Setelah bertemu dan sedikit ngobrol dengannya kemarin, aku berhipotesa bahwa dia ada "rasa" sama aku. Bisa aku rasakan dari caranya memandang dan tersenyum padaku saat berpapasan pandang selama ini. Ini bukan geer, bukan sebuah hipotesa awur-awuran, ini hasil itjihad yang panjang (lambemu).
Sudah kutulis di kisah kemarin, kalau kamu mempunyai kepekaan yang baik, pasti bisa membedakan senyuman simpati dan senyuman biasa.
Senyumnya padaku beda dengan senyumnya pada teman lelakiku. Apalagi kalau tersenyum sama Bongkeng. Jelas senyumnya adalah senyum geli lihat manusia unik dan langka itu. Sayangnya di negeri ini tidak ada suaka khusus manusia. Yang ada hanya Suaka Margasatwa. Pantesan orang-orang pelarian itu kalau cari suaka ke Australia. Ngomong opo se iki.
April ini bukan jenis akhwat Salafi yang suka mengucilkan diri yang hanya mau akrab dengan kaumnya saja. Walau agak introvert, April mau berteman dengan siapa pun, asal dia baik padanya.
Itu sedikit membuatku lega. Walau tetap saja manhaj Salafi itu Islam yang konservatif. Ingat dulu Inbox-ku nggak dibales, komen distatus fesbuknya nggak di-mention hanya karena aku lelaki, bukan muhrimnya. Sungguh terwelu.
Itu salah satu yang membuatku kecewa. Terlalu menjaga diri dari zina tapi malah kebablasan, beragama tapi mengesampingkan aspek sosial. Padahal aku tanya baik-baik, sama sekali tidak ada rayuan atau kata-kata genit yang menjurus ke arah zina. Dan dia tahu aku masih satu kantor dengannya. Aku penasaran, seandainya pak boss yang inbox, apa juga nggak dibales. Asli menyebalkan.
Kalau aku sih tidak pernah memaksakan diriku jadi malaikat. Karena aku khawatir nantinya malah diam-diam menjadi Iblis. Munafik adalah serendah-rendahnya mahkluk. Aku lebih suka tetap jadi manusia yang terus berusaha sebisa-bisa mungkin berjalan di jalanNya. Yang kutahu Tuhan tidak menagih di luar batas kemampuan hambaNya.
Aku tidak akan pernah mengkritiknya dan atau berusaha mengubah pemikirannya. Gila apa. Aku sendiri nggak jelas keIslamanku. Yang kulakukan selama ini adalah sebisa-bisa mungkin mengikuti Islamnya Rasulullah. Bukan kostumnya atau tongkrongannya, tapi lebih pada akhlak beliau.
Aku lebih suka belajar jadi manusia dulu, sebelum belajar agama. Jangan sampai terbalik. Karena sekarang banyak muslim yang sudah terlanjur pinter beragama tapi belum lulus jadi manusia. Membela Islam tapi dengan menyakiti perasaan manusia. Demi agama rela membunuh manusia, padahal nggak akan tega kalau demi manusia.
Ah biarlah, nyatanya aku masih mengaguminya sampai detik ini. Ideologinya memang kaku, tapi dia perempuan yang baik, ramah, santun dan tidak sombong. Walau sekali waktu menyebalkan juga.
April adalah jenis perempuan yang tidak mudah ditaklukan. Bukan karena apa, tapi karena kesalafianyalah yang membuatnya seperti itu. Doktrin itu mengerikan kawan. Orang bisa jadi pelaku bom bunuh diri karena terus menerus didoktrin, diiming-imingi surga dengan 72 bidadari.
---Aku pribadi nggak mau terdoktrin lagi. Aku harus jadi manusia yang berdaulat. Kalau aku misuh-misuh di medsos, itu dalam rangka melepaskan doktrin orang-orang tua di masa kecilku dulu. Ojok ditiru---
Di satu sisi, perempuan seperti April bisa jadi adalah istri idaman lelaki. Akhwat Salafi adalah perempuan yang sangat setia. Belum pernah ada kasus perempuan Salafi selingkuh atau durhaka pada suami. Yang ada malah mereka ikhlas suaminya poligami. Dan mereka malah bangga dengan itu, karena bagi mereka kesabaran dipoligami akan berbuah surga. T:T
Sayangnya aku tidak berharap April jadi istriku. Bukan karena aku nggak ingin punya istri yang alim dan setia. Dia terlalu murni buatku. Aku pasti akan mengotorinya. Aku mencintainya tanpa kalkulasi, tanpa syarat, seperti cinta Tuhan pada hamba-hambaNya. Nggak perduli siapa, agamanya apa, semua dikasih rezeki. Dan itulah cinta sejati.
Aku sudah tidak mencarinya lagi (judul cerita ini harusnya diganti). Aku sudah menemukan. Bukan menemukan informasi soal apa pun menyangkut April. Tapi aku sudah menemukan sesuatu yang membuat hatiku plong dan bahagia. Bahwa cinta yang indah itu yang penuh misteri. Kalau aku tahu segalanya soal April, itu akan merusak misterinya.
Dan aku akan lebih bahagia kalau April menikah dengan lelaki yang se-manhaj dengannya. Lelaki alim berjenggot panjang, bercelana cingkrang, suka pakai baju gamis, dan jidatnya gosong karena kebanyakan sujud di karpet kwalitas KW. Aku akan mendoakannya dan sekali-sekali mencari tahu soal kabar hidupnya. Berharap semuanya baik-baik saja.
Well, manhaj Salafi memang konservatif, tapi kita tidak bisa mendiskreditkan Salafi. Mereka seperti itu demi mengharapkan ridhaNya. Kita nggak bisa mencibir gamisnya, jenggotnya atau pun celana cingkrangnya. Itu semua karena kecintaan mereka pada Rasul dan Islam. Silakan saja bergamis atau yang lain kalau itu membuatmu semakin mencintai Rasul dan Islam.
Aku sendiri tidak akan bergamis, berjenggot atau bercelana cingkrang. Bukan karena nggak cinta pada Rasul atau nggak takut dibakar di neraka (soal celana di bawah mata kaki sudah aku tulis di kisah sebelumnya) Karena esensi atau hakikat Sunnah Rasul yang sejati itu akhlak beliau.
Kalau kita bicara hakikat, Al Qur'an pun sebenarnya bukan Islam itu sendiri. Al Qur'an itu cuman benda yang menghantarkan Islam. Islam itu sebuah sistem (panduan hidup) yang menyelamatkan. Seperti orang yang tukar cincin berlian. Berlian itu bukan cinta, tapi cuma benda yang menghantarkan cinta. Al Qur'an adalah berlian yang menghantarkan cinta yang bernama Islam.
****
Siang itu aku masih dikasih kesempatan Tuhan untuk berbasa-basi dengannya saat jam istirahat. Saat itu dari jauh kulihat April bersama temannya antri membeli Cilok. Ketika aku lewat di depannya dia langsung tersenyum, senyuman yang membuatku bersyukur telah dilahirkan di dunia ini dan berkesempatan memandang senyumnya April. Luar biasa indah.
Siang itu aku masih dikasih kesempatan Tuhan untuk berbasa-basi dengannya saat jam istirahat. Saat itu dari jauh kulihat April bersama temannya antri membeli Cilok. Ketika aku lewat di depannya dia langsung tersenyum, senyuman yang membuatku bersyukur telah dilahirkan di dunia ini dan berkesempatan memandang senyumnya April. Luar biasa indah.
"Kalau tiap hari makan siangmu cuman Cilok, badanmu yang super langsing itu apa nggak tambah tipis, "candaku padanya.
"Siapa bilang begitu Mas Imron. Kalau makannya tiga bungkus khan sama dengan nasi satu piring, " timpal April sambil nyengir.
"Adza adza ajza dwech ach.."
"Mas Imron nggak suka Cilok?"
"Suka sih. Cuman aku lebih suka Cinlok."
"Hayoo...Cinlok sama siapa?"
"Sama kamu.."
"Wadoh...no komen," muka April langsung memerah. Dia pun ngeluyur pergi kembali masuk kantor dengan senyumnya yang tertinggal di hatiku (ehem).
Aku agak menyesal bilang Cinlok tadi. Cinlok ndasmu!, batinku memaki diriku sendiri. Bisa jadi perempuan Salafi alergi mendengar kata Cinlok (Cinta Lokasi) atau kata-kata yang berbau zina seperti itu. Ah sudahlah, semoga besok aku bisa memperbaiki omonganku yang pating pecotot ini. Walau kenyataannya aku sedang mengalami Cinlok sama April. ---Ah, jadi ingat zaman KKN tempo doeloe. Swemproel--
Dan benar dugaanku, saat aku bertemu April pagi itu, dia berusaha menghindari tatapanku. Saat di tangga menuju ruang kerja, jalannya dipercepat karena tahu aku di belakangnya. Sekali lagi ini bukan geer. Kalau kamu mempercepat jalanmu karena di belakang ada bossmu, jangan dikira bossmu nggak tahu. Dia sangat tahu, bisa dirasakan dari gelagat dan auranya.
Ada jenis perempuan yang ketika tahu seorang pria terindikasi naksir padanya, si perempuan akan menghindar atau jaga jarak dari si lelaki. Walaupu si perempuan juga naksir. Banyak perempuan "angkuh" seperti itu. Angkuh tapi rindu. Lama menunggu tak menentu, si lelaki pun disamber perempuan lain. Makanya perempuan seperti itu agak sulit jodoh. Menikahnya di usia tua itu pun dapat duda. Abot Jum.
Aku berharap April bukan jenis perempuan seperti itu. Tapi seandainya iya pun aku mau apa. Karena aku ingin mencintainya tanpa kalkulasi. Cinta ya cinta, bukan karena. Mencintai nggak karena ini, karena itu. Maka jangan heran kalau ada lelaki alim bisa mencintai pelacur.
Cinta memang bisa dibiasakan, tapi cinta tidak bisa dibunuh. Kalau sudah terlanjur cinta, jangan berharap bisa menghapusnya begitu saja. Itulah cintaku pada April. Aku tahu nggak akan bisa menjangkaunya karena beda haluan. Tapi aku tetap mencintainya. Akalku mengatakan tidak, tapi hatiku menolak.
(Bersambung)
-Robbi Gandamana, Solo, 13 Maret 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar