Jumat, 14 Desember 2018

Mencari April


Namaku Imron (bukan Iron Maiden, band metal legendaris asal Inggris). Seorang muslim biasa, pekerja seni, rokenrol, dan mudah jatuh cinta (baca : pengagum wanita). Tapi percayalah, aku  100% monogami. Selama hidup hanya pernah sekali pacaran. Itu pun kalau bisa disebut pacaran.
Sejak putus dengan yang pertama, aku males ber'bussines of love' lagi  dengan perempuan. Ada beberapa yang  menawan hati, tapi aku sama sekali tidak berambisi menindaklanjutinya ke level yang lebih serius. Aku sudah cukup bahagia dengan cinta model platonis---> bercumbu dengan bayangan. Payah!
Soal perempuan, aku bukan tipe orang yang suka pilih-pilih. Minimal asyik diajak ngobrol, itu  sudah oke buatku. Kalo soal rupawan dan bodi menawan itu bonus. Tapi kalau disuruh memilih antara perempuan cantik dengan perempuan yang enggak cantik. Tentu saja aku milih yang pertama, gila apa.
Aku masih muda, masih bisa memilih dan memilah mana perempuan yang ku suka. Aku bukan lelaki berumur 40an yang melampaui detlain nikah, yang tabah menjalin hubungan serius tidak berangkat dari rasa saling mencintai, tapi mengkondisikan cinta.  Menikah karena terjebak umur. Itu oke saja, tapi aku belum bisa begitu. Semoga.
Sudah sekian banyak perempuan yang aku puja,  tapi kali ini jauh beda dari biasanya.  Dulu kusuka perempuan trendy dan gaul, tapi saat ini aku naksir berat pada perempuan alim berjilbab besar. What!?? Tentu itu kontradiktif dengan karakterku. Pemuda rokenrol jatuh cinta pada perempuan konservatif?! Aku salah opo rek?
Dia masih seperusahaan denganku, tapi lain divisi. Aku tidak mengenalnya secara langsung. Aku hanya tahu namanya dari temanku yang juga nggak kenal akrab dengannya. Dan itu yang membuatku galau, karena dengan begitu temanku gagal  diandalkan jadi Mak Comblang. Aku nggak pandai mendekati perempuan. Aku khan pemalu (ojok ngomong sopo-sopo).
Namanya April. Aprilia Dewi Pertiwi. Orangnya tenang, tutur katanya halus dan sopan, wajah rupawan tanpa polesan, murah senyum, tersenyum pada siapa pun yang baik padanya. Dan tampaknya semua orang baik padanya. Karena aura kebaikan selalu terpancar di wajahnya.
Aku melihat dia sebagai manusia. Aku nggak mau terdikotomi oleh aliran, sekte atau madzhab. Aku nggak perduli soal Salafi atau Wahabi. Aku jatuh hati pada kesantunannya, senyumnya, wajahnya yang unik, keanggunannya, kesederhanaannya, kecantikannya, caranya tersenyum saat berpapasan denganku.
Aku tidak sanggup mendekskripsikan kecantikannya. Kecantikan yang unik dan alami. Luar biasa indah. "Subhanalloh,"  kalau kata ibu-ibu pengajian zaman sekarang. Sungguh salah satu karya masterpiece dari Tuhan.
Dia sangat supel. Kukira perempuan Salafi  hanya mau berteman akrab dengan golongannya. Ternyata tidak juga Mblo. Mereka manusia seperti kita yang juga bisa mencintai dan butuh dicintai. Bedanya hanya di kostum dan atau teknis ibadah. Itu pun nggak beda-beda amat.
Aku nggak anti perbedaan. Justru karena perbedaanlah maka tercipta kehidupan yang harmoni. Lagian bedanya aku dan dia cuman beda madzhab. Kukira aku bisa menghadapinya. Aku seorang muslim, walau sama sekali tidak terlihat muslim. Karena agama tidak perlu diperlihat-lihatkan, bagiku yang penting itu bukan apa agamanya tapi apa manfaat yang diberikan pada orang lain.
Gila men, aku sedang tergila-gila pada seorang bidadari Salafi. Ingin rasanya aku tato lenganku dengan huruf A kapital di tengah lingkaran. Tapi tentu saja itu tidak kulakukan, bukan soal halal haram, aku nggak hobi mentato tubuh dan juga pasti orang akan salah paham, menuduhku sebagai penganut ideologi Anarkis.
Mulailah aku menyusun rencana pencarian informasi sebanyak-banyaknya soal dia. Siapa dia, lulusan mana, rumahnya dimana, suku bangsa apa, anake sopo, hobinya apa, pokoknya apa pun informasi yang menyangkut soal dia aku ingin ketahui. Bukan soal penting atau enggak, tapi keterikatan batin  akan semakin kuat jika mengetahui banyak soal kehidupan perempuan yang aku kagumi. Jangan tanya kenapa, aku nggak tahu.
Aku bingung darimana memulainya. Jarang perempuan salafi bermedsos. Mereka menjauhi medsos. Jika pun ada, propic-nya tanpa foto wajah asli. Mereka meyakini dengan memasang foto wajah di medsos itu akan memancing mata para lelaki untuk tidak menundukan pandangan. Duh dik, abot.
Tujuan bermedsos itu untuk mengenal dan dikenal orang banyak. Dan salah satu syarat untuk dikenal itu harus menunjukan foto. Ya'opo se rek. Aku sendiri tidak akan meng-confirm seseorang yang add aku tanpa ada foto wajah asli.
Menundukan pandangan itu bukan berarti tidak boleh memandang wajah lawan jenis. Nggak masalah memandang wajah (atau tubuh) perempuan atau lelaki, asal tidak ada muatan syahwat, asal hati bertapa. Jangan salah, walau pakai jilbab besar pun imajinasi lelaki bisa melayang liar kemana-mana jika memandangnya dengan muatan syahwat.
Jadi menurutku silakan saja memajang foto cantikmu di medsos (bukan foto yang sensual atau menggoda). Kalau ada seseorang di luar sana yang berimajinasi liar atau nafsu karena wajahmu, itu bukan salahmu. Semua tergantung dari niat di hatimu.
Semua yang ada pada perempuan adalah godaan bagi laki-laki. Nggak cuma foto profil, kamu ke kantor pakai baju bagus pun itu bisa membuat laki-laki tidak bisa menundukan pandangan. Wanita adalah salah satu godaan besar bagi lelaki di dunia.
Ah biarlah aku nggak memperpanjang soal ini, kalau kubahas panjang lebar nanti malah jadi tulisan opini, bukan cerpen.
*****
Aku memulainya di fesbuk. Medsos ini jadi pilihan pertama karena paling populer di antara medsos lain di dumay. Agak aneh juga kalau hari gini ada anak muda yang nggak punya akun fesbuk.
Aku ketik namanya lengkap dengan kota asal di kolom pencarian fesbuk. Seribu nama April tertera di sana. Swemproel , ternyata nama April sudah sangat pasaran di jagat raya ini.
Kadang aku merasa konyol melakukan ini. Aku mencari seseorang dengan referensi yang pas-pasan. Patokannya cuma nama lengkap, domisili tempat tinggal dan latar belakang pendidikan terakhir. Ah persetan, kalau ini membuat aku bahagia why not? Kenyataannya aku juga lagi nganggur total.  
Aku mulai cek satu persatu akun-akun yang bernama April. Aku skip yang propic-nya alay, memonyongkan mulut sok imut, dimanis-maniskan, sok kalem dan tidak berjilbab. Kusisakan hanya yang benar-benar cocok dengan kriteria kaum akhwat Salafi. You know lah.
Setelah melalui perjuangan panjang yang mengasyikan, aku mulai menemukan titik (sepertinya) terang.  Serasa menemukan harta karun Raja Sulaiman. Kebetulan akunnya disetting bisa dilihat publik. Aku bisa lihat foto-foto postingannya (tanpa satu pun foto dirinya), membaca status atau postinganya.
Aku yakin ini pasti April yang aku cari. Dari status curhatnya yang berbentuk puisi dia menyebut kondisi kantornya yang cocok dengan kondisi perusahaan tempat aku kerja. Absen finger print, tiap hari ngisi jurnal laporan kerja, dan banyak lagi. Ternyata salafi bisa berpuisi juga. Apalagi puisinya keren (untuk ukuran anak Salafi. Ngenyek).
Aku terus scroll ke bawah, dan berhenti pada satu postingan soal 'penyakit kasmaran' (al-'Isyq) yang membuatku galau. Intinya Perempuan salafi memang harus siap membunuh cinta yang tumbuh pada orang yang 'salah'. Mereka tidak main-main dalam urusan cinta antar lawan jenis. Mereka bener-bener perempuan yang pilih-pilih.  Harus yang pandai mengaji, ahli ibadah, berpenghasilan bagus, dan banyak lagi, yang jelas aku tidak masuk kriteria.
Bagi mereka bukti cinta adalah menikah. Tidak ada rayuan, tidak ada pacaran. Menikah atau tidak sama sekali.
Jadi kesimpulan sementara, aku nggak akan bisa memenangkan hatinya, tidak akan pernah jadi pilihan hatinya. Dan aku memang nggak pantas jadi pilihan. Nggak masalah, demi Tuhan aku tetap mencintainya.
Aku nggak perduli kalau ini akan jadi platonis lagi. Setidaknya dengan mencintainya, hidupku jadi lebih berwarna, aku jadi semangat datang ke kantor--->  untuk sekedar memandangnya dari jauh, merasakan kehadirannya, mendengar tawanya, melihat senyumnya.
Karena mencintainya, pori-pori  kreatifitasku terbuka, adrenalin semangatku tumbuh. Mungkin aku akan kecewa dan sakit pada akhirnya. Tapi aku akan pelihara rasa sakit itu. Karena akan berbuah karya yang indah, menjelma ilmu, menggugah kesadaran, melahirkan hikmah, menjadi revolusi diri.
Aku tidak akan pernah menyesal. Sebaliknya malah bersyukur. Aku telah mencintai orang yang 'benar'. Yang jauh dari potensi berbuat maksyiat. Apa pun rasa sakit yang aku rasakan karena mencintainya bagiku adalah kenikmatan yang menyamar.
Tapi tentu saja 'petualangan' ini belum klimaks. Aku masih terus mencari celah, walau semua pintu telah tertutup.  Aku sangat percaya bahwa jika kita mencintai karena Tuhan maka cinta akan selalu menemukan jalan.
(Bersambung)

-Robbi Gandamana-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar