Kamis, 21 Februari 2019

Perempuan Bukan Penolak Cinta (Mencari April - 7)



Hari ini seorang teman lama mampir di kosku. Teman kuliah saat di kota kembang dulu. Anak seorang juragan Tempe Levi's alias Gembus walau tampangnya nggak kayak anak juragan. Namanya Tutoep Gendoel, cukup dipanggil Gendoel saja.
Dia adalah pelukis. Kebetulan dia sedang pameran di suatu Galery yang tidak jauh dari kosku.
Sudah lama aku nggak ketemu Gendoel. Aku sudah belasan tahun merantau, mengadu nasib di kota budaya ini. Kerja di sebuah pabrik buku sekolah. Dengan gaji minim dan aturan yang ketat. Koyok kerjo melok Jepang, ganok preine.
Nggak tahu Gendoel itu titisan Genderuwo atau apa. Tongkrongannya sangar walau tanpa tato. Rambutnya gondrong. Dari ujung rambut sampai ujung kakinya penuh dengan bulu. Dan karena penuh bulu itulah membuat banyak orang jadi percaya Teori Darwin.
Gendoel sepintas memang terlihat seperti bajingan. Tapi dalam soal common sense, dia bisa dikatakan lulus sebagai manusia. Tampang iblis tapi hati malaikat. Itu salah satu yang kusuka dari dia. Sekarang banyak jenis lelaki yang "diam-diam mencuri rantang". Sepertinya alim tapi ternyata menghamili pacarnya. wadoh, abot.
"Oala Mron, dari dulu sampai sekarang nasibmu nggak ada peningkatan. Awet kere," celetuk Gendoel ketika melihat kamar kostku yang minimalis alias minim barang berharga. Hanya tape recorder  merk Folitron untuk memutar koleksi kaset  rock-ku yang jumlahnya cukup lumayan.
"Sing penting urip Mbul, " timpalku sekenanya.
Gendoel sudah kuanggap saudara sendiri. Tanpa dipersilahkan dia langsung rebahan di kasur gabus tipis, sebuah artefak peninggalan penghuni kost lama. Dia juga nggak canggung bongkar-bongkar kaset, memilih satu dan memutarnya di tape dengan volume keras. Yang dipilih kok ya pas. Satu nomor dari Robin McAuley "Teach Me How To Dream" jadi soundtrack rinduku pada April.
"Teach me how to dream. Help me make a wish. If I wish for you. Will you make my wish come true..."
****
Kebetulan Gendoel agak paham dalam soal cinta. Dia seorang perayu ulung. Merayu perempuan dengan bahasa puitis yang dicuri dari tulisan-tulisan Kahlil Gibran. Tapi Jangan salah, Gendoel bukan jenis lelaki yang hobi gonta-ganti pacar. Bukan karena alim, tapi nggak ada yang mau jadi pacarnya. Hanya satu perempuan yang mau, yang sekarang jadi istrinya.
Yang bikin aku "nggak setuju", istrinya Gendoel cantik. Swemproel, kok iso yo. Kupikir mereka adalah pasangan yang akan masuk surga. Karena Gendoel selalu bersyukur punya istri cantik, sedangkan istrinya selalu ekstra sabar punya suami jelek.
Aku pun curhat ke Gendon soal April. Dia agak kaget dengan selera perempuanku yang sekarang. What!? Anak Salafi? Ciyus? Enelan? Aku bilang pada dia kalau sudah lama naksir April. Tapi sekarang aku nggak ada niat menyatakan cinta padanya.
Aku pun berdebat panjang dengan Gendon, apakah perlu aku menyatakan cinta pada April atau tidak. Bla bla bla bla (bakalan panjang kalau ditulis).
Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menyatakan cinta pada April. Bukan karena pasti ditolak. Oke, itu memang salah satu pertimbangannya, tapi aku tidak ingin hubunganku dengan dia jadi canggung.  Tahu khan, seorang perempuan biasanya akan mengambil jarak atau menghindar dengan lelaki yang  sudah menyatakan cinta sedangkan dia menolaknya. Semua terasa canggung.
Itu yang kutakutkan. Bukan takut ditolak. Wis tau. Ditolak memang sakit, tapi lebih nggak asyik lagi kalau pertemanan menjadi renggang. Ditolak perempuan itu bukan sesuatu yang tabu. Bahkan malah sebaliknya. Seorang lelaki nggak lengkap sebagai lelaki kalau tidak punya pengalaman ditolak perempuan.
Ditolak itu buah dari tindakan seorang gentleman. Itu keren, daripada diterima tapi pakai dukun atau pelet. Itu penipuan luar biasa. Cinta itu suci dan pelet merusak kesuciannya.
Aku sudah qatam bab penolakan. Pernah dulu Gendoel dengan sok bijaknya menguatkan aku ketika semangat hidupku kendor karena ditolak perempuan, "Sabar Mron. Semua pasti ada hikmahnya. Ditolak itu belum tentu diterima..."??? Asem, podo ae Doel.
Dalam urusan cinta, aku nggak percaya penolakan. Aku selalu yakin dengan diriku, "Mosok Imron ditolak  se rek?" Nggak ah. Masak lelaki keren penuh talenta sepertiku ditolak perempuan? Ambigu. ---sombong dalam rangka meningkatkan kepercayaan diri itu sangat perlu, asal ngomongnya di dalam hati saja, nggak perlu diproklamirkan dimana-mana---
Aku percaya (setidaknya yang terjadi padaku) kalau perempuan itu bukan penolak cinta. Perempuan itu bisa hidup dengan seorang lelaki yang tidak pernah dicintai sebelumnya. Asal lelakinya baik, mengayomi, melindungi, setia, bertanggung jawab, dan masa depannya jelas (mapan).
Lelaki "nembak" perempuan yang dicintai itu pastinya sudah melalui pertimbangan yang matang dan pengamatan yang berliku-liku. Orang yang jatuh cinta itu instingnya meningkat tajam mengalahkan insting seekor Luwak yang sedang berburu ayam.
Lelaki yang peka perasaannya bisa membedakan mana tatapan cinta dan mana yang sekedar tatapan biasa, mana yang senyuman cinta dan mana yang sekedar senyuman biasa seorang perempuan. Dan berdasarkan sinyal-sinyal itulah lelaki berani menyatakan cinta.
Jangan rendah diri karena ditolak perempuan. Bisa jadi mereka tidak menolak cintamu, mereka hanya  menolak ketidakjelasan masa depanmu, menolak kegagalan hidupmu, menolak ideologimu atau menolak kebodohanmu, bisa juga menolak kemiskinanmu. Seandainya kamu datang dengan keberhasilan hidupmu, kesuksesanmu, mobil mewahmu, kekayaanmu, mereka akan menerima cintamu. Trust me!
Tentu saja aku tidak bilang perempuan itu matre. Bukan itu poinnya. Perempuan itu berpikirnya komprehensif dan mendetail, pikirannya matang. Mereka sangat memperhitungkan resiko terburuk. Beda dengan lelaki yang suka grasa-grusu dan nggak bisa benar-benar bisa dewasa.
Kemeruh yo? Babah gak ngurus. Tapi setidaknya itu berdasarkan pengalamanku.
Ya begitulah pemirsa. sementara itu hipotesa awur-awuranku dalam soal tolak menolak cinta. Kalau salah mohon dikoreksi. Tapi setidaknya dengan mempercayai uraian di atas, bisa sedikit meredakan kegalauan kalian yang sedang patah hati.
Ditolak perempuan itu reward yang luar biasa kalau kita menyikapinya dengan pikiran positif. Itu semacam trigger yang membuat potensi yang ada dirimu keluar dan melesat dengan kecepatan maksimal. Yang puncaknya jadi pembuktian, yang akan membuat perempuan menyesal telah menolakmu. Itu. (Syuper syekali. Sudah kayak Mario Teguh belum?).
Jadi tenang saja wahai jomblo profesional, wajah pas-pasan bukan berarti nggak ada perempuan yang mau denganmu. Belajarlah dari Andika Kangen Band. Dia sudah menikah empat kali men! Saya nggak bilang wajah Andika jelek lho ya. tapi Jangan mau kalah sama dia.
Masak sih untuk mendapatkan seorang perempuan kamu harus pinjam wajahnya Andika?
****
Saat jam Ishoma, dari jauh kulihat April berjalan dengan seorang perempuan keluar kantor. Sepertinya menuju warung makan. Kok tumben dia ke warung dekat kantor, apa lagi jalan kaki. Pemandangan yang membuatku herman. Biasanya saat Ishoma dia cuman diam di kantor atau pergi keluar pakai motor entah cari makan siang di warung Islami antah berantah.
Tahu khan, akhwat Salafi menghindari kerumunan orang yang bukan mahramnya. Bersenggolan dengan lelaki yang bukan muhrimnya itu dosa besar, kata Ustadz Zulkipli (embuh sopo iku).
Wah ini kesempatan besar, nggak mesti setahun  sekali aku menemui momen seperti ini. Harus dimanfaatken bener. So, mari kita let's go! Aku pun mempercepat langkah mengejar mereka.
"Mau ke mana? ke warung ya? kok tumben?" tanyaku bertubi-tubi setelah berada tepat di samping April dan temannya.
"Cuman mengantarkan kok mas, gara-gara anak ini nih" jawab dia sambil menunjuk temannya. Senyumnya yang khas mengembang yang membuatku rela mati untuk satu senyumnya saja. (Gombal banget ya, but it's true).
Basa basi terus berlanjut. April sebenarnya perempuan yang asyik diajak ngobrol. Aku tahu sebenarnya dia ini anak gaul seperti perempuan muda pada umumnya. Punya akun fesbuk, instagram dan entah apa lagi aku belum mencari tahu (dan sepertinya aku tidak ingin tahu lagi. Biarlah latar belakang kehidupannya tetap misteri. Kadang karena misteri itulah hidup jadi indah).
Doktrin Salafi yang dahsyat memusnahkan hampir semua sifat gaulnya. Aku tidak menyalahkan atau prihatin dengan apa yang terjadi pada hidup April. Aku nggak punya hak ngurusi hidupnya. Justru aku salut dan heran, kok bisa dia meninggalkan dunia gaul itu. Butuh tekad yang kuat untuk bisa seperti itu. Itu kayak perempuan gembrot yang ingin langsing tapi dia sendiri maniak kuliner. Abot Jum.
Kita sering mendengar terminologi "dunia adalah penjara". Bagi orang Salafi, penjara di terminologi tersebut adalah penjara yang sesungguhnya. Mereka mengharamkan musik, tidak menggambar mahkluk bernyawa, tidak nonton film, dan banyak hal yang tiap hari kita lakukan dilarang oleh manhaj Salafi. Itu yang membuat dunia mereka sangat terbatas.
Sungguh sangat melelahkan jadi orang Salafi. Benar-benar konservatif. Aku bersyukur jadi muslim moderat. Yang kutahu jarang ada Ustadz yang berani ngasih tahu bahwa fiqih itu sebenarnya kayak lampu merah di perempatan jalan. Lampu merah itu alat, tujuannya agar pengguna jalan selamat. Sama juga dengan fiqih, itu alat yang tujuannya agar kita selamat menuju Allah.
Pada saat lampu menyala merah, pengguna jalan memang harus berhenti. Tapi sebenarnya dalam keadaan tertentu kita boleh saja jalan terus. Kenyataannya Ambulance dan atau juga pejabat penting masih boleh terus lewat. Bahkan becak pun dengan santainya terus melaju.
Tentu saja aku tidak menganjurkan untuk menerobos lampu merah. Bukan begitu Mbul. Kita tahu lampu merah di jalan-jalan provinsi pada jam 11 malam masih aktif. Ketika lampu menyala merah, tentu saja kita harus berhenti. Tapi ketika kita celingak celinguk kiri kanan, tidak ada kendaraan sama sekali, dan kita yakin pasti selamat, kita boleh saja melaju.
Intinya, kalau bekal agamamu sudah lumayan, kalau sudah yakin bakalan selamat, kita bisa saja melakukan hal-hal yang sebenarnya dilarang menurut fiqih. Karena fiqih juga banyak versi dan macamnya. Tentu saja ini tidak berlaku pada sembarang orang. Anak yang baru ngaji kemaren sore jangan dikasih pemahaman seperti itu.
Jadi ingat Gus Mus yang melukis sebuah lukisan yang menggambarkan Inul joget di kelilingi banyak ulama. Lukisannya dikecam oleh santri-santri muda. Tapi para kyai yang sudah tua pada cuek dan tidak mempermasalahkan itu.
Ketika ditanya seseorang, "Gus, kenapa para santri mengecam habis-habisan sedangkan kyai yang tua-tua kok oke-oke saja..?"
Gus Mus dengan santai menjawab, "karena maqam mereka belum nyampai..."
Bahkan ada seorang kyai sepuh yang kasak kusuk di belakang, " Gus, itu lukisannya dijual nggak, saya kok ingin memiliki...."
Towengwengwengwenggg.
Obrolan dengan April harus kuakhiri karena kulihat teman perempuannya seperti nggak nyaman dengan kehadiranku. Prengat prengut ae. Mungkin dia merasa jadi obat nyamuk bakar cap King Kong. Aku pun terpaksa memisahkan diri dengan April demi temannya. Sialan.
Sesampai di warung, April duduk di bangku panjang menunggu temannya pesan nasi bungkus. Dari jauh diam-diam aku curi-curi pandang padanya. Ketika saat tidak sengaja tatapan mata kami bertemu, kami hanya tersenyum. Dan aku yakin itu senyuman yang tidak biasa. Senyuman yang datangnya dari hati. Aku bisa merasakan auranya.
(Bersambung)

-Robbi Gandamana. Solo, 18 Februari 2019 -


Tidak ada komentar:

Posting Komentar