begitu sulitnya berbasa-basi. Aku sama sekali tidak berani menyinggung soal inbox.
Momen saat itu cocok dijadikan adegan video klip lagu "Pelangi di Matamu" dari Jamrud. Dan sepertinya aku memang butuh kursus merangkai kata.
Well, sekarang yang bisa kulakukan hanyalah menunggu. Cara terakhir yang aku bisa telah kutempuh. Ditanggapi atau tidak, aku tetap bahagia. Kalau cinta itu anugerah, kenapa harus disesali.
(Bersambung)

-Robbi Gandamana-

*Cerita sebelumnya.


Jumat, 14 Desember 2018

Mencari April


Namaku Imron (bukan Iron Maiden, band metal legendaris asal Inggris). Seorang muslim biasa, pekerja seni, rokenrol, dan mudah jatuh cinta (baca : pengagum wanita). Tapi percayalah, aku  100% monogami. Selama hidup hanya pernah sekali pacaran. Itu pun kalau bisa disebut pacaran.
Sejak putus dengan yang pertama, aku males ber'bussines of love' lagi  dengan perempuan. Ada beberapa yang  menawan hati, tapi aku sama sekali tidak berambisi menindaklanjutinya ke level yang lebih serius. Aku sudah cukup bahagia dengan cinta model platonis---> bercumbu dengan bayangan. Payah!
Soal perempuan, aku bukan tipe orang yang suka pilih-pilih. Minimal asyik diajak ngobrol, itu  sudah oke buatku. Kalo soal rupawan dan bodi menawan itu bonus. Tapi kalau disuruh memilih antara perempuan cantik dengan perempuan yang enggak cantik. Tentu saja aku milih yang pertama, gila apa.
Aku masih muda, masih bisa memilih dan memilah mana perempuan yang ku suka. Aku bukan lelaki berumur 40an yang melampaui detlain nikah, yang tabah menjalin hubungan serius tidak berangkat dari rasa saling mencintai, tapi mengkondisikan cinta.  Menikah karena terjebak umur. Itu oke saja, tapi aku belum bisa begitu. Semoga.
Sudah sekian banyak perempuan yang aku puja,  tapi kali ini jauh beda dari biasanya.  Dulu kusuka perempuan trendy dan gaul, tapi saat ini aku naksir berat pada perempuan alim berjilbab besar. What!?? Tentu itu kontradiktif dengan karakterku. Pemuda rokenrol jatuh cinta pada perempuan konservatif?! Aku salah opo rek?
Dia masih seperusahaan denganku, tapi lain divisi. Aku tidak mengenalnya secara langsung. Aku hanya tahu namanya dari temanku yang juga nggak kenal akrab dengannya. Dan itu yang membuatku galau, karena dengan begitu temanku gagal  diandalkan jadi Mak Comblang. Aku nggak pandai mendekati perempuan. Aku khan pemalu (ojok ngomong sopo-sopo).
Namanya April. Aprilia Dewi Pertiwi. Orangnya tenang, tutur katanya halus dan sopan, wajah rupawan tanpa polesan, murah senyum, tersenyum pada siapa pun yang baik padanya. Dan tampaknya semua orang baik padanya. Karena aura kebaikan selalu terpancar di wajahnya.
Aku melihat dia sebagai manusia. Aku nggak mau terdikotomi oleh aliran, sekte atau madzhab. Aku nggak perduli soal Salafi atau Wahabi. Aku jatuh hati pada kesantunannya, senyumnya, wajahnya yang unik, keanggunannya, kesederhanaannya, kecantikannya, caranya tersenyum saat berpapasan denganku.
Aku tidak sanggup mendekskripsikan kecantikannya. Kecantikan yang unik dan alami. Luar biasa indah. "Subhanalloh,"  kalau kata ibu-ibu pengajian zaman sekarang. Sungguh salah satu karya masterpiece dari Tuhan.
Dia sangat supel. Kukira perempuan Salafi  hanya mau berteman akrab dengan golongannya. Ternyata tidak juga Mblo. Mereka manusia seperti kita yang juga bisa mencintai dan butuh dicintai. Bedanya hanya di kostum dan atau teknis ibadah. Itu pun nggak beda-beda amat.
Aku nggak anti perbedaan. Justru karena perbedaanlah maka tercipta kehidupan yang harmoni. Lagian bedanya aku dan dia cuman beda madzhab. Kukira aku bisa menghadapinya. Aku seorang muslim, walau sama sekali tidak terlihat muslim. Karena agama tidak perlu diperlihat-lihatkan, bagiku yang penting itu bukan apa agamanya tapi apa manfaat yang diberikan pada orang lain.
Gila men, aku sedang tergila-gila pada seorang bidadari Salafi. Ingin rasanya aku tato lenganku dengan huruf A kapital di tengah lingkaran. Tapi tentu saja itu tidak kulakukan, bukan soal halal haram, aku nggak hobi mentato tubuh dan juga pasti orang akan salah paham, menuduhku sebagai penganut ideologi Anarkis.
Mulailah aku menyusun rencana pencarian informasi sebanyak-banyaknya soal dia. Siapa dia, lulusan mana, rumahnya dimana, suku bangsa apa, anake sopo, hobinya apa, pokoknya apa pun informasi yang menyangkut soal dia aku ingin ketahui. Bukan soal penting atau enggak, tapi keterikatan batin  akan semakin kuat jika mengetahui banyak soal kehidupan perempuan yang aku kagumi. Jangan tanya kenapa, aku nggak tahu.
Aku bingung darimana memulainya. Jarang perempuan salafi bermedsos. Mereka menjauhi medsos. Jika pun ada, propic-nya tanpa foto wajah asli. Mereka meyakini dengan memasang foto wajah di medsos itu akan memancing mata para lelaki untuk tidak menundukan pandangan. Duh dik, abot.
Tujuan bermedsos itu untuk mengenal dan dikenal orang banyak. Dan salah satu syarat untuk dikenal itu harus menunjukan foto. Ya'opo se rek. Aku sendiri tidak akan meng-confirm seseorang yang add aku tanpa ada foto wajah asli.
Menundukan pandangan itu bukan berarti tidak boleh memandang wajah lawan jenis. Nggak masalah memandang wajah (atau tubuh) perempuan atau lelaki, asal tidak ada muatan syahwat, asal hati bertapa. Jangan salah, walau pakai jilbab besar pun imajinasi lelaki bisa melayang liar kemana-mana jika memandangnya dengan muatan syahwat.
Jadi menurutku silakan saja memajang foto cantikmu di medsos (bukan foto yang sensual atau menggoda). Kalau ada seseorang di luar sana yang berimajinasi liar atau nafsu karena wajahmu, itu bukan salahmu. Semua tergantung dari niat di hatimu.
Semua yang ada pada perempuan adalah godaan bagi laki-laki. Nggak cuma foto profil, kamu ke kantor pakai baju bagus pun itu bisa membuat laki-laki tidak bisa menundukan pandangan. Wanita adalah salah satu godaan besar bagi lelaki di dunia.
Ah biarlah aku nggak memperpanjang soal ini, kalau kubahas panjang lebar nanti malah jadi tulisan opini, bukan cerpen.
*****
Aku memulainya di fesbuk. Medsos ini jadi pilihan pertama karena paling populer di antara medsos lain di dumay. Agak aneh juga kalau hari gini ada anak muda yang nggak punya akun fesbuk.
Aku ketik namanya lengkap dengan kota asal di kolom pencarian fesbuk. Seribu nama April tertera di sana. Swemproel , ternyata nama April sudah sangat pasaran di jagat raya ini.
Kadang aku merasa konyol melakukan ini. Aku mencari seseorang dengan referensi yang pas-pasan. Patokannya cuma nama lengkap, domisili tempat tinggal dan latar belakang pendidikan terakhir. Ah persetan, kalau ini membuat aku bahagia why not? Kenyataannya aku juga lagi nganggur total.  
Aku mulai cek satu persatu akun-akun yang bernama April. Aku skip yang propic-nya alay, memonyongkan mulut sok imut, dimanis-maniskan, sok kalem dan tidak berjilbab. Kusisakan hanya yang benar-benar cocok dengan kriteria kaum akhwat Salafi. You know lah.
Setelah melalui perjuangan panjang yang mengasyikan, aku mulai menemukan titik (sepertinya) terang.  Serasa menemukan harta karun Raja Sulaiman. Kebetulan akunnya disetting bisa dilihat publik. Aku bisa lihat foto-foto postingannya (tanpa satu pun foto dirinya), membaca status atau postinganya.
Aku yakin ini pasti April yang aku cari. Dari status curhatnya yang berbentuk puisi dia menyebut kondisi kantornya yang cocok dengan kondisi perusahaan tempat aku kerja. Absen finger print, tiap hari ngisi jurnal laporan kerja, dan banyak lagi. Ternyata salafi bisa berpuisi juga. Apalagi puisinya keren (untuk ukuran anak Salafi. Ngenyek).
Aku terus scroll ke bawah, dan berhenti pada satu postingan soal 'penyakit kasmaran' (al-'Isyq) yang membuatku galau. Intinya Perempuan salafi memang harus siap membunuh cinta yang tumbuh pada orang yang 'salah'. Mereka tidak main-main dalam urusan cinta antar lawan jenis. Mereka bener-bener perempuan yang pilih-pilih.  Harus yang pandai mengaji, ahli ibadah, berpenghasilan bagus, dan banyak lagi, yang jelas aku tidak masuk kriteria.
Bagi mereka bukti cinta adalah menikah. Tidak ada rayuan, tidak ada pacaran. Menikah atau tidak sama sekali.
Jadi kesimpulan sementara, aku nggak akan bisa memenangkan hatinya, tidak akan pernah jadi pilihan hatinya. Dan aku memang nggak pantas jadi pilihan. Nggak masalah, demi Tuhan aku tetap mencintainya.
Aku nggak perduli kalau ini akan jadi platonis lagi. Setidaknya dengan mencintainya, hidupku jadi lebih berwarna, aku jadi semangat datang ke kantor--->  untuk sekedar memandangnya dari jauh, merasakan kehadirannya, mendengar tawanya, melihat senyumnya.
Karena mencintainya, pori-pori  kreatifitasku terbuka, adrenalin semangatku tumbuh. Mungkin aku akan kecewa dan sakit pada akhirnya. Tapi aku akan pelihara rasa sakit itu. Karena akan berbuah karya yang indah, menjelma ilmu, menggugah kesadaran, melahirkan hikmah, menjadi revolusi diri.
Aku tidak akan pernah menyesal. Sebaliknya malah bersyukur. Aku telah mencintai orang yang 'benar'. Yang jauh dari potensi berbuat maksyiat. Apa pun rasa sakit yang aku rasakan karena mencintainya bagiku adalah kenikmatan yang menyamar.
Tapi tentu saja 'petualangan' ini belum klimaks. Aku masih terus mencari celah, walau semua pintu telah tertutup.  Aku sangat percaya bahwa jika kita mencintai karena Tuhan maka cinta akan selalu menemukan jalan.
(Bersambung)

-Robbi Gandamana-

Selasa, 16 Januari 2018

Manusia Eceran


Ini kisah seorang teman yang berkisah tentang temannya yang punya teman.
Bongkeng, seorang buruh pabrik kacangan pinggiran kota kecil. Kecil gaji yang didapatnya hanya cukup untuk makan dirinya, seorang istri dan anak lima. Lima belas tahun tinggal di sebuah rumah tipe dua satu yang atapnya bocor segala penjuru angin. Angin duduk, angin selonjor, angin senden dan angin yang lain adalah kawan karib bagi Bongkeng Family.
Hari-hari hidupnya dijalani  dengan 'day by day'alias pas-pasan. Pas-pasan gaji yang didapat pun masih nggak cukup untuk makan. Makan tiga kali sehari bagi Bongkeng adalah kemewahan. Kemewahan seorang buruh rendahan yang tetap bisa bahagia dan menolak putus asa. Putus asa hanya untuk pecundang, katanya.
Oh iya, Bongkeng itu nama masa remajanya. Nama kebesaran masa lalu saat masih aktif di jamaah tawuran syariah. Nama aslinya sebenarnya Bongky Sugendon. Dijuluki Bongkeng karena otaknya agak bongkeng alias somplak. Tapi meskipun begitu dia baik, jujur, setia kawan dan...suka makan laler ijo.
Bongkeng adalah tipe manusia eceran. Karena mampunya hanya membeli produk yang  eceran--> sabun eceran, shampo sachetan, pulsa lima ribuan, rokok ketengan, beli beras pun tidak pernah lebih dari dua kiloan. Dia tidak pernah mampu beli produk yang sifatnya paketan apalagi grosiran.
Kehidupan ekonominya senin kemis, tirakat all the time. Berhutang sudah mendarah daging di dalam kehidupannya. Makanya resolusi tahun barunya di tahun 2018 ini sederhana: bebas dari hutang. Resolusi yang singkat, padat, dan....salah. Itu karena Bongkeng tahu diri. Dia memahami dosisnya. Bukan kayak anak yang nilai ujiannya jeblok tapi minta dibelikan motor.
Bulan besar adalah 'bulan petaka' bagi buruh rendahan seperti Bongkeng. Di bulan-bulan itu banyak sekali acara pernikahan yang tentu juga banyak yang harus disumbang. Apesnya di dunia kerja nggak ada tunjangan resepsi. Ada uang atau tidak ada uang harus nyumbang. Padahal dirinya lebih layak di posisi yang disumbang (karena masuk nominasi Kere of the Year).
Sumbangan seperti itu harusnya sukarela, tidak ada paksaan untuk melakukannya. Tapi dalam soal ini, orang seperti Bongkeng 'dipaksa' harus menyumbang, ada atau tidak ada uang.  Maka jangan heran kalau ada orang yang datang kondangan bawah amplop tapi isinya kosong melompong. Ada yang tidak datang karena malu tidak bisa menyumbang, kalau datang takut dituduh sebagai pemilik amplop kosong tadi. Dan Bongkeng lebih banyak melakukan yang kedua. Terpaksa.
Soal sumbang-menyumbang ini cukup membuat Bongkeng mumet ndase. Walaupun dia ndlahom tapi masih sedikit paham agama. Baginya, menyumbang itu memberikan uang atau barang pada orang yang miskin atau yang sedang dilanda bencana. Tapi apa yang terjadi sekarang sungguh jauh berbeda. Mereka menyumbang pada orang yang mampu secara finansial.
Salah kaprah sudah mendarah daging. Di acara resepsi, orang menyumbang tidak dari hati, tapi demi kebutuhan gengsi. Dan ternyata menyumbang berbeda jauh dengan menyedekahi. Sedekah itu soal hati, sedangkan menyumbang itu soal harga diri. Akhirnya banyak dari mereka yang hidupnya pas-pasan memaksakan diri menyumbang.
Bongkeng adalah salah satu dari jutaan orang yang  jadi 'korban' dari keambiguan budaya sumbang-menyumbang di acara resepsi pernikahan, aqiqahan, dan khitanan. Orang merayakan sesuatu itu khan karena punya keluasan ekonomi. Lha kok malah disumbang? Mungking uang lebih praktis daripada kado, tapi tetap itu bukan perkara wajib.
Ada suatu daerah yang diumumkan hasil sumbangannya dan siapa yang menyumbang. Itu taktik agar orang menyumbang banyak, malu kalau menyumbang sedikit. "Paimo, menyumbang uang tiga puluh ribu rupiah." Tengsin boo, yang nyumbang seratus ribu saja pakai inisial "Hamba Tuhan".
Tentu saja Bongkeng tidak menyalahkan orang menyelenggarakan resepsi pernikahan, aqiqahan, dan khitanan. Mereka tentu tidak ada niatan memaksa orang untuk menyumbang. Masyarakat kita saja yang kadang reseh, kakean reken, menilai atau menyimpulkan tanpa data bahwa orang yang tidak menyumbang itu pasti pelit, medit, ngirit.
Banyak orang yang egois, mereka berpikir seperti dirinya. Dipikirnya orang lain punya keluasan ekonomi yang sama seperti dirinya. Bongkeng pernah kecewa saat dipaksa urunan menyumbang secara kolektif untuk pernikahan seorang teman. Padahal saat itu dia benar-benar kere total. Sudah hampir sebulan dia tidak membelikan susu anaknya yang masih kecil, cuman dikasih teh. Uasuwok.
Orang itu banyak macamnya. Ada yang gajinya lumayan tapi kere, karena harus menghidupi banyak anak dan hutangnya dimana-mana. Ada yang gajinya kecil tapi ekonominya oke-oke saja karena numpang orang tua, kendaraan tinggal makai, rumah tinggal nempati, atau dia masih jomblo. Digaji berapapun jomblo itu kaya raya, cuman tuna asmara.
Budaya kadang tidak bisa berdiri sejajar secara presisi dengan agama. Dan orang tidak berdaya untuk melawan itu. Jangankan melawan, membicarakannya saja sungkan, ora ilok, tabu bicara soal uang.
Manusia seperti Bongkeng banyak di mana-mana. Mereka sebenarnya 'marah', tapi tidak berdaya dan meng-iya-an begitu saja aturan tidak tertulis itu. Sebagai orang Jawa, Bongkeng harus pandai 'menyamar'. Harus bisa 'mikul duwur mendem jeruh'. Mampu menutupi kekurangan diri (kemiskinanya) sedalam-dalamnya dan menampakan kebaikan dirinya setinggi mungkin. Kere tapi tidak mengasihani diri sendiri. Biar kere asal gagah.
Well, begitulah kisah Bongkeng dengan perjuangannya yang tidak akan pernah dimenangkannya. Karena kebenaran adalah kesepakatan. Sekali disepakati, setelah itu wajib ditaati, walaupun dari segi agama itu nggak wajib diyakini. Yang penting pandai-pandai saja menempatkan diri.
Dan semoga perayaan hari istimewa keluarga kita tidak jadi 'petaka' bagi orang-orang seperti Bongkeng. Kecuali kita berani menuliskan "tidak menerima sumbangan" di kertas undangan. Berani?
-Robbi Gandamana-

Jumat, 18 November 2016

Misteri Hujan



mungkin kau belum mengerti
ketika datang kesempitan hati
datanglah pada hujan
berjalanlah di sela-sela rintiknya

di sana ada ruang
yang akan meluaskan hatimu
menyadarkanmu
bahwa hidup ini luas dimensinya

di sana akan kau temukan
kedamaian sejati
yang tak 'kan kau temui di istana yang paling bagus
atau juga di lagu yang paling religius

di sana kau akan jadi ringan
tak ada beda kenikmatan dan penderitaan
karena penderitaan itu diperlukan manusia
penderitaan adalah syarat dari keindahan
penderitaan itu kenikmatan yang menyamar
tak ada bayi lahir tanpa penderitaan ibunya

bagaimana kau tahu nikmatnya sehat kalau tak pernah sakit?

maka
kita harus bisa berjalan di sela-sela rintik hujan
agar memahami betapa luas kemungkinan-kemungkinan dalam kehidupan

***
hujan itu misteri
nikmati saja misterinya
jangan bertanya bagaimana uap air mencapai langit
padahal saat memasak air
uapnya tak pernah sampai ke langit-langit

ah, aku hanyalah awam
tak paham ilmu alam
tak percaya dengan teori hujan
kupikir itu batasan kemampuan pikir manusia
pasti ada ilmu yang lebih tinggi
menjelaskan kronologi hujan
tapi biarlah itu jadi rahasia alam dan Tuhan
karena hidup bukan kesimpulan
hidup itu pencarian

***
ingatlah satu hal
jangan sekali-kali kau maki hujan
hanya karena airnya menyusahkan
kau terusir dari rumahmu sendiri
dagangan sepi pembeli
sekolah-sekolah diliburkan
pegawai kantor tak bisa kerja
tanaman padi rusak binasa
banjir dimana-mana..

sadarlah
hujan hanya taat pada perintah Tuhan
mengalir ke tempat yang lebih rendah
bekerja sama dengan gravitasi
rela tidak menjadi diri sendiri

harusnya kau marah pada dirimu
yang enggan berkolaborasi dengan alam
kau eksploitasi mereka habis-habisan
demi nafsu yang tak pernah terpuaskan
banjir datang, sibuk mencari kambing hitam

Solo, 18 November 2016