Kamis, 21 Februari 2019

Perempuan Bukan Penolak Cinta (Mencari April - 7)



Hari ini seorang teman lama mampir di kosku. Teman kuliah saat di kota kembang dulu. Anak seorang juragan Tempe Levi's alias Gembus walau tampangnya nggak kayak anak juragan. Namanya Tutoep Gendoel, cukup dipanggil Gendoel saja.
Dia adalah pelukis. Kebetulan dia sedang pameran di suatu Galery yang tidak jauh dari kosku.
Sudah lama aku nggak ketemu Gendoel. Aku sudah belasan tahun merantau, mengadu nasib di kota budaya ini. Kerja di sebuah pabrik buku sekolah. Dengan gaji minim dan aturan yang ketat. Koyok kerjo melok Jepang, ganok preine.
Nggak tahu Gendoel itu titisan Genderuwo atau apa. Tongkrongannya sangar walau tanpa tato. Rambutnya gondrong. Dari ujung rambut sampai ujung kakinya penuh dengan bulu. Dan karena penuh bulu itulah membuat banyak orang jadi percaya Teori Darwin.
Gendoel sepintas memang terlihat seperti bajingan. Tapi dalam soal common sense, dia bisa dikatakan lulus sebagai manusia. Tampang iblis tapi hati malaikat. Itu salah satu yang kusuka dari dia. Sekarang banyak jenis lelaki yang "diam-diam mencuri rantang". Sepertinya alim tapi ternyata menghamili pacarnya. wadoh, abot.
"Oala Mron, dari dulu sampai sekarang nasibmu nggak ada peningkatan. Awet kere," celetuk Gendoel ketika melihat kamar kostku yang minimalis alias minim barang berharga. Hanya tape recorder  merk Folitron untuk memutar koleksi kaset  rock-ku yang jumlahnya cukup lumayan.
"Sing penting urip Mbul, " timpalku sekenanya.
Gendoel sudah kuanggap saudara sendiri. Tanpa dipersilahkan dia langsung rebahan di kasur gabus tipis, sebuah artefak peninggalan penghuni kost lama. Dia juga nggak canggung bongkar-bongkar kaset, memilih satu dan memutarnya di tape dengan volume keras. Yang dipilih kok ya pas. Satu nomor dari Robin McAuley "Teach Me How To Dream" jadi soundtrack rinduku pada April.
"Teach me how to dream. Help me make a wish. If I wish for you. Will you make my wish come true..."
****
Kebetulan Gendoel agak paham dalam soal cinta. Dia seorang perayu ulung. Merayu perempuan dengan bahasa puitis yang dicuri dari tulisan-tulisan Kahlil Gibran. Tapi Jangan salah, Gendoel bukan jenis lelaki yang hobi gonta-ganti pacar. Bukan karena alim, tapi nggak ada yang mau jadi pacarnya. Hanya satu perempuan yang mau, yang sekarang jadi istrinya.
Yang bikin aku "nggak setuju", istrinya Gendoel cantik. Swemproel, kok iso yo. Kupikir mereka adalah pasangan yang akan masuk surga. Karena Gendoel selalu bersyukur punya istri cantik, sedangkan istrinya selalu ekstra sabar punya suami jelek.
Aku pun curhat ke Gendon soal April. Dia agak kaget dengan selera perempuanku yang sekarang. What!? Anak Salafi? Ciyus? Enelan? Aku bilang pada dia kalau sudah lama naksir April. Tapi sekarang aku nggak ada niat menyatakan cinta padanya.
Aku pun berdebat panjang dengan Gendon, apakah perlu aku menyatakan cinta pada April atau tidak. Bla bla bla bla (bakalan panjang kalau ditulis).
Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menyatakan cinta pada April. Bukan karena pasti ditolak. Oke, itu memang salah satu pertimbangannya, tapi aku tidak ingin hubunganku dengan dia jadi canggung.  Tahu khan, seorang perempuan biasanya akan mengambil jarak atau menghindar dengan lelaki yang  sudah menyatakan cinta sedangkan dia menolaknya. Semua terasa canggung.
Itu yang kutakutkan. Bukan takut ditolak. Wis tau. Ditolak memang sakit, tapi lebih nggak asyik lagi kalau pertemanan menjadi renggang. Ditolak perempuan itu bukan sesuatu yang tabu. Bahkan malah sebaliknya. Seorang lelaki nggak lengkap sebagai lelaki kalau tidak punya pengalaman ditolak perempuan.
Ditolak itu buah dari tindakan seorang gentleman. Itu keren, daripada diterima tapi pakai dukun atau pelet. Itu penipuan luar biasa. Cinta itu suci dan pelet merusak kesuciannya.
Aku sudah qatam bab penolakan. Pernah dulu Gendoel dengan sok bijaknya menguatkan aku ketika semangat hidupku kendor karena ditolak perempuan, "Sabar Mron. Semua pasti ada hikmahnya. Ditolak itu belum tentu diterima..."??? Asem, podo ae Doel.
Dalam urusan cinta, aku nggak percaya penolakan. Aku selalu yakin dengan diriku, "Mosok Imron ditolak  se rek?" Nggak ah. Masak lelaki keren penuh talenta sepertiku ditolak perempuan? Ambigu. ---sombong dalam rangka meningkatkan kepercayaan diri itu sangat perlu, asal ngomongnya di dalam hati saja, nggak perlu diproklamirkan dimana-mana---
Aku percaya (setidaknya yang terjadi padaku) kalau perempuan itu bukan penolak cinta. Perempuan itu bisa hidup dengan seorang lelaki yang tidak pernah dicintai sebelumnya. Asal lelakinya baik, mengayomi, melindungi, setia, bertanggung jawab, dan masa depannya jelas (mapan).
Lelaki "nembak" perempuan yang dicintai itu pastinya sudah melalui pertimbangan yang matang dan pengamatan yang berliku-liku. Orang yang jatuh cinta itu instingnya meningkat tajam mengalahkan insting seekor Luwak yang sedang berburu ayam.
Lelaki yang peka perasaannya bisa membedakan mana tatapan cinta dan mana yang sekedar tatapan biasa, mana yang senyuman cinta dan mana yang sekedar senyuman biasa seorang perempuan. Dan berdasarkan sinyal-sinyal itulah lelaki berani menyatakan cinta.
Jangan rendah diri karena ditolak perempuan. Bisa jadi mereka tidak menolak cintamu, mereka hanya  menolak ketidakjelasan masa depanmu, menolak kegagalan hidupmu, menolak ideologimu atau menolak kebodohanmu, bisa juga menolak kemiskinanmu. Seandainya kamu datang dengan keberhasilan hidupmu, kesuksesanmu, mobil mewahmu, kekayaanmu, mereka akan menerima cintamu. Trust me!
Tentu saja aku tidak bilang perempuan itu matre. Bukan itu poinnya. Perempuan itu berpikirnya komprehensif dan mendetail, pikirannya matang. Mereka sangat memperhitungkan resiko terburuk. Beda dengan lelaki yang suka grasa-grusu dan nggak bisa benar-benar bisa dewasa.
Kemeruh yo? Babah gak ngurus. Tapi setidaknya itu berdasarkan pengalamanku.
Ya begitulah pemirsa. sementara itu hipotesa awur-awuranku dalam soal tolak menolak cinta. Kalau salah mohon dikoreksi. Tapi setidaknya dengan mempercayai uraian di atas, bisa sedikit meredakan kegalauan kalian yang sedang patah hati.
Ditolak perempuan itu reward yang luar biasa kalau kita menyikapinya dengan pikiran positif. Itu semacam trigger yang membuat potensi yang ada dirimu keluar dan melesat dengan kecepatan maksimal. Yang puncaknya jadi pembuktian, yang akan membuat perempuan menyesal telah menolakmu. Itu. (Syuper syekali. Sudah kayak Mario Teguh belum?).
Jadi tenang saja wahai jomblo profesional, wajah pas-pasan bukan berarti nggak ada perempuan yang mau denganmu. Belajarlah dari Andika Kangen Band. Dia sudah menikah empat kali men! Saya nggak bilang wajah Andika jelek lho ya. tapi Jangan mau kalah sama dia.
Masak sih untuk mendapatkan seorang perempuan kamu harus pinjam wajahnya Andika?
****
Saat jam Ishoma, dari jauh kulihat April berjalan dengan seorang perempuan keluar kantor. Sepertinya menuju warung makan. Kok tumben dia ke warung dekat kantor, apa lagi jalan kaki. Pemandangan yang membuatku herman. Biasanya saat Ishoma dia cuman diam di kantor atau pergi keluar pakai motor entah cari makan siang di warung Islami antah berantah.
Tahu khan, akhwat Salafi menghindari kerumunan orang yang bukan mahramnya. Bersenggolan dengan lelaki yang bukan muhrimnya itu dosa besar, kata Ustadz Zulkipli (embuh sopo iku).
Wah ini kesempatan besar, nggak mesti setahun  sekali aku menemui momen seperti ini. Harus dimanfaatken bener. So, mari kita let's go! Aku pun mempercepat langkah mengejar mereka.
"Mau ke mana? ke warung ya? kok tumben?" tanyaku bertubi-tubi setelah berada tepat di samping April dan temannya.
"Cuman mengantarkan kok mas, gara-gara anak ini nih" jawab dia sambil menunjuk temannya. Senyumnya yang khas mengembang yang membuatku rela mati untuk satu senyumnya saja. (Gombal banget ya, but it's true).
Basa basi terus berlanjut. April sebenarnya perempuan yang asyik diajak ngobrol. Aku tahu sebenarnya dia ini anak gaul seperti perempuan muda pada umumnya. Punya akun fesbuk, instagram dan entah apa lagi aku belum mencari tahu (dan sepertinya aku tidak ingin tahu lagi. Biarlah latar belakang kehidupannya tetap misteri. Kadang karena misteri itulah hidup jadi indah).
Doktrin Salafi yang dahsyat memusnahkan hampir semua sifat gaulnya. Aku tidak menyalahkan atau prihatin dengan apa yang terjadi pada hidup April. Aku nggak punya hak ngurusi hidupnya. Justru aku salut dan heran, kok bisa dia meninggalkan dunia gaul itu. Butuh tekad yang kuat untuk bisa seperti itu. Itu kayak perempuan gembrot yang ingin langsing tapi dia sendiri maniak kuliner. Abot Jum.
Kita sering mendengar terminologi "dunia adalah penjara". Bagi orang Salafi, penjara di terminologi tersebut adalah penjara yang sesungguhnya. Mereka mengharamkan musik, tidak menggambar mahkluk bernyawa, tidak nonton film, dan banyak hal yang tiap hari kita lakukan dilarang oleh manhaj Salafi. Itu yang membuat dunia mereka sangat terbatas.
Sungguh sangat melelahkan jadi orang Salafi. Benar-benar konservatif. Aku bersyukur jadi muslim moderat. Yang kutahu jarang ada Ustadz yang berani ngasih tahu bahwa fiqih itu sebenarnya kayak lampu merah di perempatan jalan. Lampu merah itu alat, tujuannya agar pengguna jalan selamat. Sama juga dengan fiqih, itu alat yang tujuannya agar kita selamat menuju Allah.
Pada saat lampu menyala merah, pengguna jalan memang harus berhenti. Tapi sebenarnya dalam keadaan tertentu kita boleh saja jalan terus. Kenyataannya Ambulance dan atau juga pejabat penting masih boleh terus lewat. Bahkan becak pun dengan santainya terus melaju.
Tentu saja aku tidak menganjurkan untuk menerobos lampu merah. Bukan begitu Mbul. Kita tahu lampu merah di jalan-jalan provinsi pada jam 11 malam masih aktif. Ketika lampu menyala merah, tentu saja kita harus berhenti. Tapi ketika kita celingak celinguk kiri kanan, tidak ada kendaraan sama sekali, dan kita yakin pasti selamat, kita boleh saja melaju.
Intinya, kalau bekal agamamu sudah lumayan, kalau sudah yakin bakalan selamat, kita bisa saja melakukan hal-hal yang sebenarnya dilarang menurut fiqih. Karena fiqih juga banyak versi dan macamnya. Tentu saja ini tidak berlaku pada sembarang orang. Anak yang baru ngaji kemaren sore jangan dikasih pemahaman seperti itu.
Jadi ingat Gus Mus yang melukis sebuah lukisan yang menggambarkan Inul joget di kelilingi banyak ulama. Lukisannya dikecam oleh santri-santri muda. Tapi para kyai yang sudah tua pada cuek dan tidak mempermasalahkan itu.
Ketika ditanya seseorang, "Gus, kenapa para santri mengecam habis-habisan sedangkan kyai yang tua-tua kok oke-oke saja..?"
Gus Mus dengan santai menjawab, "karena maqam mereka belum nyampai..."
Bahkan ada seorang kyai sepuh yang kasak kusuk di belakang, " Gus, itu lukisannya dijual nggak, saya kok ingin memiliki...."
Towengwengwengwenggg.
Obrolan dengan April harus kuakhiri karena kulihat teman perempuannya seperti nggak nyaman dengan kehadiranku. Prengat prengut ae. Mungkin dia merasa jadi obat nyamuk bakar cap King Kong. Aku pun terpaksa memisahkan diri dengan April demi temannya. Sialan.
Sesampai di warung, April duduk di bangku panjang menunggu temannya pesan nasi bungkus. Dari jauh diam-diam aku curi-curi pandang padanya. Ketika saat tidak sengaja tatapan mata kami bertemu, kami hanya tersenyum. Dan aku yakin itu senyuman yang tidak biasa. Senyuman yang datangnya dari hati. Aku bisa merasakan auranya.
(Bersambung)

-Robbi Gandamana. Solo, 18 Februari 2019 -


Selasa, 12 Februari 2019

Romantisasi Segala Bidang (Mencari April - 6)



"Apa yang anda pikirkan, Imron?" Pertanyaan yang menyebalkan itu menyambutku saat iseng-iseng kubuka akun fesbukku pagi itu. Mikirno ndasmu Mbul.

Ternyata banyak teman yang tag aku di postingan-postingan politik recehan. Bongkeng nge-tagg aku di postingannya soal prestasi presiden Jokowi. Aku juga di-tagg di postingan Tarno Superpell (office boy kantor) soal dukungan pada Capres Prabowo. Ada juga yang menjebloskan aku di group #2019GantiWakilPresiden.

Opo-opoan se rek. Padahal aku sudah berkoar-koar sejak lama kalau aku seorang apolitis. Tapi masih saja dilibatkan dan dijebloskan di grup-grup pendukung Capres. Asli buang-buang waktu dan energi saja.

Tahun politik yang menyebalkan. Baliho, poster dan spanduk kandidat Capres terpasang di mana-mana. Hari-hari dipenuhi orang yang sibuk menyanjung tinggi jagoannya. Di warung, di pangkalan ojek, di terminal, di toilet umum, bahkan di rumah ibadah. Apalagi kalau sudah kampanye via pawai motor,  suara knalpotnya sungguh merusak gendang telinga. Obat kopok larang Mbul.

Tapi di medsoslah yang paling "berdarah-darah". Lha wong soal memilih Capres kok disamakan kondisinya seperti Perang Salib. Yang satu dianggap Capres pro Islam, yang satunya dituduh Capres  pro kafir. Gembloeng.

Aku nggak tahu kenapa orang-orang itu begitu berapi-api menyanjung tinggi jagoannya. Bahkan rela mati demi membela seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya. Yang tidak akan membela bila ditagih debt collector motor Onda. Aku nggak tahu kenapa. Mungkin karena kehidupan seksnya menyebalkan. Who knows lah.

Lahir nama-nama beken bermunculan di panggung politik. Sebut saja Roki Kentrung, Ratna Sarungterompet, dan banyak lagi. Yang lain ramai memuja mereka, yang lainnya lagi menghujat habis-habisan.  Dan aku di sini menggelar tikar menikmati tontonan absurd tapi sangat menjual itu.

Aku sama sekali tidak tertarik dengan isapan jempol politik praktis. Di samping karena nggak paham politik juga karena aku sedang jatuh cinta (oalaaa, pantatsss). Pada seorang bidadari SNI--> Aprilia Dewi Pertiwi. Seorang akhwat Salafi.

Sebenarnya aku sudah berusaha keras melupakan  dia sejak "kejadian yang mengecewakan" kemarin. Tapi kenyataannya aku nggak bisa. Aku seperti seseorang yang berlayar menjauhi pantai, tapi setelah jauh di tengah samudera aku diseret oleh angin kembali ke pantai.

Aku jenis lelaki yang sulit melupakan perempuan, tapi kalau disakiti, aku tidak mudah untuk kembali. Dia sama sekali tidak pernah menyakiti perasaanku. Walau pernah mengekecewakanku sedikit. Tapi it's oke, nggak prinsip. Aku menjauh karena merasa tidak layak (bermimpi) memilikinya. Sekarang pun masih sama: tidak berharap memilikinya.

Aku hanya ingin memulainya kembali dari awal. Aku nggak tahu kenapa aku ingin melakukan itu. Aku ini aneh, tidak berharap tapi ingin remidi. Apakah karena aku belum "nembak" dia? Nggak ah, konyol. Aku nggak butuh diterima atau ditolak. Justru malah takut kalau cintaku diterima. Jangankan membayangkan, bermimpi pun aku tidak berani kalau hal itu terjadi.

Hubungan yang serius dengan perempuan Salafi nggak cukup hanya mengandalkan cinta saja Mbul. Aku nggak mau cinta model "Poninya Andika Kangen Band" (sudah tahu nggak cocok tetap dicocok-cocokan).

Aku jelas jauh dari kriteria calon "imamnya". Bahkan sama sekali nggak masuk kriteria. Aku suka dan bermain musik, aku hobi menggambar mahkluk bernyawa, aku pakai celana jins ketat yang menutupi mata kaki, aku tidak berjenggot, dahiku tidak gosong (overdosis sujud), aku melakukan semua yang diharamkan oleh manhaj Salafi.

Ngomong soal gambar, intermezo sebentar, memang ada hadits yang menyinggung pelarangan menggambar mahkluk bernyawa. Yang menyebutkan bahwa siksaan yang paling pedih di neraka adalah tukang gambar. Di neraka mereka dipaksa meniupkan ruh pada karya gambarnya.

Hukum atau pelarangan soal gambar itu lahir di saat bangsa Arab Jahiliyah masih menggunakan patung, gambar atau lukisan sebagai berhala atau media ibadah menyembah selain Allah. Jadi sekarang hukum itu sudah batal, karena zaman sekarang orang menggambar tidak untuk dijadikan berhala atau sesembahan. Ingat, hukum itu berlaku kondisional.

Tuhan itu Maha Perupa dan manusia adalah pengenjawantahan dari diri Tuhan, kok manusia tidak boleh menggambar. Menggambar atau melukis itu bukan untuk menandingi Tuhan. Tapi itu salah satu bentuk ekpresi atas kekaguman manusia pada keindahan ciptaan Tuhan.

Menggambar itu cuman alat yang bisa jadi sarana menambah kecintaan kita pada Allah atau malah melupakanNya. Jadi bukan menggambarnya yang dilarang, tapi apa dan untuk apa kita menggambar. Semua tergantung niat, konsep dan tujuannya.

Oke, kembali ke soal April.

Kuamat-amati (diam-diam aku mengawasinya dari jauh) April yang sekarang sudah semakin Salafi saja. Mungkin sebentar lagi dia akan pakai cadar. Semoga tidak. Kalau itu terjadi, nggak tahu apakah aku akan tetap jatuh hati padanya atau tidak. Yang jelas aku akan merindukan senyumnya yang indah, giginya yang sedikit abu-abu dan jerawat kecil di pipinya yang menurutku sexy. Ojok ngomong sopo-sopo.
Dia terlalu "istimewa" untukku, aku nggak bakalan bisa memilikinya. Tidak di kehidupan ini, mungkin di kehidupan yang lain. Semoga kami dipertemukan di surgaNya. Dan aku akan meminangnya di sana. Tapi aku nggak ingin cepat-cepat pergi ke sana sih.

Di surga kita nggak jadi makhluk sosial, semua sibuk dengan kesenangannya sendiri. Di sana nggak ada tantangan, semua sudah tersedia, tinggal minta.  Yang jelas di sana nggak ada rokenrol. Apa asyiknya.

Makanya orang yang kedalaman ilmu agamanya mumpuni lebih mengharapkan Allah daripada surga. Karena kalau dapat Allah, otomatis dapat surga. Karena tauhid itu sejatinya menyatukan diri dengan Allah, bukan dengan surga. Surga itu nggak penting! Fokuskan dirimu hanya pada Allah.

****
"Kamu kelihatan lain hari ini, " celetukku saat aku melangkah bareng di tangga kantor menuju ruang kerja. Setelah sama-sama absen di mesin fingerspot.  Sebuah kesempatan yang langka bisa ngobrol berdua (perlu disuaka).

"Lain apa mas, kayaknya tiap hari aku seperti ini.." tanya April heran. Senyumnya pun mengembang. Senyuman terindah yang belum pernah kutemui, yang mungkin bisa meredakan darah tinggi, stroke dan serangan jantung. Aku jadi paham kenapa  tersenyum itu termasuk sedekah.

"Tumben, rokmu bermotif. Biasanya polosan. Kalau nggak hitam, abu-abu, magenta atau biru dongker saja..." jawabku. Saat itulah obrolan kami terputus karena seorang teman perempuannya yang berjalan di depan kami menyapa April. Dan April pun menyusul temannya dan meninggalkanku sendirian di belakangnya. Asem, adegan ngobrol di tangga menuju ruang kantor pun di-cut.

Tapi memang April nggak ingin ngobrol denganku, pria yang  bukan mahramnya. Aku tahu itu, tapi aku nekad mendekatinya. Makanya saat aku sudah dekat dia dan menyapanya, dia langsung mempercepat langkah. Walau itu nggak berhasil karena aku tetap bisa mengimbangi langkahnya. Dan akhirnya terjadilah obrolan tadi. Kapok koen.

Thank you so muachh ya Alloh, aku bahagia banget pagi  itu. Pertama, karena April nggak benar-benar mengacuhkan aku. Kedua, aku dapat kesempatan bisa ngobrol dengan dia. Jiwaku seperti mendapat siraman rohani berember-ember. Basaahh.

Alhamdulillah, walau cuman ngobrol semenit, tapi efeknya seharian. Semangat kerjaku meningkat dahsyat. Kerjaan yang seharusnya tiga hari kelar, dalam sehari beres. Aku menjelma Hulk. Pekerjaan kantor yang sebelumnya terasa berat jadi sangat terasa ringan. Ayo sini kasih aku order gambar lagi, akan kusikat habis! (Lambemu Mbul).

Dan sekarang aku sangat merindukan obrolan-obrolan singkat seperti itu. Asem.

****
Orang-orang masih sibuk ngomong politik dan menyanjung tinggi pilihan Capresnya, sementara hari-hariku penuh imajinasi tentang indahnya April. Bagi lelaki lain, April mungkin perempuan yang biasa saja. Tapi bagiku luar biasa.

Mereka terbiasa menilai perempuan dengan bodi terbuka. Sedangkan aku menilai dari kesantunannya, pribadinya, dan kealimannya. Tentu saja dari parasnya juga.

Nggak tahu kenapa seleraku pada perempuan berbeda dari yang  sudah-sudah. Aku jadi nggak suka perempuan yang pamer belahan dada.

Mungkin maqam-ku sedang naik kelas. Semoga. Ingat, semakin tinggi tingkat spiritualitas seseorang, semakin memahami betapa cantiknya wanita. Kecantikan yang akan tampak tanpa perlu berbusana terbuka, tanpa perlu pamer lekukan dan tonjolan dada.

Sialan, ternyata aku masih belum "sembuh" benar dari penyakit kasmaran. Bahkan tambah parah. Kupikir aku sudah mulai melupakan April, tapi ternyata malah jadi fan die hard number one-nya. Ajur Jum.

Orang-orang  berdebat panjang soal visi dan misi masing-masing Capres. Sedangkan aku sama sekali nggak perduli. Aku hanya perduli apapun yang menyangkut soal April. Urusan percintaan lebih penting daripada urusan Capres.

Jangan pernah kalian libatkan aku dalam debat politik. Aku sudah neg bicara politik. Persetan dengan visi misi kalian. Aku punya visi dan misiku sendiri. Visi dan misi dari seorang lelaki yang sedang jatuh cinta. Pokoknya nothing but love.

Visi dan misiku cuman satu: romantisasi segala bidang. Apa pun yang kulakukan harus mencerminkan cinta dan keindahan. Jalan depan kost akan kugambari bunga dengan  cat warna-warna pastel yang lembut. Di pingir jalan akan kutanami segala macam tanaman berbunga. Apa pun yang bisa kulakukan yang bermuara pada keindahan akan kulakukan. Dan itu semua kudedikasikan hanya untuk April.

Pokoknya bagaimana caranya hidup hanya bicara cinta dan cinta. Nggak punya apa-apa tapi banyak cinta. Semua terasa mewah kalau kita menyikapinya dengan cinta. Itulah alasan kenapa aku terus mengekalkan budaya jatuh cinta.

April mungkin tidak akan pernah menjadi milikku. No problem, Itu sama sekali nggak merisaukanku. Seperti kata seorang penyair sufi Umbu landu Paranggi, "Cinta itu bukan fisik dan juga bukan materi. Maka cinta yang sejati adalah yang tidak menikahi."

(Bersambung)

- Robbi Gandamana, Solo 12 Februari 2019-



#capres #fiksiana #aprillia #cinta #cerpen

Selasa, 05 Februari 2019

Matinya Sebuah Senyuman (Mencari April - 5)



Aku sedang duduk-duduk rileks di latar Mushola kantor menunggu bel jam istirahat ketika Bongkeng datang memanggil namaku, "Imron, aku ada perlu sama kamu.."

Bongkeng memohon padaku agar mau menghutangi uang untuk makan siang. Ngakunya uangnya habis untuk biaya rumah sakit bapaknya yang menderita mengguk akut. "Tapi ojok ngomong sopo-sopo yo nek aku utang duwik...." kata dia memohon padaku.

Aku sendiri lagi bokek saat itu. Tanggal tua. Gajiku habis buat ngurusi motor tua jago mogok sialan. Yang sepulnya mati lah, yang CDI mampus lah. Ada saja masalah dengan motorku. Aku kayak hidup dalam film kartun. Dan sekarang uang di dompet hanya tersisa 15 ribu saja. Jadi kutawarkan untuk kutraktir saja. Karena nggak ada pilihan, dia pun menganggukan kepala, "Yo wis lah.." .

Setelah bel berbunyi, kuajak dia ke warung sederhana dekat kantor. Aku memilih menu yang paling ngirit jaya. Uang 15 ribu harus cukup buat makan berdua. Sementara kulihat Bongkeng sedang asyik pedekate dengan seorang gadis bohay karyawan sebuah toko baju sekitar situ.

Setelah makanan tersedia, tanpa babibu langsung kusikat. Walau cuman sayur lodeh lauk kerupuk kalau pas lapar rasanya joss, kenikmatan paripurna. Harus disyukuri. Banyak orang yang tidak pandai bersyukur, sudah bisa makan enak masih saja mengeluh. Lha wong makan kerupuk tapi yang dibayangkan empal. Gembloeng.

Saat asyik-asyiknya memamahbiak, aku terkaget dengan apa yang dipesan Bongkeng. Swemproel, ternyata dia pesan nasi sayur lauknya ayam goreng. Kere berijazah! Gondes sialan. Pesanannya jauh lebih mahal dari yang mentraktir. Dengan dongkol kusindir dia dengan setengah berbisik, "Ayam ni yeeeeee.."

Bongkeng adalah teman curhatku sejak lama. Curhat tentang apa saja, termasuk soal April. Walaupun dalam soal cinta dia hampir sama  sepertiku : awam. Tapi dia lelaki yang pede mendekati perempuan. Tidak sebanding lurus dengan wajahnya yang nggak marketable. Dalam urusan perempuan, dia nggak perduli dengan prinsip 3 B --> berusaha, berdoa, dan berkaca. Terutama yang berkaca.

Wajahnya Jawa banget, sejenis "Suku Jawa Terakhir". Bodinya kurus, kulitnya hitam, cocok dengan kriteria seorang penderita gizi buruk. Logat Jawa-nya medok banget. Aku bersahabat karib denganya karena mempunyai kesamaan nasib, sama-sama kere. Jadi kami itu semacam "Kere Bersatu".

Bongkeng sebenarnya nggak suka aku pedekate dengan April yang Salafi tulen itu. Menurut dia, Salafi itu aliran Islam yang mencabut akar budaya penganutnya. Sadar atau tidak sadar penganut Salafi kehilangan jati dirinya, kehilangan Jawa-nya.  Semua jadi ke-Arab-Arab-an. Lebih bangga berpakaian dan bertutur kata menggunakan istilah Arab daripada Indonesia.

Padahal salah satu sunnah Rasul adalah mencintai dan menghargai budaya negeri sendiri. Rasul bergamis itu karena mencintai budaya budaya negerinya. Itu bukan pakaian karangan beliau. Yang jelas sunnah Rasul yang utama itu akhlaknya, bukan pakaiannya. Tidak dengki, tidak mendendam, jujur, santun, ramah, senantiasa tersenyum, dan seterusnya.

Menurut Bongkeng, banyak ajaran Salafi yang menyempitkan makna. Salah satunya adalah bersalaman setelah shalat. Itu masalah bagi mereka. Padahal itu adalah kearifan lokal. Itu bukan akidah, hanya budaya. Nggak ada tuntunannya tapi juga nggak ada larangannya. Itu nggak masalah, karena dilakukan setelah shalat. Setelah shalat nggak masalah mau salaman, push up, atau koprol kalau nggak malu.

Salaman adalah sarana perekat tali batin. Itu nggak wajib. Mau salaman monggo,  tidak salaman juga monggo. Bebas. Ada seribu makna yang tersirat dalam salaman : "Selamat hari ini kita masih diberi iman, sehingga bisa shalat jamaah di masjid", "Selamat kita masih dikasih hidup..", "Selamat kita shalat tepat waktu..." dan seterusnya.

Bla bla bla..biarlah, kita nggak berhak mempermasalahkan pemahaman orang selama itu tidak merugikan yang lain.

****
Bicara soal April, lumayan lah, aku sudah bisa membiasakan diri tanpa kehadiran April. Oke, rasa memang masih ada tapi tidak dengan harapan. Lupakan saja.

Terakhir kali aku berpapasan dengannya di sebuah lorong kantor. Tapi di luar dugaan, dia pura-pura tidak tahu. Sungguh pertemuan yang canggung.  Tanpa sapa, tanpa senyuman, bahkan mukanya terlihat sinis. Padahal aku sudah menyiapkan senyuman terbaikku. Damn.

Aku baru tahu, ternyata perempuan Salafi benar-benar sangat menjaga diri dalam pergaulan antar lawan jenis. Bahkan ngobrol lewat inbox pun mereka nggak mau kalau dengan orang yang bukan mahramnya. Sialan, pantesan tidak membalas inbox-ku.

Dengan tidak menyapa saat berpapasan terakhir kali itu, April seakan-akan memberi isyarat : "Get outta my way sucker! kamu bukan mahramku".

Sejak itu aku menghindar berpapasan dengannya. Bukan karena marah, dendam, atau apa. Aku menghormati keputusannya. Dan juga nggak mau terjebak dalam kecanggungan. Bayangkan saja kalau kamu berjumpa dengan seseorang yang kamu kenal, kamu tersenyum tapi dia tidak membalas senyummu. Swemproel khan?

Semangatku untuk mengenal April sudah kendor, sekarang jadi semakin down. Padahal salah satu yang membuatku kagum pada April adalah kesantunannya yang mengejawantah di senyumnya yang indah. Sekarang keindahan itu luntur disapu gelombang kolotnya ideologi.

Aku tidak menyalahkan dia, tapi menurutku fals kalau kita beragama tapi mengesampingkan aspek sosial, dan atau aspek budaya. Berdalih menundukan pandangan tapi malah mengesampingkan sopan santun, mengesampingkan budaya tegur sapa, mengesampingkan unggah-ungguh pada orang yang lebih berumur atau senior.

Aku nggak paham, hubungan dengan Allah baik, tapi hubungan dengan manusia kacau. Bagi April itu adalah prestasi karena dia sedang mengamalkan pemahamannya. Tapi bagiku itu adalah kegagalan sosial. Aku sangat tahu zina itu dosa besar, tapi menghindari zina dengan cara menghindar total dari pergaulan dengan orang yang bukan mahram, itu salah kaprah.

Agama Islam bukan agama yang membuat penganutnya jadi kuper. Menurutku nggak masalah bergaul dengan segala macam dan jenis manusia, asal jangan pernah berhenti belajar. Kalau keyakinanmu sudah kuat, harusnya nggak gampang masuk angin dengan pengaruh ideologi-ideologi kacau.

Orang yang bergaul dengan segala macam manusia tapi terhindar dari zina, itu hebat. Hebat apa kalau kamu terhindar dari zina tapi hanya bergaul hanya dengan jenismu saja. Itu kayak orang yang berhasil menahan puasa tapi seharian hanya di dalam rumah. Yang hebat itu orang bisa terus berpuasa walau berada di antara orang sedang makan, tidak puasa. Kualitas pahalanya lebih dahsyat.

Itu salah satu bahayanya orang yang sudah terlanjur belajar agama tapi belum lulus jadi manusia. Aku nggak ngomong aku sudah lulus, tapi menurutku aneh kalau ada orang yang berbuat atas nama agama dangan santainya mengesampingkan tegur sapa pada orang yang menawarkan pertemanan dengan baik-baik, yang belum jelas terindikasi tukang zina.

Hukum itu turun di zaman jahiliyah, negeri barbar dengan darurat akhlak yang akut. Saat itu perempuan jadi objek pemuas nafsu. Keluar rumah sendirian bisa diperkosa, walaupun sudah pakai cadar tertutup rapat. Kaum laki-lakinya gampang 'greng', kesenggol sedikit langsung bereaksi. Dan sekarang manhaj Salafi memberlakukan hukum Islam persis seperti keadaan di zaman itu.

Aku tidak sedang menyalahkan atau mengejek manhaj Salafi. Aku tidak bilang ideologiku paling benar. Malah bisa saja aku yang salah. Jangan merasa paling benar. Atas dasar fakta apa aku paling benar, lha wong aku cuman yakin  saja kok. Aku belum pernah ke akhirat. Aku hanya meyakini ilmu yang kudapat dari ulama yang nazab dan sanadnya kupercaya.

Yang penting aku tidak berlaku 100% pada kebenaran yang aku anut. Cukup 99 % saja. Dengan begitu aku akan mendapat ilmu yang lebih tinggi. Aku nggak mau jadi "kerdil". Karena ilmu agama yang kita yakini itu nggak ada yang betul-betul benar. Kebenaran kita relatif. Hanya Allah dan Rasulullah yang benar. Dan kita sama-sama mencari Islamnya Rasulullah.

****
Matinya senyuman adalah matinya cahaya rupa
paras elok akan sia-sia tanpanya
walau dipoles segunung emas permata
pun dioplas bak artis Korea

matinya senyuman adalah matinya aura
seperti bunga mawar yang tercerabut dari akarnya
petalnya layu pucat tak bercahaya
akhirnya dibuang jadi sampah

matinya senyuman adalah matinya empati
gersang kasih sayang dan buram hati
seperti pembunuh yang siap dengan belati
tatapan mata nyalang dan berapi

matinya senyuman adalah matinya kerendahan hati
tanpanya tidak akan menemui kecantikan sejati
yang ada hanya dendam, licik dan iri
muka buram bak anak alay habis di-bully


Ingatlah selalu kalimat sakti, "Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu".

****
Mbuh Pril, lakukanlah yang kamu yakini, aku nothing to lose saja. Mau tersenyum atau sinis padaku, aku nggak mau ambil pusing. Sakarepmu kono, sak bahagiamu.

Well, aku masih jatuh cinta padanya. Tapi sama sekali tidak berharap memilikinya. Pada hakikatnya jatuh cinta tidak ada hubungannya dengan ditolak atau diterima. "Karena cinta telah cukup untuk cinta, " kata Kahlil Gibran.

(Bersambung)