Rabu, 19 Desember 2018

Memperkosa Fakta (Mencari April - 2)



Ketertarikanku pada April adalah sesuatu yang sejati. Karena datang dari hati yang tulus. Tidak datang dari nafsu atau sekedar kagum pada bentuk fisik semata. Mana bisa nafsu lihat perempuan Salafi. Jilbabnya menutup seluruh badan, yang tersisa cuma wajah. Dan aku berharap semoga yang tersisa itu tidak tertutup cadar.
---Aku punya pikiran mbeling kalau perempuan bercadar itu curang. Aku nggak bisa melihat wajahnya dengan jelas, sedangkan dia bisa dengan leluasa melihat wajahku. Guyon rek---
Aku tahu, impianku memiliki April adalah suatu hal yang mustahil. Tapi sejak awal aku sudah siap kecewa, jadi ketika itu benar-benar terjadi, mungkin aku lebih siap menghadapinya. Dan aku bahagia dan tidak pernah sebahagia ini. Ini bukan pesimis, tapi tahu diri. Raimu, eh raiku iku sopo.
****
"Hai Imron, Imron shampo!" sapa Bongkeng suatu pagi saat berpapasan denganku di kantor. Sahabatku satu ini memang suka memplesetkan namaku. Imron diplesetkan jadi Emeron. Maksudnya Emeron Shampoo, salah satu nama produk shampo itu. Iso ae.
"Masih belum menyerah dengan April?" tanya Bongkeng yang sering aku curhati soal April. "Sudahlah skip saja dia bro. Kau menginginan sesuatu yang tidak bisa kau jangkau. Koyok ganok arek wedok liyo ae. Arek koyok ngono iku angel ingon-ingonane. Salah pakane iso mati. "
"Ndasmu. Menengo Mblo. Ini bukan soal aku nanti jadian atau tidak, " jawabku. "Ini soal dahaga jiwa. Kebutuhan mendasar manusia. Mungkin lapar bisa aku tahan, tapi tidak dengan cinta. Tidak perduli apa jadinya nanti. Yang penting aku sudah berusaha semampu yang aku bisa."
Aku bukan pakar cinta. Pemuda rokenrol tahu apa soal cinta. Yang kutahu cinta itu anugerah. Mencintai saja indahnya luar biasa, apalagi kalau dicintai. Cinta bukan melulu soal bersama atau berpisah. Cinta tidak pernah salah. Salah ketika ditempatkan di tempat yang salah. Jangan tempatkan cinta di bawah nafsu syahwatmu. Salah satu akibatnya adalah LKMD--> Lamaran Keri Meteng Disik.
Cinta memang buta. Aku tahu kalau rokenrol nggak bisa disatukan dengan Salafi. Tapi aku nekad menyatukannya. Itu yang dinamakan memperkosa fakta. Jangankan jadian, ngajak ngobrol berdua saja sulit terjadi. Bisanya hanya via medsos. Untungnya ini zamannya medsos. Bukan zaman Neolithikum.
Dia terlalu murni buatku. Perempuan Salafi adalah perempuan pertapa. Mereka menghindari (menjadi bagian) bincang-bincang di suatu tempat yang lebih banyak pria daripada wanitanya. Karena itulah saat jam istirahat dia tidak pernah makan di warung dekat kantor. Dia memilih pergi jauh dari kantor, cari warung yang menurutnya syar'i. Kalau tidak, dia memilih asyik sendiri di depan kompi.  
Perempuan Salafi bukan jenis perempuan gaul zaman sekarang yang suka film drama Korea. Nggak lah. Bahkan mereka tidak nonton film---Aku sendiri sering tersinggung kalau lihat film drama Korea. Bukannya apa, aku sama sekali nggak ngerti dialognya.  Ngomong opo se arek iku--- 
Bagi mereka film itu gudangnya maksiyat, banyak pamer aurat, bisa melalaikan badah. Iya sih, tapi aku melihat film sebagai film. Seperti seorang dokter kandungan pria yang memeriksa alat kelamin wanita yang mengandung. 
Satu hal yang kuinginkan adalah menyanyikan sebuah lagu cinta untuknya. Tapi Orang Salafi mengharamkan musik. Musik di henponnya diganti murottal Al Qur'an. Padahal semua unsur musik ada dalam murottal. Murottal adalah salah satu cara membaca Al Qur'an dengan menfokuskan pada kebenaran bacaan dan lagu al Qur'an. Ada bunyi, nada, irama dan tempo di sana.
Jadi, bagaimana mungkin musik itu haram? Lha wong kita bicara saja itu pakai bunyi, nada, irama dan tempo. Nada bicara orang Jawa beda dengan orang Ambon. Apalagi dengan orang utan. Ya iyalah.
Musik itu cuma kendaraan. Nggak masalah kalau dijadikan kendaraan menuju Allah. No problem kalau jadi sarana untuk mengingat Allah. Boleh saja jika bermusik membuat kita semakin tertanam rasa cinta dan kekagumammu padaNya. Karena semua keindahan itu asalnya dari Allah.
Jadi bukan soal musiknya yang haram, tapi bagaimana dan untuk apa musik digunakan. Yang penting punya etika, tidak menyimpang dari tuntunan agama.
Aku tidak sedang menyombongkan madzhadku. Bukan itu poinnya. Aku menghormati semua madzhab. Madzhab itu lahir karena tafsir. Dan tafsir itu nggak ada yang betul-betul benar. Kebenaran semua madzhab itu relatif. Yang pasti benar itu Allah.  Dan semua madzhab itu mencari Islamnya Rasulullah.
---Sori April, tetaplah jadi Salafi. Kalau kamu bukan Salafi, bisa jadi aku tidak akan mengagumimu seperti saat ini. Karena kamu Salafi maka kamu keren!---
Parameter keberhasilan muslim dalam mendalami Islam itu bukan soal benar atau salah dalam menafsirkan ayat, juga bukan karena lebih hafal ayat, atau lebih fasih bacaannya. Tapi parameter keberhasilan seorang muslim itu bila setelah mendalami Islam---> dia jadi lebih mencintai Allah dan Rasulullah, jadi lebih kuat imannya, lebih peka rasa sosialnya, lebih baik dari sebelumnya.
Lha kok malah ngustadz. Ya'opo se Mblo.
****
Sebenarnya aku belum lama mengenal April. Makanya Bongkeng meledekku sebagai orang yang gampang menyimpulkan perasaan. Baru kenal kemarin sore, sudah berani ngomong cinta. "Cinta dari Hongkong!?" ledek Bongkeng.
So what!? Bagiku, cinta bisa datang begitu saja lewat pandangan pertama. Mungkin Bongkeng tipe orang yang rasa cintanya tumbuh setelah melalui tahapan-tahapan berliku. Aku nggak suka berliku-liku, bikin perut mules. Harus sedia antimo.
Aku hanya beberapa kali bicara denganya, itu pun kebanyakan basa-basi. Karena dia selalu berdua dengan teman perempuannya. Aku nggak pernah sekalipun punya kesempatan ngobrol hanya berdua dengannya.
Akhirnya aku beranikan diri inbox fesbuknya. Bismillah, nekad. Sebelumnya aku baca Al Fatihah, Ayat Kursi, Sholawat Nariyah, atau apa pun yang kuingat untuk menenangkan diriku yang grogi jaya. Dadaku dak duk dak duk nggak karu-karuanSwemproel.
Aku memulai dengan basa-basi standar, "Ini betul April yang kerja di penerbitan buku CV. Mapan Mandiri itu ya? Kalau iya, saya Imron mbak. Masih satu kantor sama sampeyan. Saya tadi sudah add. Mau khan berteman dengan saya?" ---karena belum akrab mengenalnya, aku harus pakai sebutan 'mbak', biar sopan. Aku wong jowo Mblo---.
Sudah hampir seminggu belum juga ada tanggapan darinya. Aku mulai pesimis kalau dia  tidak mau menjawab inbox-ku dan menolak confirm ajakan pertemanan. Mungkin dia ngeri lihat foto profilku yang medeni bocah : gondrong, dekil, nggak Islami blas. Tipe wajah pemerkosa di serial sinetron Indonesia.
Di kantor aku masih sering melihat April dari kejauhan. Malah sempat berpapasan dengannya sesaat setelah absen di mesin finger spot. Dia hanya tersenyum. Aku terbingung harus ngomong apa.  Mulutku terkunci, dan kuncinya hilang entah dimana. Aku misuh-misuh dalam hati. Begitu sulitnya berbasa-basi. Aku sama sekali tidak berani menyinggung soal inbox.
Momen saat itu cocok dijadikan adegan video klip lagu "Pelangi di Matamu" dari Jamrud. Dan sepertinya aku memang butuh kursus merangkai kata.
Well, sekarang yang bisa kulakukan hanyalah menunggu. Cara terakhir yang aku bisa telah kutempuh. Ditanggapi atau tidak, aku tetap bahagia. Kalau cinta itu anugerah, kenapa harus disesali.
(Bersambung)

-Robbi Gandamana-

*Cerita sebelumnya.


Jumat, 14 Desember 2018

Mencari April


Namaku Imron (bukan Iron Maiden, band metal legendaris asal Inggris). Seorang muslim biasa, pekerja seni, rokenrol, dan mudah jatuh cinta (baca : pengagum wanita). Tapi percayalah, aku  100% monogami. Selama hidup hanya pernah sekali pacaran. Itu pun kalau bisa disebut pacaran.
Sejak putus dengan yang pertama, aku males ber'bussines of love' lagi  dengan perempuan. Ada beberapa yang  menawan hati, tapi aku sama sekali tidak berambisi menindaklanjutinya ke level yang lebih serius. Aku sudah cukup bahagia dengan cinta model platonis---> bercumbu dengan bayangan. Payah!
Soal perempuan, aku bukan tipe orang yang suka pilih-pilih. Minimal asyik diajak ngobrol, itu  sudah oke buatku. Kalo soal rupawan dan bodi menawan itu bonus. Tapi kalau disuruh memilih antara perempuan cantik dengan perempuan yang enggak cantik. Tentu saja aku milih yang pertama, gila apa.
Aku masih muda, masih bisa memilih dan memilah mana perempuan yang ku suka. Aku bukan lelaki berumur 40an yang melampaui detlain nikah, yang tabah menjalin hubungan serius tidak berangkat dari rasa saling mencintai, tapi mengkondisikan cinta.  Menikah karena terjebak umur. Itu oke saja, tapi aku belum bisa begitu. Semoga.
Sudah sekian banyak perempuan yang aku puja,  tapi kali ini jauh beda dari biasanya.  Dulu kusuka perempuan trendy dan gaul, tapi saat ini aku naksir berat pada perempuan alim berjilbab besar. What!?? Tentu itu kontradiktif dengan karakterku. Pemuda rokenrol jatuh cinta pada perempuan konservatif?! Aku salah opo rek?
Dia masih seperusahaan denganku, tapi lain divisi. Aku tidak mengenalnya secara langsung. Aku hanya tahu namanya dari temanku yang juga nggak kenal akrab dengannya. Dan itu yang membuatku galau, karena dengan begitu temanku gagal  diandalkan jadi Mak Comblang. Aku nggak pandai mendekati perempuan. Aku khan pemalu (ojok ngomong sopo-sopo).
Namanya April. Aprilia Dewi Pertiwi. Orangnya tenang, tutur katanya halus dan sopan, wajah rupawan tanpa polesan, murah senyum, tersenyum pada siapa pun yang baik padanya. Dan tampaknya semua orang baik padanya. Karena aura kebaikan selalu terpancar di wajahnya.
Aku melihat dia sebagai manusia. Aku nggak mau terdikotomi oleh aliran, sekte atau madzhab. Aku nggak perduli soal Salafi atau Wahabi. Aku jatuh hati pada kesantunannya, senyumnya, wajahnya yang unik, keanggunannya, kesederhanaannya, kecantikannya, caranya tersenyum saat berpapasan denganku.
Aku tidak sanggup mendekskripsikan kecantikannya. Kecantikan yang unik dan alami. Luar biasa indah. "Subhanalloh,"  kalau kata ibu-ibu pengajian zaman sekarang. Sungguh salah satu karya masterpiece dari Tuhan.
Dia sangat supel. Kukira perempuan Salafi  hanya mau berteman akrab dengan golongannya. Ternyata tidak juga Mblo. Mereka manusia seperti kita yang juga bisa mencintai dan butuh dicintai. Bedanya hanya di kostum dan atau teknis ibadah. Itu pun nggak beda-beda amat.
Aku nggak anti perbedaan. Justru karena perbedaanlah maka tercipta kehidupan yang harmoni. Lagian bedanya aku dan dia cuman beda madzhab. Kukira aku bisa menghadapinya. Aku seorang muslim, walau sama sekali tidak terlihat muslim. Karena agama tidak perlu diperlihat-lihatkan, bagiku yang penting itu bukan apa agamanya tapi apa manfaat yang diberikan pada orang lain.
Gila men, aku sedang tergila-gila pada seorang bidadari Salafi. Ingin rasanya aku tato lenganku dengan huruf A kapital di tengah lingkaran. Tapi tentu saja itu tidak kulakukan, bukan soal halal haram, aku nggak hobi mentato tubuh dan juga pasti orang akan salah paham, menuduhku sebagai penganut ideologi Anarkis.
Mulailah aku menyusun rencana pencarian informasi sebanyak-banyaknya soal dia. Siapa dia, lulusan mana, rumahnya dimana, suku bangsa apa, anake sopo, hobinya apa, pokoknya apa pun informasi yang menyangkut soal dia aku ingin ketahui. Bukan soal penting atau enggak, tapi keterikatan batin  akan semakin kuat jika mengetahui banyak soal kehidupan perempuan yang aku kagumi. Jangan tanya kenapa, aku nggak tahu.
Aku bingung darimana memulainya. Jarang perempuan salafi bermedsos. Mereka menjauhi medsos. Jika pun ada, propic-nya tanpa foto wajah asli. Mereka meyakini dengan memasang foto wajah di medsos itu akan memancing mata para lelaki untuk tidak menundukan pandangan. Duh dik, abot.
Tujuan bermedsos itu untuk mengenal dan dikenal orang banyak. Dan salah satu syarat untuk dikenal itu harus menunjukan foto. Ya'opo se rek. Aku sendiri tidak akan meng-confirm seseorang yang add aku tanpa ada foto wajah asli.
Menundukan pandangan itu bukan berarti tidak boleh memandang wajah lawan jenis. Nggak masalah memandang wajah (atau tubuh) perempuan atau lelaki, asal tidak ada muatan syahwat, asal hati bertapa. Jangan salah, walau pakai jilbab besar pun imajinasi lelaki bisa melayang liar kemana-mana jika memandangnya dengan muatan syahwat.
Jadi menurutku silakan saja memajang foto cantikmu di medsos (bukan foto yang sensual atau menggoda). Kalau ada seseorang di luar sana yang berimajinasi liar atau nafsu karena wajahmu, itu bukan salahmu. Semua tergantung dari niat di hatimu.
Semua yang ada pada perempuan adalah godaan bagi laki-laki. Nggak cuma foto profil, kamu ke kantor pakai baju bagus pun itu bisa membuat laki-laki tidak bisa menundukan pandangan. Wanita adalah salah satu godaan besar bagi lelaki di dunia.
Ah biarlah aku nggak memperpanjang soal ini, kalau kubahas panjang lebar nanti malah jadi tulisan opini, bukan cerpen.
*****
Aku memulainya di fesbuk. Medsos ini jadi pilihan pertama karena paling populer di antara medsos lain di dumay. Agak aneh juga kalau hari gini ada anak muda yang nggak punya akun fesbuk.
Aku ketik namanya lengkap dengan kota asal di kolom pencarian fesbuk. Seribu nama April tertera di sana. Swemproel , ternyata nama April sudah sangat pasaran di jagat raya ini.
Kadang aku merasa konyol melakukan ini. Aku mencari seseorang dengan referensi yang pas-pasan. Patokannya cuma nama lengkap, domisili tempat tinggal dan latar belakang pendidikan terakhir. Ah persetan, kalau ini membuat aku bahagia why not? Kenyataannya aku juga lagi nganggur total.  
Aku mulai cek satu persatu akun-akun yang bernama April. Aku skip yang propic-nya alay, memonyongkan mulut sok imut, dimanis-maniskan, sok kalem dan tidak berjilbab. Kusisakan hanya yang benar-benar cocok dengan kriteria kaum akhwat Salafi. You know lah.
Setelah melalui perjuangan panjang yang mengasyikan, aku mulai menemukan titik (sepertinya) terang.  Serasa menemukan harta karun Raja Sulaiman. Kebetulan akunnya disetting bisa dilihat publik. Aku bisa lihat foto-foto postingannya (tanpa satu pun foto dirinya), membaca status atau postinganya.
Aku yakin ini pasti April yang aku cari. Dari status curhatnya yang berbentuk puisi dia menyebut kondisi kantornya yang cocok dengan kondisi perusahaan tempat aku kerja. Absen finger print, tiap hari ngisi jurnal laporan kerja, dan banyak lagi. Ternyata salafi bisa berpuisi juga. Apalagi puisinya keren (untuk ukuran anak Salafi. Ngenyek).
Aku terus scroll ke bawah, dan berhenti pada satu postingan soal 'penyakit kasmaran' (al-'Isyq) yang membuatku galau. Intinya Perempuan salafi memang harus siap membunuh cinta yang tumbuh pada orang yang 'salah'. Mereka tidak main-main dalam urusan cinta antar lawan jenis. Mereka bener-bener perempuan yang pilih-pilih.  Harus yang pandai mengaji, ahli ibadah, berpenghasilan bagus, dan banyak lagi, yang jelas aku tidak masuk kriteria.
Bagi mereka bukti cinta adalah menikah. Tidak ada rayuan, tidak ada pacaran. Menikah atau tidak sama sekali.
Jadi kesimpulan sementara, aku nggak akan bisa memenangkan hatinya, tidak akan pernah jadi pilihan hatinya. Dan aku memang nggak pantas jadi pilihan. Nggak masalah, demi Tuhan aku tetap mencintainya.
Aku nggak perduli kalau ini akan jadi platonis lagi. Setidaknya dengan mencintainya, hidupku jadi lebih berwarna, aku jadi semangat datang ke kantor--->  untuk sekedar memandangnya dari jauh, merasakan kehadirannya, mendengar tawanya, melihat senyumnya.
Karena mencintainya, pori-pori  kreatifitasku terbuka, adrenalin semangatku tumbuh. Mungkin aku akan kecewa dan sakit pada akhirnya. Tapi aku akan pelihara rasa sakit itu. Karena akan berbuah karya yang indah, menjelma ilmu, menggugah kesadaran, melahirkan hikmah, menjadi revolusi diri.
Aku tidak akan pernah menyesal. Sebaliknya malah bersyukur. Aku telah mencintai orang yang 'benar'. Yang jauh dari potensi berbuat maksyiat. Apa pun rasa sakit yang aku rasakan karena mencintainya bagiku adalah kenikmatan yang menyamar.
Tapi tentu saja 'petualangan' ini belum klimaks. Aku masih terus mencari celah, walau semua pintu telah tertutup.  Aku sangat percaya bahwa jika kita mencintai karena Tuhan maka cinta akan selalu menemukan jalan.
(Bersambung)

-Robbi Gandamana-