Selasa, 05 Februari 2019

Matinya Sebuah Senyuman (Mencari April - 5)



Aku sedang duduk-duduk rileks di latar Mushola kantor menunggu bel jam istirahat ketika Bongkeng datang memanggil namaku, "Imron, aku ada perlu sama kamu.."

Bongkeng memohon padaku agar mau menghutangi uang untuk makan siang. Ngakunya uangnya habis untuk biaya rumah sakit bapaknya yang menderita mengguk akut. "Tapi ojok ngomong sopo-sopo yo nek aku utang duwik...." kata dia memohon padaku.

Aku sendiri lagi bokek saat itu. Tanggal tua. Gajiku habis buat ngurusi motor tua jago mogok sialan. Yang sepulnya mati lah, yang CDI mampus lah. Ada saja masalah dengan motorku. Aku kayak hidup dalam film kartun. Dan sekarang uang di dompet hanya tersisa 15 ribu saja. Jadi kutawarkan untuk kutraktir saja. Karena nggak ada pilihan, dia pun menganggukan kepala, "Yo wis lah.." .

Setelah bel berbunyi, kuajak dia ke warung sederhana dekat kantor. Aku memilih menu yang paling ngirit jaya. Uang 15 ribu harus cukup buat makan berdua. Sementara kulihat Bongkeng sedang asyik pedekate dengan seorang gadis bohay karyawan sebuah toko baju sekitar situ.

Setelah makanan tersedia, tanpa babibu langsung kusikat. Walau cuman sayur lodeh lauk kerupuk kalau pas lapar rasanya joss, kenikmatan paripurna. Harus disyukuri. Banyak orang yang tidak pandai bersyukur, sudah bisa makan enak masih saja mengeluh. Lha wong makan kerupuk tapi yang dibayangkan empal. Gembloeng.

Saat asyik-asyiknya memamahbiak, aku terkaget dengan apa yang dipesan Bongkeng. Swemproel, ternyata dia pesan nasi sayur lauknya ayam goreng. Kere berijazah! Gondes sialan. Pesanannya jauh lebih mahal dari yang mentraktir. Dengan dongkol kusindir dia dengan setengah berbisik, "Ayam ni yeeeeee.."

Bongkeng adalah teman curhatku sejak lama. Curhat tentang apa saja, termasuk soal April. Walaupun dalam soal cinta dia hampir sama  sepertiku : awam. Tapi dia lelaki yang pede mendekati perempuan. Tidak sebanding lurus dengan wajahnya yang nggak marketable. Dalam urusan perempuan, dia nggak perduli dengan prinsip 3 B --> berusaha, berdoa, dan berkaca. Terutama yang berkaca.

Wajahnya Jawa banget, sejenis "Suku Jawa Terakhir". Bodinya kurus, kulitnya hitam, cocok dengan kriteria seorang penderita gizi buruk. Logat Jawa-nya medok banget. Aku bersahabat karib denganya karena mempunyai kesamaan nasib, sama-sama kere. Jadi kami itu semacam "Kere Bersatu".

Bongkeng sebenarnya nggak suka aku pedekate dengan April yang Salafi tulen itu. Menurut dia, Salafi itu aliran Islam yang mencabut akar budaya penganutnya. Sadar atau tidak sadar penganut Salafi kehilangan jati dirinya, kehilangan Jawa-nya.  Semua jadi ke-Arab-Arab-an. Lebih bangga berpakaian dan bertutur kata menggunakan istilah Arab daripada Indonesia.

Padahal salah satu sunnah Rasul adalah mencintai dan menghargai budaya negeri sendiri. Rasul bergamis itu karena mencintai budaya budaya negerinya. Itu bukan pakaian karangan beliau. Yang jelas sunnah Rasul yang utama itu akhlaknya, bukan pakaiannya. Tidak dengki, tidak mendendam, jujur, santun, ramah, senantiasa tersenyum, dan seterusnya.

Menurut Bongkeng, banyak ajaran Salafi yang menyempitkan makna. Salah satunya adalah bersalaman setelah shalat. Itu masalah bagi mereka. Padahal itu adalah kearifan lokal. Itu bukan akidah, hanya budaya. Nggak ada tuntunannya tapi juga nggak ada larangannya. Itu nggak masalah, karena dilakukan setelah shalat. Setelah shalat nggak masalah mau salaman, push up, atau koprol kalau nggak malu.

Salaman adalah sarana perekat tali batin. Itu nggak wajib. Mau salaman monggo,  tidak salaman juga monggo. Bebas. Ada seribu makna yang tersirat dalam salaman : "Selamat hari ini kita masih diberi iman, sehingga bisa shalat jamaah di masjid", "Selamat kita masih dikasih hidup..", "Selamat kita shalat tepat waktu..." dan seterusnya.

Bla bla bla..biarlah, kita nggak berhak mempermasalahkan pemahaman orang selama itu tidak merugikan yang lain.

****
Bicara soal April, lumayan lah, aku sudah bisa membiasakan diri tanpa kehadiran April. Oke, rasa memang masih ada tapi tidak dengan harapan. Lupakan saja.

Terakhir kali aku berpapasan dengannya di sebuah lorong kantor. Tapi di luar dugaan, dia pura-pura tidak tahu. Sungguh pertemuan yang canggung.  Tanpa sapa, tanpa senyuman, bahkan mukanya terlihat sinis. Padahal aku sudah menyiapkan senyuman terbaikku. Damn.

Aku baru tahu, ternyata perempuan Salafi benar-benar sangat menjaga diri dalam pergaulan antar lawan jenis. Bahkan ngobrol lewat inbox pun mereka nggak mau kalau dengan orang yang bukan mahramnya. Sialan, pantesan tidak membalas inbox-ku.

Dengan tidak menyapa saat berpapasan terakhir kali itu, April seakan-akan memberi isyarat : "Get outta my way sucker! kamu bukan mahramku".

Sejak itu aku menghindar berpapasan dengannya. Bukan karena marah, dendam, atau apa. Aku menghormati keputusannya. Dan juga nggak mau terjebak dalam kecanggungan. Bayangkan saja kalau kamu berjumpa dengan seseorang yang kamu kenal, kamu tersenyum tapi dia tidak membalas senyummu. Swemproel khan?

Semangatku untuk mengenal April sudah kendor, sekarang jadi semakin down. Padahal salah satu yang membuatku kagum pada April adalah kesantunannya yang mengejawantah di senyumnya yang indah. Sekarang keindahan itu luntur disapu gelombang kolotnya ideologi.

Aku tidak menyalahkan dia, tapi menurutku fals kalau kita beragama tapi mengesampingkan aspek sosial, dan atau aspek budaya. Berdalih menundukan pandangan tapi malah mengesampingkan sopan santun, mengesampingkan budaya tegur sapa, mengesampingkan unggah-ungguh pada orang yang lebih berumur atau senior.

Aku nggak paham, hubungan dengan Allah baik, tapi hubungan dengan manusia kacau. Bagi April itu adalah prestasi karena dia sedang mengamalkan pemahamannya. Tapi bagiku itu adalah kegagalan sosial. Aku sangat tahu zina itu dosa besar, tapi menghindari zina dengan cara menghindar total dari pergaulan dengan orang yang bukan mahram, itu salah kaprah.

Agama Islam bukan agama yang membuat penganutnya jadi kuper. Menurutku nggak masalah bergaul dengan segala macam dan jenis manusia, asal jangan pernah berhenti belajar. Kalau keyakinanmu sudah kuat, harusnya nggak gampang masuk angin dengan pengaruh ideologi-ideologi kacau.

Orang yang bergaul dengan segala macam manusia tapi terhindar dari zina, itu hebat. Hebat apa kalau kamu terhindar dari zina tapi hanya bergaul hanya dengan jenismu saja. Itu kayak orang yang berhasil menahan puasa tapi seharian hanya di dalam rumah. Yang hebat itu orang bisa terus berpuasa walau berada di antara orang sedang makan, tidak puasa. Kualitas pahalanya lebih dahsyat.

Itu salah satu bahayanya orang yang sudah terlanjur belajar agama tapi belum lulus jadi manusia. Aku nggak ngomong aku sudah lulus, tapi menurutku aneh kalau ada orang yang berbuat atas nama agama dangan santainya mengesampingkan tegur sapa pada orang yang menawarkan pertemanan dengan baik-baik, yang belum jelas terindikasi tukang zina.

Hukum itu turun di zaman jahiliyah, negeri barbar dengan darurat akhlak yang akut. Saat itu perempuan jadi objek pemuas nafsu. Keluar rumah sendirian bisa diperkosa, walaupun sudah pakai cadar tertutup rapat. Kaum laki-lakinya gampang 'greng', kesenggol sedikit langsung bereaksi. Dan sekarang manhaj Salafi memberlakukan hukum Islam persis seperti keadaan di zaman itu.

Aku tidak sedang menyalahkan atau mengejek manhaj Salafi. Aku tidak bilang ideologiku paling benar. Malah bisa saja aku yang salah. Jangan merasa paling benar. Atas dasar fakta apa aku paling benar, lha wong aku cuman yakin  saja kok. Aku belum pernah ke akhirat. Aku hanya meyakini ilmu yang kudapat dari ulama yang nazab dan sanadnya kupercaya.

Yang penting aku tidak berlaku 100% pada kebenaran yang aku anut. Cukup 99 % saja. Dengan begitu aku akan mendapat ilmu yang lebih tinggi. Aku nggak mau jadi "kerdil". Karena ilmu agama yang kita yakini itu nggak ada yang betul-betul benar. Kebenaran kita relatif. Hanya Allah dan Rasulullah yang benar. Dan kita sama-sama mencari Islamnya Rasulullah.

****
Matinya senyuman adalah matinya cahaya rupa
paras elok akan sia-sia tanpanya
walau dipoles segunung emas permata
pun dioplas bak artis Korea

matinya senyuman adalah matinya aura
seperti bunga mawar yang tercerabut dari akarnya
petalnya layu pucat tak bercahaya
akhirnya dibuang jadi sampah

matinya senyuman adalah matinya empati
gersang kasih sayang dan buram hati
seperti pembunuh yang siap dengan belati
tatapan mata nyalang dan berapi

matinya senyuman adalah matinya kerendahan hati
tanpanya tidak akan menemui kecantikan sejati
yang ada hanya dendam, licik dan iri
muka buram bak anak alay habis di-bully


Ingatlah selalu kalimat sakti, "Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu".

****
Mbuh Pril, lakukanlah yang kamu yakini, aku nothing to lose saja. Mau tersenyum atau sinis padaku, aku nggak mau ambil pusing. Sakarepmu kono, sak bahagiamu.

Well, aku masih jatuh cinta padanya. Tapi sama sekali tidak berharap memilikinya. Pada hakikatnya jatuh cinta tidak ada hubungannya dengan ditolak atau diterima. "Karena cinta telah cukup untuk cinta, " kata Kahlil Gibran.

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar