Sudah berbulan-bulan lamanya aku tenggelam dalam duniaku. Hingga tak sempat atau tak ada waktu untuk melamunkan April. Bahkan aku sudah hampir melupakan dia.
Jarang-jarang aku berjumpa dengannya di kantor. Seandainya pernah, itu pun hanya sekelebat di kejauhan. Pernah satu dua kali kami bertatap muka. Tapi tak ada percakapan, kami bicara secara frekuensi dan batin. Cie ciee.
Alhamdulillah bisnis menggambar sedang di atas roda. Nggak terlalu banyak orderan sih, tapi cukuplah untuk menebus BPKB sepeda motor yang kusekolahkan di pegadaian. Tapi yang terpenting aku bahagia bisa melupakan April. Kalau sepi orderan, bisa-bisa aku melamunkan dia seharian. Nggak kreatif blas.
Sampai suatu hari ada kotak kardus makanan yang dibagikan di kantor. Aku bertanya pada Bunga, seorang teman kantor yang membagikan kardus makanan tadi, "Acaranya siapa ini?"
"April nikah pak.." jawabnya singkat.
Deg! What a suprise! Jantungku serasa mau ambrol. Denyut nadiku menyepat secepat lajunya bis Sumber Kencono yang kebut-kebutan di jalan raya Solo-Jogja. "Kkk..kkapan..????" tanyaku lagi dengan tergagap-gagap persis Aziz Gagap.
"Kapan-kapan.." jawabnya sambil tersenyum dan pergi.
Swemproel! Makiku dalam hati. Aku tanyanya sangat serius, malah dijawab dengan rileksnya.
Detik itu juga aku langsung patah hati. Tapi aku mencoba untuk tidak sedih. Aku harus bahagia. Nggak boleh sedih. Ada teman akan menikah kok aku malah sedih. Tapi kenyataannya aku tetap sedih. Tahulah aku sekarang, bahwa aku memang serius mencintainya. Sial.
Masih dalam keadaan galau, aku menuruni tangga menuju warung sederhana pinggir kantor untuk maksi. Eh lha kok ndilalah aku bertemu April di pintu keluar. Rupanya dia sedang bicara dengan Munaroh, memastikan apakah semua sudah kebagian kotak kardus makanan.
Sejenak aku terdiam mengatur nafas dan melangkah menuju tempatnya berdiri. Dengan senyum yang kubuat sesumringah mungkin aku bertanya, "Eh kamu mau nikah ya?"
April hanya tersenyum panjang, senyuman yang selalu kurindukan. Sekali lagi aku bertanya. "Kamu mau nikah ya?" Dan sekali lagi April hanya tersenyum. Malah Munaroh yang nyeletuk, "Monika? Siapa Monika?..ini April mas." Wow ndasmu, batinku.
Cukup dua kali saja aku tanya, mending aku langsung cabut saja ke warung. Rasanya kok riskan kalau aku tanya terus tapi jawabannya cuman senyum.
Aku tahu ada kardus makanan gratis dari April, tapi aku jadi sama sekali nggak nafsu makan. Hatiku gundah gulana nggak karu-karuan. Lebih baik ke warung, cari suasana baru, kali aja kegundahanku reda mendengar candaan Bongkeng.
Hampir setengah jam aku di warung ngobrol ngalor ngidul dengan Bongkeng dan orang-orang yang aku kenal, tapi pikiranku masih belum sepenuhnya bersih dari berita pernikahan April. Humor Bongkeng yang paling lucu pun tidak berhasil membuatku tertawa. Padahal semua yang di sana ngakak total.
Aku memang konyol. Aku tidak berharap memilikinya, tapi ketika dia menikah, aku patah hati juga. Dasar Omdo.
Tapi patah hati ini menunjukan bahwa aku beneran mencintainya. Dan patah hati ini juga membuktikan bahwa aku belum lulus bab cinta yang merelakan atau mengikhlaskan. Taraf cinta yang kupahami masih di tataran memiliki dan menguasai.
Benar-benar hari yang berat. Aku jadi menyesal kenapa bertanya tadi. Karena jawabannya cukup merusak hariku, membuat pikiranku buyar, mood nggambarku ambyar. Aku jadi males melakukan apa-apa. Bahkan ke toilet untuk kencing pun aku malas melangkahkan kaki. Payah.
Iya aku memang payah. Tapi cukup untuk sehari ini saja. Ya paling lama seminggu lah. Setelah itu aku pasti bisa mengatasi diri. Karena aku sudah berjanji hanya mencintai, tanpa memiliki. Sudah kuteguhkan hati sejak awal, bahwa kesedihan karena mencintai April adalah kebahagiaan yang menyamar. Karena ini pasti akan jadi kenangan indah yang layak dikenang.
*****
Menurut cerita yang berhasil kukorek, ternyata pria yang berhasil meminang April itu masih satu perusahaan tapi lain divisi. Pria yang sangat beruntung. Padahal selama ini yang kutahu April tidak pernah nampak akrab dengan seorang pria. Eh lha kok tahu-tahu menikah.
Katanya sih semuanya berawal di tempat parkir. Mereka tiap hari bertemu di area parkir yang sama, berkenalan, bla bla bla dan sepakat untuk menikah. Garis besarnya seperti itu. Cerita detailnya nggak ada yang tahu. Who cares.
Itulah Salafi. Nggak banyak babibu langsung ta'aruf. Kenal atau diperkenalkan, setelah itu melangsungkan pernikahan. Acaranya nggak pakai besar-besaran. Praktis, ekonomis, dan pastinya romantis.
Jangan rayu perempuan Salafi dengan lagu cinta atau lukisan diri. Rayu mereka dengan kisah cinta Nabi-Nabi. Lumerkan hati mereka dengan lantunan ayat suci. Menangkan hatinya dengan akhlak terpuji. Dan terakhir, lamar mereka untuk dijadikan istri. Bersama berdua berjanji setia dalam ikatan suci.
Hebatnya, perempuan Salafi tidak terlalu mempermasalahkan calon suaminya. Asal cocok dengan kriteria ideologinya, semua bisa diatur. Cinta bisa dikondisikan. Dan itu memang ada benarnya. Karena kalau mencari suami berdasarkan pria idamannya yang seperti aktor film Drama Korea, bakalan nggak nikah-nikah atau jadi jomblo forever.
Di dalam pernikahan, cinta itu soal kerjasama hati. Hati istri dan hati suami saling mengisi. Berdua saling menjaga bagaimana agar medan cinta terus menyala. Dengan begitu pernikahan jadi langgeng. Kalau suatu hubungan perkawinan tercipta karena hanya ketertarikan fisik atau nafsu, nggak sampai dua tahun pasti hancur.
Disamping soal seks, uang adalah biang keladi kehancuran rumah tangga. Maka sebaiknya sebelum menikah berjanji untuk tidak bertengkar karena seks dan uang. Seks itu penting, tapi bukan segalanya. Syukurlah kalau kehidupan seks yang dijalani sesuai dengan keinginan. Kalau tidak, ya sudahlah. Begitu juga dengan uang.
Cukup sudah. Kucukupkan di sini saja pengembaraan hatiku yang ternyata tidak bisa menyentuh hatinya satu milimeter pun. Jadi selama ini hipotesaku soal perasaan April terhadapku salah besar. Kupikir dia ada hati denganku. Ternyata senyumnya cuman keramahtamahan seorang teman. Shame on me.
Ternyata tidak ada cukup ruang buatku di hatinya. Jadi sudah saatnya aku harus belajar hidup tanpa bayang-bayang April. Dia sudah resmi menjadi seorang istri. Aku harus menjaga jarak lebih jauh lagi. Walau sebenarnya cinta sejati tidak pernah mati, atau setidaknya sulit mati.
Tapi sebenarnya nggak ada salahnya mencintai perempuan manapun, walau sudah bersuami. Asal tidak ditindaklanjuti. Dan tentu saja ini bukan cinta yang penuh nafsu. Ini cinta yang universal yang berawal dari simpati. Jadikan itu godaanmu, penguat imanmu. Iman tanpa godaan tidak akan pernah tangguh.
Whatever lah..
Aku benci dengan kalimat "Cinta tidak harus memiliki", tapi kenyataannya saat ini aku setuju dengan itu.
Well, selamat menempuh hidup baru April. Doa yang terbaik untuk kalian berdua. Aku masih pengagummu. Okelah aku memang patah hati dan sakit. Tapi tenang saja, aku bisa mengatasinya. Aku akan sehat dalam sakitku. Aku akan bahagia dalam sedihku. Aku akan tetap tersenyum dalam tangisku.
****
Aku, pria angin-anginan pemuja keindahan. Hidup di dalam dunia puisi. Terasing dari bising dunia materi. Seorang pecandu kata-kata berima. Sebagai obat penawar cinta. Pada seorang perempuan fatamorgana. Yang hanya bisa dicintai. Tak pernah bisa dimiliki
Hidup dari nyala api semangat. Berhulu dari senyuman bidadari khayalan. Menghempaskan jauh ke lautan mimpi. Tenggelam hanyut dalam ekstasi angan. Sampai akhirnya karam di pulau sepi. Dengan tubuh telanjang dan luka perih. Menggigil sampai ke tulang sendi. Dingin yang mencapai minus tertinggi. Tidak tercatat dalam bilangan angka.
Ketika akhirnya terbangun. Tersadar dari mimpi panjang. Sendiri tersudut di pojok waktu. Dan tabir pun terbuka : Lelaki yang sedang mabuk puisi. Phobia sakit hati. Pengecut. Hanya berani mencintai. Tanpa nyali memiliki.
Aku, selongsong peluru yang terlempar dari intinya. Melesat menancap tepat ke relung hati seorang perempuan. Terbawa pergi meninggalkan selongsongnya di negeri tak bertuan.
-Robbi Gandamana, 19 Juli 2019-
Aku, pria angin-anginan pemuja keindahan. Hidup di dalam dunia puisi. Terasing dari bising dunia materi. Seorang pecandu kata-kata berima. Sebagai obat penawar cinta. Pada seorang perempuan fatamorgana. Yang hanya bisa dicintai. Tak pernah bisa dimiliki
Hidup dari nyala api semangat. Berhulu dari senyuman bidadari khayalan. Menghempaskan jauh ke lautan mimpi. Tenggelam hanyut dalam ekstasi angan. Sampai akhirnya karam di pulau sepi. Dengan tubuh telanjang dan luka perih. Menggigil sampai ke tulang sendi. Dingin yang mencapai minus tertinggi. Tidak tercatat dalam bilangan angka.
Ketika akhirnya terbangun. Tersadar dari mimpi panjang. Sendiri tersudut di pojok waktu. Dan tabir pun terbuka : Lelaki yang sedang mabuk puisi. Phobia sakit hati. Pengecut. Hanya berani mencintai. Tanpa nyali memiliki.
Aku, selongsong peluru yang terlempar dari intinya. Melesat menancap tepat ke relung hati seorang perempuan. Terbawa pergi meninggalkan selongsongnya di negeri tak bertuan.
-Robbi Gandamana, 19 Juli 2019-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar