Ketertarikanku pada April adalah sesuatu yang sejati. Karena datang dari hati yang tulus. Tidak datang dari nafsu atau sekedar kagum pada bentuk fisik semata. Mana bisa nafsu lihat perempuan Salafi. Jilbabnya menutup seluruh badan, yang tersisa cuma wajah. Dan aku berharap semoga yang tersisa itu tidak tertutup cadar.
---Aku punya pikiran mbeling kalau perempuan bercadar itu curang. Aku nggak bisa melihat wajahnya dengan jelas, sedangkan dia bisa dengan leluasa melihat wajahku. Guyon rek---
Aku tahu, impianku memiliki April adalah suatu hal yang mustahil. Tapi sejak awal aku sudah siap kecewa, jadi ketika itu benar-benar terjadi, mungkin aku lebih siap menghadapinya. Dan aku bahagia dan tidak pernah sebahagia ini. Ini bukan pesimis, tapi tahu diri. Raimu, eh raiku iku sopo.
****
"Hai Imron, Imron shampo!" sapa Bongkeng suatu pagi saat berpapasan denganku di kantor. Sahabatku satu ini memang suka memplesetkan namaku. Imron diplesetkan jadi Emeron. Maksudnya Emeron Shampoo, salah satu nama produk shampo itu. Iso ae.
"Hai Imron, Imron shampo!" sapa Bongkeng suatu pagi saat berpapasan denganku di kantor. Sahabatku satu ini memang suka memplesetkan namaku. Imron diplesetkan jadi Emeron. Maksudnya Emeron Shampoo, salah satu nama produk shampo itu. Iso ae.
"Masih belum menyerah dengan April?" tanya Bongkeng yang sering aku curhati soal April. "Sudahlah skip saja dia bro. Kau menginginan sesuatu yang tidak bisa kau jangkau. Koyok ganok arek wedok liyo ae. Arek koyok ngono iku angel ingon-ingonane. Salah pakane iso mati. "
"Ndasmu. Menengo Mblo. Ini bukan soal aku nanti jadian atau tidak, " jawabku. "Ini soal dahaga jiwa. Kebutuhan mendasar manusia. Mungkin lapar bisa aku tahan, tapi tidak dengan cinta. Tidak perduli apa jadinya nanti. Yang penting aku sudah berusaha semampu yang aku bisa."
Aku bukan pakar cinta. Pemuda rokenrol tahu apa soal cinta. Yang kutahu cinta itu anugerah. Mencintai saja indahnya luar biasa, apalagi kalau dicintai. Cinta bukan melulu soal bersama atau berpisah. Cinta tidak pernah salah. Salah ketika ditempatkan di tempat yang salah. Jangan tempatkan cinta di bawah nafsu syahwatmu. Salah satu akibatnya adalah LKMD--> Lamaran Keri Meteng Disik.
Cinta memang buta. Aku tahu kalau rokenrol nggak bisa disatukan dengan Salafi. Tapi aku nekad menyatukannya. Itu yang dinamakan memperkosa fakta. Jangankan jadian, ngajak ngobrol berdua saja sulit terjadi. Bisanya hanya via medsos. Untungnya ini zamannya medsos. Bukan zaman Neolithikum.
Dia terlalu murni buatku. Perempuan Salafi adalah perempuan pertapa. Mereka menghindari (menjadi bagian) bincang-bincang di suatu tempat yang lebih banyak pria daripada wanitanya. Karena itulah saat jam istirahat dia tidak pernah makan di warung dekat kantor. Dia memilih pergi jauh dari kantor, cari warung yang menurutnya syar'i. Kalau tidak, dia memilih asyik sendiri di depan kompi.
Perempuan Salafi bukan jenis perempuan gaul zaman sekarang yang suka film drama Korea. Nggak lah. Bahkan mereka tidak nonton film---Aku sendiri sering tersinggung kalau lihat film drama Korea. Bukannya apa, aku sama sekali nggak ngerti dialognya. Ngomong opo se arek iku---
Bagi mereka film itu gudangnya maksiyat, banyak pamer aurat, bisa melalaikan badah. Iya sih, tapi aku melihat film sebagai film. Seperti seorang dokter kandungan pria yang memeriksa alat kelamin wanita yang mengandung.
Satu hal yang kuinginkan adalah menyanyikan sebuah lagu cinta untuknya. Tapi Orang Salafi mengharamkan musik. Musik di henponnya diganti murottal Al Qur'an. Padahal semua unsur musik ada dalam murottal. Murottal adalah salah satu cara membaca Al Qur'an dengan menfokuskan pada kebenaran bacaan dan lagu al Qur'an. Ada bunyi, nada, irama dan tempo di sana.
Jadi, bagaimana mungkin musik itu haram? Lha wong kita bicara saja itu pakai bunyi, nada, irama dan tempo. Nada bicara orang Jawa beda dengan orang Ambon. Apalagi dengan orang utan. Ya iyalah.
Musik itu cuma kendaraan. Nggak masalah kalau dijadikan kendaraan menuju Allah. No problem kalau jadi sarana untuk mengingat Allah. Boleh saja jika bermusik membuat kita semakin tertanam rasa cinta dan kekagumammu padaNya. Karena semua keindahan itu asalnya dari Allah.
Jadi bukan soal musiknya yang haram, tapi bagaimana dan untuk apa musik digunakan. Yang penting punya etika, tidak menyimpang dari tuntunan agama.
Jadi bukan soal musiknya yang haram, tapi bagaimana dan untuk apa musik digunakan. Yang penting punya etika, tidak menyimpang dari tuntunan agama.
Aku tidak sedang menyombongkan madzhadku. Bukan itu poinnya. Aku menghormati semua madzhab. Madzhab itu lahir karena tafsir. Dan tafsir itu nggak ada yang betul-betul benar. Kebenaran semua madzhab itu relatif. Yang pasti benar itu Allah. Dan semua madzhab itu mencari Islamnya Rasulullah.
---Sori April, tetaplah jadi Salafi. Kalau kamu bukan Salafi, bisa jadi aku tidak akan mengagumimu seperti saat ini. Karena kamu Salafi maka kamu keren!---
Parameter keberhasilan muslim dalam mendalami Islam itu bukan soal benar atau salah dalam menafsirkan ayat, juga bukan karena lebih hafal ayat, atau lebih fasih bacaannya. Tapi parameter keberhasilan seorang muslim itu bila setelah mendalami Islam---> dia jadi lebih mencintai Allah dan Rasulullah, jadi lebih kuat imannya, lebih peka rasa sosialnya, lebih baik dari sebelumnya.
Lha kok malah ngustadz. Ya'opo se Mblo.
****
Sebenarnya aku belum lama mengenal April. Makanya Bongkeng meledekku sebagai orang yang gampang menyimpulkan perasaan. Baru kenal kemarin sore, sudah berani ngomong cinta. "Cinta dari Hongkong!?" ledek Bongkeng.
Sebenarnya aku belum lama mengenal April. Makanya Bongkeng meledekku sebagai orang yang gampang menyimpulkan perasaan. Baru kenal kemarin sore, sudah berani ngomong cinta. "Cinta dari Hongkong!?" ledek Bongkeng.
So what!? Bagiku, cinta bisa datang begitu saja lewat pandangan pertama. Mungkin Bongkeng tipe orang yang rasa cintanya tumbuh setelah melalui tahapan-tahapan berliku. Aku nggak suka berliku-liku, bikin perut mules. Harus sedia antimo.
Aku hanya beberapa kali bicara denganya, itu pun kebanyakan basa-basi. Karena dia selalu berdua dengan teman perempuannya. Aku nggak pernah sekalipun punya kesempatan ngobrol hanya berdua dengannya.
Akhirnya aku beranikan diri inbox fesbuknya. Bismillah, nekad. Sebelumnya aku baca Al Fatihah, Ayat Kursi, Sholawat Nariyah, atau apa pun yang kuingat untuk menenangkan diriku yang grogi jaya. Dadaku dak duk dak duk nggak karu-karuan. Swemproel.
Aku memulai dengan basa-basi standar, "Ini betul April yang kerja di penerbitan buku CV. Mapan Mandiri itu ya? Kalau iya, saya Imron mbak. Masih satu kantor sama sampeyan. Saya tadi sudah add. Mau khan berteman dengan saya?" ---karena belum akrab mengenalnya, aku harus pakai sebutan 'mbak', biar sopan. Aku wong jowo Mblo---.
Sudah hampir seminggu belum juga ada tanggapan darinya. Aku mulai pesimis kalau dia tidak mau menjawab inbox-ku dan menolak confirm ajakan pertemanan. Mungkin dia ngeri lihat foto profilku yang medeni bocah : gondrong, dekil, nggak Islami blas. Tipe wajah pemerkosa di serial sinetron Indonesia.
Di kantor aku masih sering melihat April dari kejauhan. Malah sempat berpapasan dengannya sesaat setelah absen di mesin finger spot. Dia hanya tersenyum. Aku terbingung harus ngomong apa. Mulutku terkunci, dan kuncinya hilang entah dimana. Aku misuh-misuh dalam hati. Begitu sulitnya berbasa-basi. Aku sama sekali tidak berani menyinggung soal inbox.
Momen saat itu cocok dijadikan adegan video klip lagu "Pelangi di Matamu" dari Jamrud. Dan sepertinya aku memang butuh kursus merangkai kata.
Well, sekarang yang bisa kulakukan hanyalah menunggu. Cara terakhir yang aku bisa telah kutempuh. Ditanggapi atau tidak, aku tetap bahagia. Kalau cinta itu anugerah, kenapa harus disesali.
(Bersambung)

