Jumat, 15 Maret 2019

Tuhan Tidak Perlu Dicari



Aku heran pada mereka
melakukan hal yang menguras pikiran
hari-hari terasa di lain dunia
karena sibuk mencari Tuhan

Tuhan tidak perlu dicari
Dia hadir di tiap jiwa insani
mengalir di pembuluh nadi
ada di dalam sel paling tersembunyi

lakukan saja kebaikan
maka Tuhan akan datang menyapa
Dia akan berlari mendekati
lebih dekat dari urat nadi

Dia adalah Tuan Rumah di tiap diri insan
yang ikut bermain dalam drama kehidupan
yang ikut berjoget dalam irama hidup manusia
tapi hanya pada yang terpilih Dia memberi hidayah

Tuhan tidak dimana-mana
karena dimana-mana ada di dalam  Tuhan
Tuhan juga tidak kemana-mana
karena kemana-mana juga ada di dalam Tuhan

Tuhan tidak terikat ruang dan waktu
semilyar tahun bagiNya hanya sekedipan mata
Tuhan tidak mengantuk dan tidak tidur
Karena Dia adalah sang Maha Bekerja

Tuhan adalah cinta yang meraja
yang selalu bermesraan dengan hambaNya
karena hidup adalah proses percintaan
antara makhluk dan sang Pencipta

tapi manusia adalah makhluk serakah
ibadah hanya kalau ada maunya
ibadah tidak terfokus padaNya
karena dikasih bias yang bernama surga

kita adalah cipratan dari diriNya
Dia tidak kulakan bahan di lain semesta
karena tidak ada apa-apa kecuali diriNya
semua yang ada di dunia ini palsu semata

kita adalah makhluk jika masih di dunia fana
yang dipinjami otoritas sementara
diperintah berkehendak mengolah dunia
dan pasti akan kembali menyatu denganNya

gugahlah kesadaran yang paling dalam
berwiridlah panjang di hening malam
andai kita tidak diberi KESADARAN
kita akan bingung bertanya, "sebenarnya kita ini siapa!?"

sejatinya kita adalah......"TUHAN"


Solo, 15 Maret 2019


------------------------------------------

Ini ilmu hakikat tingkat lanjut. Bukan soal syirik atau apa, tapi ini adalah proses kesadaran.

Ingat kata Decrates "Aku berfikir (sadar) maka aku ada."

Bayangkan seandainya kamu tidak dikasih saraf kesadaran, tidak dikasih panca indera, tidak dikasih akal budi...kamu akan bingung dan bertanya. Tanpa itu semua, kita ini sebenarnya apa? 

Bagi ayam, ayam itu tidak pernah ada. Bahkan tidak ada apa pun yang ada bagi ayam karena ayam tidak pernah sadar. Itu sebenarnya resonansi, artinya ayamnya tetep ada, bisa tertabrak mobil juga.

Tuhan berkata "Kun" itu sedang memulai cintaNya. Kemudian menyebar cintaNya menjadi Fayakun. CintaNya menjadi gelombang, partikel, me-resonansi, pantul memantul.

Kemudian Dia memberi kesempatan kepada semua cipratan-Nya tadi untuk juga berkehendak dengan kesadaranNya.

Maka Dia berkata : "Aku ini berlaku berdasarkan sangkaan hambaKu kepadaKu.

"Kalau manusia  menyangka Aku penuh cinta, maka Aku mencintainya. Kalau hambaKu menyangka Aku pelit maka Aku tidak memberinya rejeki. Dan seterusnya..

"Kalau kemarin kamu itu ada, karena Aku sadar untukk meng-ada-kan kamu. Dan kamu seolah-olah ada benar karena Aku menyebarkan kesadaranKu.

"Sebarkan kesadaran itu kepada ayam. Aku menyebarkan kesadaran itu kepada Adam dan anak turunNya."
Kemudian Tuhan kasih giliran ke kita : 

"Ayo kamu ikut berhendak..kamu ikut sadar, terus Aku ikut apa yang kamu kehendaki.."
Itu semua adalah sebuah PERCINTAAN.

Jadi jangan menyangka bahwa kita punya otoritas. Kita itu dipinjami, dijadikan cipratan, kemudian cipratan itu dihidupkan oleh Allah dengan kesadaran. 

Terus kita disuruh berkehendak, terus Tuhan ikut seperti Sutradara yang ikut main, ikut joget menirukan pemain yang joget.  Ini adalah kesadaran 'Sutradara' yang masuk panggung untuk bercinta dan berdialetika, berkasih sayang dengan hamba-hambaNya..

***
Tidak ada apa-apa selain Allah..apa mungkin ada yang selain Allah??? Yang lain itu PALSU, seakan-akan ada. Kita ini rasanya ada karena adanya KESADARAN. Jadi kalau kita sekarang ini merasa ada dan yakin ada, siapakah sebenarnya kita ini???

Ajaran Syekh Siti Jenar sebenarnya nggak sesat, cuman beliau terlalu cepat mengajarkan tasawuf ke umat yang tingkat spiritualitasnya masih rendah. Muslim Indonesia saat itu masih dalam proses belajar. Jangan diajarkan ilmu tasawuf. Matangkan syariatnya, baru mendalami tasawuf. 

Ketika di puncak wirid beliau, beliau mengucapkan "La ilaha illah ana" itu bukan menyekutukan Allah, tapi sebuah proses kesadaran bahwa tuan rumah di dalam diri tiap manusia itu adalah Tuhan.

Allah bikin tanah dari apa bahannya? Allah bikin langit, galaksi dari apa bahannya, kalau bukan dari diriNya sendiri. Allah tidak membikin tanah dari apapun kecuali dari cipratan diriNya sendiri..

Itulah kenapa ciptaan Tuhan tak ada yg sia-sia (dan tak ada duanya, walau kembar identik sekalipun). Jarene kyai : 'Rabbana ma khalaqta hadza bathila'. Bagi kita, tahi itu sangat buruk tapi bagi tumbuhan itu baik. Nggak ada ciptaan Tuhan yg buruk, disebut buruk karena ditempatkan di tempat yg salah. Semua harus 'empan papan' -

Jadi pada HAKIKATnya kita dan semua yang ada di dunia ini adalah....TUHAN.

Namun saat masih di dunia manusia itu masih hamba atau makhluk  (Jadi jgn pernah sekali2 ngaku sebagai Tuhan). Di akhirat kita akan disatukan denganNya. Karena tauhid itu menyatukan diri dengan Tuhan bukan dengan surga. 

Maka fokuskan ibadahmu hanya untuk Tuhan tidak untuk surga. Kalau yang dicari Tuhan maka otomatis dapat surga. 

Karena keinginan masuk surga itu adalah keinginan yang materialistis....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar